SURGA DI TELAPAK KAKI IBU

Bilsyah Ifaq
Chapter #3

Sakit yang Tersembunyi

Lantai semen di dapur itu terasa lebih dingin dari biasanya, menusuk hingga ke tulang sendi Rahayu. Ia meremas pinggiran meja kayu yang sudah lapuk, mencoba mengatur napasnya yang mulai pendek dan berat. Pandangannya sempat mengabur sesaat, namun ia segera mengerjapkan mata, menolak untuk menyerah pada rasa pening yang menghantam kepalanya dengan tiba-tiba.

Tangannya yang gemetar meraih gelas plastik berisi air putih, lalu ia meminumnya perlahan agar tidak tersedak. Batuk kecil mulai muncul, kering dan menyakitkan di dada, tapi ia segera menutup mulutnya dengan kain lusuh agar suaranya tidak bergema keluar rumah. Ia tidak ingin tetangga mendengar, apalagi sampai ada kabar yang sampai ke telinga Bima atau Yuda di kota besar.

"Ibu tidak apa-apa, hanya butuh duduk sebentar," bisiknya pada diri sendiri, sebuah kebiasaan lama untuk menenangkan hatinya yang cemas. Ia mengusap dadanya pelan, merasakan detak jantung yang tidak beraturan sambil menatap kalender di dinding yang penuh coretan jadwal kerja anak-anaknya. Rahayu tahu betul betapa kerasnya mereka berjuang untuk mempertahankan posisi mereka yang terhormat sekarang.

Ponsel jadul di atas meja bergetar pelan, menampilkan nama Anita di layarnya, namun Rahayu hanya menatap benda itu tanpa niat untuk mengangkatnya. Ia tahu Anita pasti akan bicara cepat tentang rapat dewan direksi atau jadwal terbangnya yang padat ke luar negeri minggu depan. Mengangkat telepon hanya akan membuat suaranya yang parau terungkap, dan itu adalah hal terakhir yang ia inginkan.

Ia tidak mau menjadi beban atau kerikil di sepatu mengkilap anak-anaknya yang sedang mendaki puncak kesuksesan. Baginya, mendengar kabar bahwa mereka makan dengan baik dan tidur di kasur yang empuk sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa sakitnya. Rahayu selalu punya prinsip bahwa seorang ibu adalah akar yang tetap tertanam di bawah, membiarkan dahan-dahannya tumbuh menjulang menyentuh langit.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia berdiri dan menyeret langkahnya menuju kamar tidur sambil berpegangan pada dinding rumah yang mulai retak. Setiap langkah terasa seperti mendaki gunung yang terjal, namun wajah keempat anaknya yang tersenyum di dalam bingkai foto ruang tamu memberinya kekuatan tambahan. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum getir yang menyembunyikan ribuan jarum rasa sakit di dalam tubuh tuanya.

Malam itu, Rahayu merebahkan tubuhnya yang ringkih di atas ranjang tanpa menyalakan lampu, membiarkan kegelapan menyelimuti kesendiriannya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, berdoa dalam hati agar esok pagi ia masih diberikan kekuatan untuk sekadar menyapu halaman rumah. Di tengah sunyi, ia hanya berharap agar anak-anaknya tidak perlu melihat betapa rapuh tiang penyangga doa yang selama ini menguatkan hidup mereka.

Gelas plastik berisi air hangat itu bergetar hebat di genggaman Rahayu, memantulkan riak kecil yang seirama dengan detak jantungnya yang tidak beraturan. Ia menekan telapak tangan kirinya ke dada, mencoba meredam rasa sesak yang seolah menghimpit paru-parunya setiap kali batuk kering itu datang menyerang tanpa ampun. Suasana kamar yang remang hanya menyisakan suara napasnya yang berat dan tersengal, menciptakan simfoni kesunyian yang mencekam di tengah malam yang dingin.

Pandangan matanya yang mulai kabur tertuju pada deretan bingkai foto di dinding kayu yang mulai lapuk, menampilkan wajah-wajah yang kini terasa begitu jauh. Ada Bima dengan toga sarjananya, Yuda yang gagah mengenakan seragam kantor, Anita yang tersenyum manis dengan tas bermerek, dan si bungsu Fita yang tampak anggun di atas panggung penghargaan. Foto-foto itu adalah satu-satunya harta yang membuat Rahayu merasa tetap hidup, meski tubuhnya kini sering kali menolak untuk diajak berkompromi.

Ia menyeka sudut bibirnya dengan ujung daster batik yang warnanya sudah memudar menjadi abu-abu kusam, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan untuk menyembunyikan rasa sakit. Rahayu memaksakan sebuah senyum tipis saat menatap mata Bima di dalam foto, seolah putra sulungnya itu sedang berdiri di hadapannya memberikan semangat. "Ibu tidak apa-apa, Nak. Hanya butuh istirahat sebentar saja, nanti juga membaik," bisiknya pelan, meski suaranya hampir hilang tertelan kesunyian kamar.

