Bima mengusap wajahnya yang kusam, menatap pantulan dirinya di kaca lemari tua milik ibunya yang sudah mulai berjamur. Tidak ada lagi setelan jas mewah atau jam tangan bermerek yang dulu selalu ia pamerkan di depan rekan bisnisnya. Kini, ia hanya mengenakan kaus oblong pudar yang sedikit bolong di bagian bahu, sambil sesekali membetulkan letak kain sarung yang ia pakai untuk menjaga kehangatan tubuhnya di malam yang dingin.
"Mas, buburnya sudah siap, tapi Ibu masih belum mau membuka mulut," suara Anita terdengar serak dari arah dapur kecil di belakang rumah. Ia berjalan perlahan sambil membawa mangkuk porselen retak yang berisi bubur sumsum hangat, hasil sisa beras terakhir yang mereka punya. Tangannya yang dulu halus karena rutin perawatan di salon mewah, kini terlihat kasar dan kemerahan akibat terlalu sering mencuci pakaian secara manual di pinggir sungai kecil.
Yuda yang duduk di sudut ruangan segera bangkit, mengambil alih mangkuk itu dengan gerakan hati-hati agar isinya tidak tumpah ke lantai tanah yang lembap. Ia tidak lagi memegang ponsel pintar yang dulu tak pernah lepas dari genggamannya, melainkan sebuah kipas anyaman bambu sederhana untuk mengusir nyamuk. Matanya yang sembap menunjukkan bahwa ia baru saja selesai meratapi kebodohannya yang telah menyia-nyiakan harta demi kesenangan sesaat di masa lalu.
"Biar aku saja yang mencoba menyuapi Ibu, kalian istirahatlah sebentar di dipan depan," ucap Yuda dengan nada suara yang rendah dan penuh penekanan. Ia berlutut di samping tempat tidur kayu Rahayu, mencoba memanggil nama ibunya dengan sebutan yang paling lembut yang pernah ia ketahui. Di matanya, Rahayu bukan lagi sosok yang mengganggu agenda rapatnya, melainkan satu-satunya pelabuhan terakhir setelah semua kejayaan dunianya runtuh tak bersisa.
Fita, si bungsu yang dulu paling keras menolak saat diminta pulang, kini justru yang paling rajin memijat kaki ibunya yang mulai mendingin dan kaku. Ia menggunakan minyak kayu putih murahan, menggosoknya dengan gerakan memutar sambil sesekali mencium telapak kaki yang pecah-pecah itu. Isak tangisnya tertahan di tenggorokan, karena ia tahu bahwa air mata tidak akan mampu mengembalikan waktu yang telah terbuang sia-sia selama mereka mengejar bayang-bayang kesuksesan.
Keempat anak Rahayu kini benar-benar bertekad merawat ibu mereka dengan sisa tenaga dan harta yang ada, meskipun itu hanya berupa tenaga fisik dan kasih sayang yang terlambat. Mereka membagi tugas dengan rapi, mulai dari membersihkan badan Rahayu hingga memastikan rumah panggung itu tetap tegak berdiri meski atapnya banyak yang bocor. Tidak ada lagi perdebatan tentang siapa yang paling sibuk, karena bagi mereka, setiap detik bersama ibu adalah kesempatan menebus dosa besar.
Malam semakin larut saat Bima akhirnya duduk bersila di samping saudara-saudaranya, memandangi wajah tenang Rahayu yang sedang terlelap dalam tidurnya yang rapuh. Mereka menyadari bahwa semua kemewahan yang dulu mereka banggakan hanyalah titipan yang bisa diambil kapan saja, namun doa ibu adalah harta abadi yang takkan pernah sirna. Di bawah cahaya lampu teplok yang temaram, mereka bersumpah untuk tidak akan pernah membiarkan ibu mereka merasa sendirian lagi, apa pun risiko yang harus mereka hadapi.
Bau kayu lapuk dan sisa hujan semalam menyeruak saat Bima membuka jendela kamar Rahayu yang sempit. Ia tidak lagi mengenakan kemeja sutra atau jam tangan setara harga mobil, melainkan hanya kaos oblong pudar yang lengannya digulung hingga siku. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menyelipkan lengannya ke bawah punggung mungil sang ibu, memastikan tulang-tulang tua itu tidak tertekan terlalu keras oleh sisa tenaganya yang kasar.
