Aroma minyak kayu putih yang menyengat memenuhi kamar kecil itu, namun tak mampu menutupi bau apek dari kasur tipis yang sudah lama tidak dijemur. Rahayu terbatuk kecil, tangannya yang gemetar meraba pinggiran dipan kayu, mencoba mencari gelas air yang sebenarnya kosong sejak tadi pagi. Matanya yang mulai kabur menatap kalender usang di dinding, menandai hari demi hari yang berlalu tanpa ketukan pintu dari keempat anaknya.
Bima duduk di kursi kerjanya yang mewah, memutar-mutar pena mahal sambil menatap layar ponsel yang menampilkan pesan dari grup keluarga. "Aku benar-benar tidak bisa bulan ini, proyek di Surabaya sedang kritis," ketiknya dengan cepat tanpa beban sedikit pun. Ia merasa sudah cukup berbakti hanya dengan mengirimkan uang bulanan yang jumlahnya tidak seberapa dibandingkan biaya gaya hidupnya sendiri.
"Mas Bima kan anak tertua, harusnya Ibu tinggal di sana saja," balas Yuda dalam pesan singkat yang penuh nada menghindar. Ia baru saja membeli mobil baru dan merasa rumahnya yang minimalis akan terasa sangat sempit jika harus menampung orang tua yang sakit-sakitan. Baginya, kehadiran Rahayu hanya akan mengganggu rutinitas pagi keluarganya yang sudah tertata rapi dan tenang.
Anita tidak mau kalah dalam memberikan alasan, jemarinya lincah mengetik sambil menunggu antrean di salon kecantikan langganannya. "Anak-anakku sedang ujian, aku tidak mungkin mengurus Ibu sambil mengawasi mereka belajar," tulisnya dengan emotikon sedih yang terasa sangat palsu. Ia lebih memilih menghabiskan waktu berjam-jam untuk perawatan diri daripada harus mengganti kompres atau menyuapi ibunya yang kini mulai pikun.
Fita, si bungsu yang selalu merasa paling sibuk dengan urusan sosialnya, hanya membaca semua perdebatan itu tanpa niat untuk menengahi atau menawarkan bantuan. "Aku masih junior di kantor, tidak mungkin ambil cuti sekarang," gumamnya pelan sambil mengabaikan panggilan telepon dari tetangga ibunya di kampung. Mereka semua terjebak dalam ego masing-masing, menganggap ibu mereka sebagai beban yang harus digilir layaknya barang inventaris.
Di sudut kamar yang lembap, Rahayu akhirnya berhasil meraih gelasnya, namun benda itu tergelincir dari jemarinya yang lemah hingga pecah berantakan di lantai semen. Ia tidak menangis, hanya menghela napas panjang sambil memandangi pecahan kaca yang memantulkan cahaya redup dari lampu neon yang berkedip-kedip. Dalam diamnya, ia teringat bagaimana dulu ia menyuapi empat mulut kecil dengan satu piring nasi yang dibagi rata tanpa pernah mengeluh.
Suasana senja itu terasa semakin dingin ketika Rahayu mencoba bangkit untuk membersihkan pecahan kaca, namun kakinya justru kehilangan kekuatan dan ia jatuh terduduk. Ponsel usang di atas meja kayu terus bergetar, menampilkan notifikasi grup keluarga yang masih panas dengan perdebatan tentang siapa yang paling tidak bersalah jika mereka tidak datang minggu ini. Rahayu hanya bisa memejamkan mata, membiarkan kegelapan perlahan menyelimuti kesadarannya yang mulai menipis di tengah kesunyian rumah tua itu.
Layar ponsel di atas meja jati itu menyala berulang kali, memantulkan cahaya biru yang kontras dengan temaram lampu ruang kerja Bima yang mewah. Sebuah notifikasi dari grup WhatsApp keluarga muncul dengan tanda seru merah, dikirimkan oleh Pak RT dari kampung halaman mereka. Kabar itu singkat namun menghunjam: Rahayu ditemukan pingsan di sela-sela tumpukan sayur pasar tradisional, dengan napas yang tersenggal dan wajah sepucat kain kafan.
