Angin sore berhembus kencang di pelataran rumah mewah milik Bima yang kini disita bank. Kursi kayu di teras terlihat berdebu, sama seperti raut wajah keempat bersaudara yang duduk melingkar dengan tatapan kosong ke arah aspal jalanan. Semua aset telah habis, menyisakan tumpukan surat peringatan dan rasa malu yang mencekik leher mereka di tengah keramaian kota besar.
Bima berulang kali mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke lutut, sebuah kebiasaan lama jika ia sedang terdesak oleh egonya sendiri. Ia menatap Yuda, Anita, dan Fita secara bergantian dengan mata merah yang kurang tidur. "Kita tidak punya pilihan lagi, semuanya sudah ludes," gumam Bima dengan suara serak yang nyaris tidak terdengar oleh adik-adiknya sendiri di sana.
Yuda hanya bisa menunduk sambil meremas ujung kemeja mahalnya yang kini mulai tampak kusut dan kusam. "Dulu kita bilang rumah Ibu terlalu kecil untuk kunjungan singkat sekalipun, sekarang malah tempat itu yang jadi satu-satunya atap tersisa," sahut Yuda dengan nada pahit. Ia menyesali setiap alasan pekerjaan yang dulu ia gunakan untuk menolak panggilan telepon dari desa.
Anita mulai sesenggukan, ia menghapus air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan, mengabaikan riasan wajahnya yang luntur. "Ibu pasti kecewa melihat kita seperti ini, kita hanya datang saat kita hancur lebur tanpa membawa apa-apa," bisiknya pelan. Ia teringat bagaimana ia sering memutus sambungan telepon saat ibunya hanya ingin mendengar suara anak perempuannya itu.
Fita, si bungsu yang biasanya paling ceria, kini hanya diam mematung sambil memeluk tas kecil berisi sisa pakaiannya yang bisa diselamatkan. "Ibu selalu bilang pintu rumahnya tidak pernah dikunci bagi kita, tapi kita yang mengunci hati kita sendiri selama ini," katanya singkat. Ia merasa sangat berdosa karena selama bertahun-tahun ia lebih memilih liburan mewah daripada pulang ke kampung.
Bima berdiri perlahan, membetulkan letak kerahnya yang sudah tidak kaku lagi, lalu mengambil kunci mobil tua yang dipinjamnya dari seorang kawan lama. "Siapkan barang kalian, kita berangkat ke desa sekarang juga sebelum malam semakin larut menyelimuti jalanan," perintahnya dengan tegas namun ada getaran keraguan yang terselip dalam setiap kata yang ia ucapkan.
Mereka melangkah menuju mobil dengan beban penyesalan yang jauh lebih berat daripada koper-koper yang mereka jinjing di tangan masing-masing. Di sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan yang menyesakkan, sementara bayangan wajah lembut Rahayu terus berputar di benak mereka. Mereka sadar bahwa perjalanan pulang kali ini adalah awal dari sebuah penebusan dosa yang sangat panjang kepada ibu mereka.
Deru mesin mobil tua milik Yuda terdengar kasar saat mendaki tanjakan berbatu yang menuju ke arah desa. Di dalam kabin yang sempit dan pengap itu, udara terasa begitu berat oleh beban penyesalan yang tak terucapkan. Tidak ada lagi aroma parfum mahal atau suara denting ponsel yang sibuk mengurus bisnis bernilai miliaran rupiah seperti biasanya.
Bima duduk di kursi depan sambil terus memutar-mutar kunci mobil yang permukaannya sudah lecet, sebuah kebiasaan lama yang muncul setiap kali ia merasa terdesak. Tatapannya kosong, terpaku pada aspal retak di depan mereka yang perlahan mulai tertutup lumut hijau. Ia tidak berani menoleh ke arah adik-adiknya yang hanya terdiam membisu di kursi belakang.
"AC mobil ini sudah mati sejak dua tahun lalu, maaf kalau panas," ucap Yuda datar tanpa mengalihkan pandangan dari kemudi. Suaranya terdengar serak, jauh dari nada penuh percaya diri yang dulu selalu ia gunakan saat memimpin rapat direksi di gedung pencakar langit Jakarta. Kini, ia hanya seorang pria dengan kemeja lusuh yang mencoba mengendalikan kemudi hidupnya yang hancur.
Anita yang duduk di pojok kiri belakang hanya bisa meremas jemarinya yang polos tanpa satu pun cincin berlian yang tersisa. Ia sesekali menyeka keringat di lehernya dengan sapu tangan kecil yang sudah basah kuyup. Tidak ada lagi cermin untuk bersolek atau keinginan untuk mengeluh tentang debu jalanan yang mulai masuk melalui celah jendela mobil yang sedikit terbuka.