"Pelan-pelan, Bim. Ibu tidak akan lari ke mana-mana," suara Rahayu terdengar parau, nyaris seperti gesekan amplas halus di atas kayu. Bima hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan saat masih menjabat sebagai direktur utama. Ia mengangkat tubuh ibunya yang kini terasa seringan kapas, sebuah kenyataan pahit yang terus mengingatkannya betapa banyak nutrisi dan perhatian yang telah ia abaikan selama bertahun-tahun demi mengejar angka di rekening bank.
Langkah kaki Bima berderit di atas lantai semen saat ia membawa Rahayu menuju teras belakang yang mulai tersorot cahaya matahari pagi. Ia meletakkan ibunya di kursi rotan tua yang bantalannya sudah menipis, lalu segera mengambil handuk kecil dan baskom berisi air hangat. Tangannya yang dulu hanya terbiasa menandatangani kontrak miliaran rupiah kini dengan telaten membasuh sela-sela jari kaki ibunya, membersihkan debu yang mungkin menempel dengan gerakan memutar yang lembut.
"Airnya terlalu panas tidak, Bu?" tanya Bima sambil terus menunduk, tidak berani menatap langsung mata ibunya yang mulai keruh oleh katarak. Ia punya kebiasaan unik sekarang; selalu mengetuk pinggiran baskom tiga kali sebelum mulai menyeka, sebuah ritual kecil untuk menenangkan sarafnya yang seringkali bergetar karena rasa bersalah. Rahayu hanya menggeleng pelan, jemari kurusnya mengelus rambut Bima yang mulai ditumbuhi uban, sebuah sentuhan yang terasa lebih berharga daripada bonus tahunan mana pun.
Di sudut lain, Yuda tampak sibuk menata kayu bakar untuk memasak bubur, sementara Anita dan Fita beradu argumen pelan di dapur tentang takaran garam. Suasana rumah itu sangat sunyi, hanya diisi oleh suara alam dan percakapan fungsional, jauh dari hiruk-pikuk pesta kelas atas yang biasa mereka hadiri. Namun, ketenangan itu mendadak pecah ketika sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depan pagar kayu mereka yang miring, memicu kecurigaan yang selama ini dipendam Bima.
Seorang pria bersetelan rapi turun dari mobil, membawa map tebal yang sangat dikenal oleh Bima sebagai dokumen penyitaan aset terakhir yang belum tuntas. Bima berdiri tegak, tangannya yang basah dikeringkan pada celananya dengan kasar, sementara matanya menyipit tajam menatap tamu tak diundang itu. Ia selalu punya kecenderungan untuk berdiri di depan ibunya sebagai perisai manusia, sebuah insting perlindungan yang baru muncul setelah segalanya hancur berantakan di kota besar.
"Saya sudah bilang, rumah ini atas nama Ibu saya, bukan milik perusahaan saya yang bangkrut itu," desis Bima dengan nada rendah namun penuh penekanan. Pria itu tidak bergeming, justru menyodorkan selembar kertas yang membuat jantung Bima seolah berhenti berdetak seketika. Di sana tertera tanda tangan yang sangat ia kenali, bukan tanda tangan ibunya, melainkan tanda tangan adiknya sendiri, Yuda, yang menjaminkan sertifikat rumah ini demi pinjaman modal rahasia.
Dunia seolah berputar saat Bima menoleh ke arah dapur, tempat Yuda sedang berpura-pura sibuk dengan perapian yang mulai berasap. Rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh adiknya kini meledak di tengah teras yang tenang, menghancurkan sisa-sisa kepercayaan yang baru saja mereka bangun kembali. Bima merasa dikhianati oleh darah dagingnya sendiri di saat mereka seharusnya bersatu untuk merawat sisa hidup ibu mereka yang tidak akan lama lagi.
"Yuda! Apa-apaan ini?" teriak Bima, suaranya menggelegar hingga membuat burung-burung di pohon mangga beterbangan karena terkejut. Yuda tersentak, wajahnya memucat pasi saat melihat map di tangan pria asing itu, sementara Anita dan Fita berlari keluar dengan raut wajah penuh ketakutan. Keributan itu membuat Rahayu mulai batuk-batuk kecil, sebuah tanda bahwa stres mulai menyerang fisiknya yang sudah sangat rapuh dan tidak sanggup menanggung beban konflik baru.
Konfrontasi meledak di halaman depan, di mana Bima mencengkeram kerah baju Yuda dengan amarah yang meluap-luap hingga urat lehernya menegang. Ia tidak menyangka bahwa di tengah kemiskinan dan penyesalan mereka, masih ada ruang untuk keserakahan yang bisa merenggut satu-satunya tempat bernaung bagi ibu mereka. Pukulan hampir saja mendarat di wajah Yuda jika saja suara tangisan Fita tidak memecah ketegangan yang nyaris berujung pada kekerasan fisik itu.