Bima menghentikan gerakan jemarinya di atas papan tik laptop, lalu mengembuskan napas panjang sembari memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Ia tidak segera menelepon, melainkan hanya mengetikkan balasan singkat dengan nada yang sangat formal seolah sedang membalas surel klien. "Saya masih di Singapura untuk penandatanganan kontrak proyek reklamasi, jadwal sangat padat hingga akhir pekan," tulisnya tanpa ada tanda tanya mengenai kondisi ibunya.
Jempol Bima bergerak cepat menggeser layar, mengalihkan tanggung jawab itu kepada adik laki-lakinya yang ia anggap lebih punya waktu luang. "Yuda, kamu yang paling dekat lokasinya, tolong urus Ibu dulu ke rumah sakit, nanti biayanya saya transfer lewat asisten," tambahnya sebelum meletakkan ponsel itu kembali dengan layar menghadap ke bawah. Baginya, kiriman uang adalah solusi paling mutakhir yang bisa ia berikan sebagai anak tertua yang sukses.
Di belahan kota lain, Yuda yang baru saja menyesap kopi hitamnya langsung mengerutkan kening saat membaca rentetan pesan dari kakaknya tersebut. Ia merasa disudutkan, apalagi di kantornya sedang berlangsung audit tahunan yang mempertaruhkan posisinya sebagai manajer keuangan. Yuda mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja dengan ritme cepat, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa terdesak oleh urusan domestik yang dianggapnya mengganggu.
"Mas Bima, audit ini masalah hidup dan mati buat karierku, tidak bisa ditinggal sedetik pun," balas Yuda dengan diksi yang tajam dan defensif. Ia tidak mau dianggap sebagai satu-satunya orang yang harus berkorban waktu hanya karena ia tinggal di kota yang sama dengan ibunya. Baginya, pembagian tugas dalam keluarga haruslah adil, dan ia merasa sudah cukup terbebani dengan urusan cicilan rumah mewahnya yang baru saja lunas.
Yuda kemudian melemparkan bola panas itu kepada Anita, adik perempuannya, dengan alasan gender yang sangat klise dan tidak berperasaan. "Anita, kamu kan perempuan, biasanya lebih telaten mengurus orang sakit dan paham soal rumah sakit," tulis Yuda di grup yang kini terasa makin panas. Ia merasa bahwa urusan perawatan orang tua adalah ranah domestik yang seharusnya menjadi keahlian saudara perempuannya dibandingkan dirinya yang sibuk bekerja.
Anita yang sedang duduk di lobi sekolah internasional anaknya langsung mendengus kesal saat membaca pesan dari kedua kakak laki-lakinya itu. Ia merasa selalu dijadikan tumpuan terakhir untuk urusan-urusan yang dianggap merepotkan oleh Bima dan Yuda, sementara mereka jarang menghargai waktunya. Tangannya yang dipenuhi perhiasan emas berkilau gemetar saat ia mulai mengetikkan pembelaan diri yang panjang lebar di layar ponselnya.
Aku bukan pengangguran yang bisa disuruh-suruh kapan saja hanya karena aku tidak punya kantor formal seperti kalian.
"Anakku sedang tes masuk sekolah unggulan hari ini, aku tidak mungkin meninggalkan dia sendirian di sini," tulis Anita dengan nada bicara yang meninggi meski hanya lewat teks. Ia merasa pendaftaran sekolah anaknya adalah prioritas utama demi masa depan keluarga kecilnya, melebihi kondisi Rahayu yang saat itu sedang terbaring lemah di puskesmas desa. Baginya, ibu adalah masa lalu yang sudah selesai, sementara anaknya adalah masa depan yang harus diperjuangkan.
Fita, si bungsu yang selama ini paling diam, hanya membaca pesan-pesan itu dari balik meja kerjanya yang berantakan dengan berkas pemasaran. Ia ingin sekali bersuara, namun ia tahu bahwa posisinya sebagai anak bungsu sering kali dianggap angin lalu oleh ketiga kakaknya yang merasa lebih berkuasa. Fita hanya bisa menatap layar dengan nanar, melihat bagaimana saudara-saudaranya saling melempar kewajiban seolah ibu mereka adalah beban yang tidak diinginkan.
