Rahayu duduk di kursi kayu tua yang sudah mulai rapuh dimakan usia, jemarinya yang gemetar terus memilin pinggiran taplak meja. Kabar buruk pertama datang lewat telepon singkat dari Jakarta yang mengabarkan bahwa Bima, putra sulungnya yang sombong, baru saja dipecat secara tidak hormat. Seluruh aset perusahaan yang ia banggakan disita karena skandal penggelapan dana yang dilakukan oleh rekan kepercayaannya sendiri.
"Ibu tidak perlu tahu urusanku, yang penting uang bulanan sampai," kata Bima setahun lalu saat Rahayu memintanya pulang sebentar. Kini, suara lantang itu hilang berganti isak tangis di ujung telepon, namun Rahayu hanya bisa menghela napas panjang sambil mengusap dadanya yang sesak. Ia tahu, ini hanyalah awal dari runtuhnya menara gading yang dibangun anak-anaknya di atas sikap durhaka.
Tak berselang lama, Yuda menelepon dengan nada suara yang hancur berkeping-keping karena bisnis restorannya ludes terbakar dalam semalam tanpa sisa asuransi. Anak kedua yang selalu merasa paling cerdas itu kini harus menghadapi tuntutan utang yang menumpuk dari para pemasok bahan baku. Yuda yang dulu selalu beralasan terlalu sibuk untuk sekadar menjenguk ibunya di desa, kini benar-benar kehilangan segala kesibukannya.
Kekacauan tidak berhenti di situ karena Anita, putri ketiga yang menikah dengan pengusaha kaya, mendapati dirinya diusir dari rumah tanpa membawa harta sepeser pun. Suaminya ketahuan berselingkuh dan telah memindahkan semua aset atas nama orang lain, meninggalkan Anita dalam kemiskinan instan yang memalukan. Anita yang dulu sering mencemooh kesederhanaan rumah ibunya, kini berdiri di trotoar jalanan ibu kota dengan koper kecil di tangannya.
Terakhir, si bungsu Fita yang baru saja merintis karier sebagai model ternama, mengalami kecelakaan tragis yang membuat wajah serta kakinya mengalami luka permanen. Karier yang ia puja melebihi baktinya kepada sang ibu hancur dalam hitungan detik di jalan raya yang dingin. Fita hanya bisa meratapi nasibnya di bangsal rumah sakit yang sepi, menyadari bahwa tak ada satu pun teman glamornya yang datang menjenguk.
Satu per satu anak Rahayu mengalami musibah besar dalam hidup dan karier mereka, seolah semesta sedang menagih janji atas air mata yang pernah tumpah. Mereka yang dulu merasa tidak membutuhkan doa seorang ibu, kini merangkak dalam kehancuran yang tak terbayangkan sebelumnya. Di ruang tamu yang sunyi, Rahayu hanya terdiam menatap foto keempat anaknya sambil terus memanjat doa agar mereka segera menemukan jalan pulang.
Penyesalan itu datang terlambat saat mereka menyadari bahwa segala kejayaan duniawi hanyalah titipan yang bisa diambil kapan saja tanpa peringatan. Mereka tersungkur dalam kehampaan, mulai merasakan betapa dinginnya dunia tanpa perlindungan doa tulus dari sosok yang mereka abaikan selama bertahun-tahun. Kini, hanya ada satu tempat yang tersisa untuk mereka tuju demi membasuh luka dan mencari pengampunan yang tulus.
Suara sirine mobil petugas hukum masih terngiang di telinga Bima, berdenging seperti ribuan lebah yang menyerang kepalanya tanpa ampun. Ia berdiri kaku di balik jendela besar rumahnya, menyaksikan garis polisi berwarna kuning terang melintang di depan gerbang besi yang biasanya dijaga ketat oleh petugas keamanan pribadi. Kini, tidak ada lagi salam hormat atau sapaan penjilat yang menyambut kepulangannya, hanya kesunyian mencekam yang merayap dari sudut-sudut ruangan mewah yang kini terasa sangat asing.
Tumpukan dokumen di atas meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati pilihan kini menjadi bukti bisu atas kecerobohan yang ia lakukan demi mengejar angka-angka di rekening bank. Rekan kerjanya di kementerian, yang dulu sering mengajaknya bermain golf setiap akhir pekan, adalah orang pertama yang menyerahkan bukti keterlibatan Bima untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Pengkhianatan itu datang begitu cepat, menghantam telak harga dirinya yang selama ini ia bangun dengan fondasi kesombongan dan pengabaian terhadap nilai kejujuran.