Tiba-tiba, ponsel tua di atas nakas bergetar pelan, memecah keheningan dengan nada dering yang sudah jarang terdengar. Rahayu dengan susah payah meraih benda itu, berharap salah satu dari mereka menelepon untuk sekadar menanyakan kabar atau mendengar suaranya yang parau. Namun, layar itu hanya menampilkan notifikasi pesan singkat dari operator seluler, sebuah kekecewaan kecil yang sudah biasa ia telan bulat-bulat demi menjaga harapan tetap menyala.

Ia meletakkan kembali ponselnya dengan gerakan perlahan, takut jika gerakan tiba-tiba akan memicu serangan batuk yang lebih hebat lagi. Pikirannya melayang pada masa lalu, saat ia harus mencuci baju tetangga hingga larut malam demi membelikan buku sekolah untuk keempat anaknya tanpa mengeluh sedikit pun. Baginya, rasa lelah adalah teman lama yang tidak perlu diperkenalkan pada anak-anaknya, karena ia ingin mereka tumbuh tanpa beban hutang budi yang memberatkan langkah kaki.

"Jangan sampai mereka tahu kalau Ibu sakit, mereka sedang berjuang keras untuk karier mereka di kota besar," gumamnya sambil membetulkan letak selimut tipisnya yang sudah banyak lubang. Ia membayangkan Bima yang mungkin sedang memimpin rapat penting, atau Anita yang sedang menghadiri jamuan makan malam mewah bersama rekan-rekan bisnisnya yang terpandang. Baginya, kesuksesan mereka adalah obat yang jauh lebih manjur daripada ramuan herbal yang biasa ia minum setiap pagi sebelum matahari terbit.

Rahayu mencoba memejamkan mata, namun rasa perih di dadanya justru semakin menjadi, seolah ada ribuan jarum kecil yang menusuk-nusuk dari dalam. Ia teringat janji Yuda setahun lalu yang katanya ingin mengajaknya berlibur ke Bali jika proyek besarnya tembus, sebuah janji yang terkubur oleh alasan kesibukan yang tak kunjung usai. Namun, Rahayu tidak pernah menyimpan dendam, ia justru selalu menyelipkan nama mereka dalam setiap sujud terakhirnya di atas sajadah usang yang baunya sudah bercampur dengan aroma minyak kayu putih.

Keheningan malam itu terusik oleh suara langkah kaki di luar rumah, namun Rahayu tahu itu hanyalah kucing liar yang sedang mencari makan di tumpukan sampah samping dapur. Harapan bahwa salah satu anaknya akan mengetuk pintu secara tiba-tiba adalah mimpi indah yang selalu ia pelihara setiap malam sebelum jatuh terlelap dalam kelelahan. Ia tidak butuh uang kiriman yang rutin masuk ke rekeningnya, ia hanya butuh kehadiran fisik yang bisa memeluk tubuh rentanya yang kini mulai menyusut dimakan usia.

Mungkin mereka memang terlalu sibuk, dunia mereka sekarang sudah sangat luas dan penuh dengan hal-hal hebat yang tidak bisa kupahami.

Ia menarik napas panjang yang terasa sangat berat, membiarkan udara dingin masuk memenuhi rongga dadanya yang terasa panas membara. Rahayu memandangi tangannya yang kasar dan penuh kerutan, sisa-sisa perjuangan masa lalu yang kini menjadi saksi bisu betapa kerasnya ia menempa nasib keempat anaknya. Tidak ada setetes pun air mata yang jatuh, karena ia telah menghabiskan seluruh air matanya saat memohon pada Tuhan agar anak-anaknya tidak pernah merasakan kemelaratan yang ia alami.

Di sudut ruangan, lampu bohlam lima watt mulai berkedip-kedip, menandakan usianya yang sudah hampir habis, sama seperti kondisi fisik Rahayu yang semakin menurun drastis. Ia mencoba bangun untuk mengambil minyak kayu putih di atas meja, namun kakinya terasa lemas dan tidak bertenaga, seolah tulang-tulangnya telah berubah menjadi kapas. Dengan sisa kekuatan yang ada, ia kembali bersandar pada tumpukan bantal yang sudah rata, mencoba mengatur ritme napasnya yang semakin pendek dan tidak beraturan.

Pagi harinya, sebuah pesan masuk dari Fita muncul di layar ponsel Rahayu yang tergeletak di lantai, berisi permohonan maaf karena tidak bisa pulang saat hari raya nanti. Fita menuliskan bahwa ia baru saja mendapatkan promosi jabatan yang menuntutnya untuk tetap berada di kantor selama libur panjang demi mengamankan bonus tahunan. Rahayu yang baru saja terbangun dengan tubuh menggigil hanya bisa menatap pesan itu dengan pandangan kosong, sebelum akhirnya mengetik balasan dengan jari yang gemetar hebat.

Lihat selengkapnya