Pesan-pesan itu terus berputar di dalam grup keluarga, berisi ribuan alasan logis namun hampa akan empati dan kasih sayang yang tulus. Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya apakah Rahayu sudah sadar atau apakah beliau membutuhkan pakaian ganti di rumah sakit. Percakapan itu lebih mirip dengan rapat koordinasi perusahaan yang dingin, di mana setiap orang berusaha meminimalisir kerugian pribadi tanpa memedulikan nilai kemanusiaan.
Pak RT yang memantau grup tersebut hanya bisa mengelus dada melihat bagaimana anak-anak yang dulu dibesarkan dengan tetesan keringat Rahayu kini berubah menjadi orang asing. Ia melihat Rahayu yang mulai membuka mata di bangsal puskesmas yang pengap, menanyakan keberadaan anak-anaknya dengan suara yang nyaris tidak terdengar. Rahayu masih sempat tersenyum tipis, mengira bahwa kesibukan anak-anaknya adalah tanda bahwa mereka telah menjadi orang yang sangat berguna.
Ketegangan memuncak ketika Bima tiba-tiba mengirimkan tangkapan layar jadwal penerbangannya yang tertunda, seolah ingin menegaskan bahwa alam pun tidak mendukungnya untuk pulang. "Lihat, cuaca buruk, memang bukan jalannya aku harus pulang sekarang," tulisnya dengan nada yang seolah-olah mencari pembenaran atas ketidakhadirannya. Pengkhianatan terhadap kasih sayang ibu ini mencapai titik nadir saat mereka mulai memperdebatkan siapa yang harus membayar tagihan ambulans.
Namun, sebuah fakta pahit yang selama ini disembunyikan Rahayu akhirnya terungkap lewat pesan pribadi Pak RT kepada Fita yang kemudian diteruskan ke grup. Rahayu ternyata sudah didiagnosis menderita kanker stadium lanjut sejak setahun lalu, namun ia melarang Pak RT memberi tahu anak-anaknya agar tidak mengganggu fokus kerja mereka. Keheningan tiba-tiba menyergap grup keluarga itu, menyisakan penyesalan yang mulai merambat pelan di hati mereka yang sudah mengeras.
Seketika itu juga, pemandangan di grup berubah menjadi kepanikan yang terlambat, namun kerusakan emosional sudah terlanjur terjadi secara permanen di antara mereka. Bima terdiam di kursinya, Yuda menjatuhkan pulpennya, dan Anita menunduk lesu di kursi tunggu sekolah, menyadari bahwa kesuksesan mereka hanyalah istana pasir yang rapuh. Mereka baru menyadari bahwa selama ini mereka telah menukar surga yang ada di telapak kaki ibu dengan tumpukan harta yang sama sekali tidak bisa memeluk mereka saat kesepian melanda.
Suara mesin mobil mewah milik Bima menderu pelan di halaman rumah kayu yang mulai lapuk itu, memecah kesunyian desa yang biasanya hanya diisi oleh suara jangkrik. Bima turun dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya, sementara Yuda mengekor di belakang sambil sibuk mengelap keringat dengan sapu tangan sutra. Mereka berdua berdiri di teras, memandangi dinding rumah yang catnya sudah mengelupas di sana-sini, seolah-olah tempat itu adalah wilayah asing yang harus segera mereka tinggalkan demi kenyamanan hidup di kota besar.
"Kita tidak bisa terus-menerus bolak-balik ke sini, pekerjaanku di kantor sedang menumpuk," ujar Bima sambil mengetuk-ngetukkan jari di jam tangan emasnya, sebuah kebiasaan saat ia merasa waktunya terbuang sia-sia. Yuda mengangguk setuju, matanya tidak lepas dari layar ponsel yang terus bergetar menampilkan notifikasi saham yang sedang bergejolak. Bagi mereka, kehadiran fisik di rumah masa kecil ini bukan lagi bentuk bakti, melainkan beban logistik yang harus segera dicarikan solusi praktisnya agar tidak mengganggu ritme kesuksesan yang telah mereka bangun.