"Mas, ini benar-benar sudah habis," bisik istrinya dengan suara bergetar, sambil memegang surat penyitaan aset yang baru saja mereka terima sore tadi. Bima tidak menjawab, jemarinya hanya bergerak gelisah memutar-mutar cincin emas di jari manisnya, sebuah kebiasaan yang muncul setiap kali ia merasa terpojok oleh keadaan. Ia menatap ke arah taman belakang yang gelap, menyadari bahwa lampu-lampu hias yang biasanya menerangi kolam renang kini padam karena ia bahkan lupa membayar tagihan listrik yang membengkak.
Ponsel pintarnya yang biasanya tidak pernah berhenti berdering kini membisu total, seolah seluruh dunia telah sepakat untuk menghapus namanya dari daftar kontak mereka secara serentak. Orang-orang yang dulu memujinya setinggi langit dalam setiap pertemuan formal kini mendadak amnesia, tidak ada satupun pesan singkat yang menanyakan kabarnya atau menawarkan bantuan hukum. Ia merasa seperti pengidap penyakit menular yang harus dijauhi sejauh mungkin agar tidak merusak reputasi bersih yang mereka pamerkan di depan publik.
Bima melangkah gontai menuju dapur, mencari segelas air untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering dan perih akibat terlalu banyak merokok sejak pagi tadi. Ia teringat pada Rahayu, ibunya yang tinggal di desa, yang selama bertahun-tahun ia abaikan panggilannya hanya karena ia merasa terlalu sibuk mengurusi urusan negara yang ternyata palsu. Rasa bersalah mulai merayap di dadanya, lebih tajam daripada rasa takut akan jeruji besi yang mungkin akan menjadi rumah barunya dalam waktu dekat.
Dalam remang cahaya ruang tamu, ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia benar-benar berbicara dengan tulus kepada adik-adiknya tanpa memamerkan kekayaannya yang kini menguap. Yuda, Anita, dan Fita pasti sudah mendengar berita kejatuhannya dari televisi, namun tidak ada satupun dari mereka yang datang mengetuk pintu rumahnya untuk sekadar memberi pelukan. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah membangun tembok yang terlalu tinggi dengan tumpukan uang, sehingga saat tembok itu runtuh, ia tertimbun sendirian di bawah reruntuhannya.
Ketukan keras di pintu depan mengejutkannya, membuat jantungnya berdegup kencang karena ia mengira petugas akan membawanya malam ini juga untuk pemeriksaan lanjutan yang melelahkan. Namun, saat ia mengintip melalui celah gorden, ia hanya melihat seorang kurir yang mengantarkan surat dari bank, sebuah peringatan terakhir sebelum rumah ini dikosongkan secara paksa. Kekuasaan yang ia agungkan sebagai pelindung abadi ternyata hanyalah fatamorgana yang hilang saat matahari kemasyhuran mulai tenggelam di ufuk barat kehidupan.
Ia duduk di lantai marmer yang dingin, membiarkan kegelapan menyelimuti seluruh tubuhnya sementara air mata yang sejak tadi ia tahan mulai jatuh membasahi pipinya yang kasar. Pikirannya melayang pada kenangan masa kecil di desa, saat ia hanya memiliki sepasang sepatu rusak namun hatinya merasa sangat kaya karena kasih sayang ibunya yang tak terbatas. Kini, di tengah kemewahan yang sedang dipreteli satu per satu, ia merasa menjadi orang paling miskin di muka bumi karena tidak memiliki tempat untuk pulang.
Sebuah memori tiba-tiba muncul di benaknya, tentang bagaimana ibunya selalu berkata bahwa kejujuran adalah satu-satunya harta yang tidak bisa disita oleh siapapun, termasuk oleh negara. Bima tertawa getir, suara tawa yang lebih mirip dengan rintihan kesakitan, menyadari betapa bodohnya ia mengabaikan nasihat sederhana itu demi mengejar jabatan yang bisa hilang dalam semalam. Penyesalan itu datang terlambat, seperti hujan yang turun di atas tanah yang sudah hancur diterjang banjir bandang, tidak lagi memberi kehidupan melainkan menambah kerusakan.
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk di ponselnya yang lama tidak ia sentuh, bukan dari rekan kerja atau atasan, melainkan dari nomor yang sangat ia kenal namun jarang ia hubungi. Pesan itu hanya berisi beberapa kata singkat: "Bima, kalau lelah, pulanglah ke rumah Ibu, pintu selalu terbuka untukmu," yang membuat pertahanannya hancur seketika. Ia terisak di tengah ruangan yang sunyi, menyadari bahwa di saat dunia membuangnya seperti sampah, hanya cinta ibunya yang tetap berdiri tegak tanpa menuntut penjelasan apapun.