"Apa Ibu bakal mau bicara sama kita?" tanya Fita pelan, memecah kesunyian yang mencekam di antara mereka berempat. Suaranya bergetar hebat, mencerminkan ketakutan yang paling dalam di hati mereka semua. Fita memeluk tas punggungnya erat-erat, seolah benda itu adalah satu-satunya perlindungan yang ia miliki dari kenyataan pahit yang menanti di ujung jalan.
Bima mendengus pelan, sebuah reaksi refleks yang selalu ia tunjukkan saat merasa tidak memiliki jawaban pasti atas sebuah masalah besar. Ia membetulkan posisi duduknya yang kaku, lalu menjawab dengan nada yang ditekan sedemikian rupa agar tidak terdengar emosional. "Kita tidak punya pilihan lain selain memohon, Fita. Kita sudah kehilangan segalanya, kecuali Ibu."
Pohon-pohon randu di pinggir jalan seolah melambai sinis, mengingatkan mereka pada masa kecil saat Rahayu sering menggendong mereka satu per satu melewati jalan ini.
Dulu, mereka berjanji akan membangunkan istana untuk sang ibu jika sudah sukses nanti. Namun, yang mereka bawa pulang hari ini hanyalah kegagalan total dan rasa malu yang membakar hingga ke ulu hati.
Mobil itu akhirnya melambat saat pagar bambu rumah Rahayu yang sudah miring mulai terlihat dari kejauhan di balik rimbunnya pohon mangga. Jantung mereka berdegup kencang, seirama dengan suara mesin yang terbatuk-batuk sebelum akhirnya mati total tepat di depan gerbang. Mereka semua terpaku di dalam mobil, menyadari bahwa pintu kayu di depan sana adalah satu-satunya jalan menuju pengampunan.
Tanpa aba-aba, Bima membuka pintu mobil yang berdecit nyaring dan melangkah keluar dengan kaki yang terasa sangat berat seberat dosa yang ia pikul. Ia menatap teras rumah yang sepi, berharap melihat sosok wanita tua itu sedang duduk merajut seperti biasanya. Namun, suasana rumah itu terasa terlalu tenang, seolah-olah waktu telah berhenti menunggu kepulangan anak-anak yang terhilang ini.
Lampu jalan yang berkedip redup memperlihatkan bayangan pagar besi yang kini tampak seperti barisan gigi patah. Bima menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang, sementara Yuda, Anita, dan Fita berdiri mematung di belakangnya dengan napas yang memburu. Kayu pagar yang dulu dicat hijau segar oleh almarhum ayah mereka kini telah mengelupas, menyisakan serat-serat cokelat yang rapuh dan dipenuhi rayap.
Suara gesekan daun jati kering yang tersapu angin malam terdengar seperti bisikan tajam di telinga mereka. Halaman yang dahulu selalu rapi dengan tanaman kumis kucing dan mawar kesayangan Ibu kini berubah menjadi hutan kecil yang tak terurus. Rumput liar tumbuh setinggi lutut, menyembunyikan jalan setapak dari batu alam yang dulu sering mereka gunakan untuk berlarian saat pulang sekolah.
"Kenapa lampunya mati semua?" tanya Anita dengan suara bergetar, jemarinya meremas tali tas mewahnya yang kini terasa membebani bahu. Ia menatap jendela kaca yang buram oleh debu tebal, memantulkan kegelapan yang terasa sangat dingin dari dalam rumah. Tidak ada aroma masakan lodeh atau suara radio tua yang biasanya menyambut kedatangan mereka dengan kehangatan yang tulus.
Bima tidak menjawab, tangannya yang gemetar perlahan menyentuh kait besi gerbang yang sudah macet karena karat yang menumpuk. Ia teringat bagaimana ia selalu beralasan sibuk dengan rapat direksi setiap kali Ibu menelepon hanya untuk menanyakan kabar. Kini, di depan rumah yang membesarkannya, Bima merasa seperti orang asing yang sedang mencoba membobol memori yang telah ia khianati sendiri.
Yuda melangkah maju, mencoba membantu Bima mendorong gerbang yang berderit memuakkan, memecah kesunyian malam di desa itu. Bau tanah basah dan aroma busuk dari tumpukan sampah daun yang lembap menusuk hidung mereka, memberikan kesan pengabaian yang sangat nyata. Mereka semua tahu bahwa uang bulanan yang mereka kirim secara rutin ternyata tidak bisa membeli kehadiran atau perhatian yang dibutuhkan Ibu.
Langkah kaki mereka terasa berat saat menapaki teras rumah yang ubinnya sudah mulai retak di beberapa bagian. Fita, anak bungsu yang dulu paling manja, mulai terisak pelan sambil memandangi kursi kayu panjang tempat Ibu biasa duduk menanti kepulangan mereka. Kursi itu kini tampak miring dengan salah satu kakinya yang sudah patah, dibiarkan begitu saja tanpa ada tangan yang memperbaikinya.