Namun, sebuah kenyataan pahit baru saja ia temukan di balik laci meja kerjanya; sebuah dokumen yang menunjukkan bahwa selama ini ia telah menipu keluarganya sendiri untuk mendapatkan saham pribadi. Rekan-rekannya bukan hanya mengkhianatinya, tetapi mereka telah menjebaknya untuk menandatangani surat pengalihan aset rumah ibunya di desa sebagai jaminan utang perusahaan yang fiktif. Jantung Bima seolah berhenti berdetak saat menyadari bahwa keserakahannya bukan hanya menghancurkan dirinya, tetapi juga akan menyeret ibu dan saudara-saudaranya ke dalam jurang kemiskinan.
Keheningan malam itu pecah oleh suara gemuruh guntur di kejauhan, seolah alam semesta sedang menertawakan kehancuran total yang ia ciptakan dengan tangannya sendiri yang penuh noda. Ia harus segera bertindak, namun kakinya terasa sangat berat untuk melangkah keluar dari rumah yang sebentar lagi bukan lagi miliknya, sementara rasa malu mencekik lehernya. Bima menyadari bahwa perjalanan penebusan dosanya akan jauh lebih sulit dan menyakitkan daripada proses penyelidikan hukum yang sedang ia hadapi saat ini.
Ia meraih kunci mobil yang masih tersisa di atas meja, berniat untuk pergi ke desa malam itu juga sebelum semua aksesnya benar-benar ditutup secara permanen oleh pihak berwenang. Namun, saat ia membuka pintu depan, ia melihat sesosok bayangan berdiri di bawah lampu jalan yang temaram, memegang sebuah tas tua yang sangat ia kenali dari masa lalunya.
Itu adalah ibunya, Rahayu, yang datang bukan untuk menghakiminya, melainkan untuk menyaksikan secara langsung bagaimana putra kebanggaannya hancur berkeping-keping di depan matanya sendiri. Rahayu hanya menatapnya dengan tatapan kosong, lalu perlahan menjatuhkan sebuah kunci tua ke atas aspal yang basah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Langit Jakarta sore itu tampak sehitam legam, seolah-olah awan sengaja menumpuk untuk menertawakan nasib Yuda yang sedang berada di ujung tanduk. Di dalam ruang kerjanya yang luas dan dingin, Yuda hanya bisa menatap tumpukan dokumen legal yang baru saja dikirimkan oleh pengacaranya melalui kurir kilat. Huruf-huruf di atas kertas putih itu tampak menari-nari mengejek, mengonfirmasi bahwa seluruh dana yang ia tanamkan pada proyek apartemen mewah di pesisir utara telah lenyap tak berbekas dibawa lari oleh pengembang fiktif.
Tangannya yang gemetar meraih gelas kristal berisi air putih, namun denting kaca yang beradu dengan meja marmer justru terdengar seperti lonceng kematian bagi martabatnya. Setiap sen tabungan yang ia kumpulkan dengan mengabaikan permintaan ibunya untuk pulang ke desa, kini menguap begitu saja dalam skema penipuan yang sangat rapi. Ia menarik napas panjang, mencoba mencari sisa-sisa ketenangan yang biasanya ia miliki saat menghadapi rapat direksi, namun yang ia temukan hanyalah kekosongan yang menyesakkan dada dan keringat dingin yang membasahi kemeja mahalnya.
"Yuda, ini apa lagi?" suara melengking Siska, istrinya, memecah keheningan ruangan saat wanita itu menghambur masuk sambil mengacungkan ponsel pintarnya ke arah wajah Yuda. Layar ponsel itu menampilkan pesan singkat dari pihak bank mengenai keterlambatan pembayaran cicilan kartu kredit mereka yang sudah mencapai angka ratusan juta rupiah. Siska tidak lagi terlihat seperti sosialita yang anggun; riasannya sedikit luntur dan matanya menyala dengan kemarahan yang tidak bisa disembunyikan oleh botoks sekalipun.
"Aku sedang mencoba membereskannya, Sis. Tolong beri aku waktu sebentar saja untuk berpikir," jawab Yuda dengan nada suara yang parau dan ritme bicara yang patah-patah, jauh dari kesan tegas yang biasa ia tunjukkan. Ia memijat pangkal hidungnya, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia merasa terpojok oleh keadaan yang tidak bisa ia kendalikan sepenuhnya. Namun, Siska tampaknya tidak peduli dengan beban mental yang sedang dipikul suaminya karena ia merasa gaya hidupnya terancam.