"Kalian tidak pernah berubah! Bahkan setelah kita jatuh miskin, kalian masih saling menikam!" jerit Anita sambil berusaha melerai kedua kakaknya yang sedang kalap. Yuda jatuh tersungkur di tanah, air matanya mulai mengalir saat ia mengakui bahwa ia mencoba memutar uang pinjaman itu untuk menebus kesalahan masa lalu mereka, namun justru terjebak dalam skema penipuan. Kehancuran finansial yang mereka alami ternyata masih memiliki lapisan kegelapan yang lebih dalam dari yang pernah Bima bayangkan.
Di tengah kekacauan itu, Rahayu perlahan berdiri dari kursi rotannya, tubuhnya gemetar hebat saat ia mencoba berjalan tanpa bantuan siapa pun menuju anak-anaknya. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, namun sorot matanya yang penuh luka jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun yang bisa dilemparkan Bima kepada Yuda. Keheningan tiba-tiba menyelimuti halaman rumah saat sang ibu jatuh terduduk di atas tanah, tepat di antara anak-anaknya yang sedang bertikai hebat.
Bima segera melepaskan cengkeramannya dan berlutut di samping ibunya, menyadari bahwa egonya kembali melukai wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Ia melihat sertifikat rumah itu kini tergeletak di tanah, terinjak oleh kaki mereka sendiri, simbol dari kehancuran total yang mereka ciptakan karena ketidakjujuran. Pria bersetelan rapi itu hanya menatap mereka dengan dingin sebelum memberikan ultimatum bahwa mereka hanya punya waktu dua puluh empat jam untuk mengosongkan tempat itu.
Malam itu, di bawah temaram lampu minyak karena listrik mereka baru saja diputus, keempat bersaudara itu duduk mengelilingi tempat tidur Rahayu dalam diam yang mencekam. Tidak ada lagi harta yang bisa mereka banggakan, tidak ada lagi tempat untuk lari, dan kini mereka benar-benar kehilangan segalanya termasuk atap di atas kepala mereka. Bima menggenggam tangan ibunya yang dingin, menyadari bahwa pengampunan sejati mungkin adalah hal terakhir yang bisa ia harapkan sebelum mereka benar-benar menjadi gelandangan di tanah kelahiran mereka sendiri.
Bau bumbu dapur yang menyengat menelusup ke indra penciuman Anita saat ia membolak-balik halaman buku resep yang kertasnya sudah menguning. Jari-jarinya yang biasa memegang tas bermerek kini sibuk menelusuri tulisan tangan Rahayu yang memudar di sela-sela lemari kayu tua yang lembap. Ia menemukan catatan kecil tentang takaran garam dan rahasia sayur lodeh yang dulu selalu ia remehkan saat masih mengejar kemewahan di ibu kota.
"Kenapa harus pakai terasi bakar segala, sih?" gumam Anita pelan, suaranya serak karena menahan sisa tangis semalam yang belum tuntas. Ia memandang nanar kuku palsunya yang berkilau, lalu tanpa ragu mengambil gunting kecil untuk melepaskan hiasan mahal itu satu per satu. Baginya, kuku-kuku cantik itu kini terasa seperti beban yang menghalanginya untuk menyentuh akar kehidupannya yang asli di dapur ini.
Tangannya yang halus kini mulai bergelut dengan sisik ikan yang licin dan tajam di atas talenan kayu yang sudah cekung dimakan usia. Ketika pisau dapur yang agak tumpul itu tergelincir dan mengiris ujung telunjuknya, Anita hanya meringis sebentar tanpa mengeluarkan keluhan manja seperti biasanya. Ia segera membasuh luka itu dengan air mengalir, lalu membungkusnya dengan kain bersih agar bisa melanjutkan pekerjaannya menyiapkan makan siang.
"Ibu, ini sayur lodehnya sudah siap, Anita suapi ya," ucapnya lembut sambil membawa nampan berisi piring plastik ke arah tempat tidur Rahayu. Ia duduk di pinggiran kasur yang keras, memperhatikan bagaimana sang ibu berusaha membuka mulutnya yang gemetar untuk menerima suapan demi suapan. Setiap kunyahan pelan dari ibunya terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan kesombongan Anita selama bertahun-tahun ini.
Melihat Rahayu makan dengan lahap meski fisiknya sudah sangat lemah memberikan getaran kepuasan yang asing namun menenangkan di dada Anita. Dulu, ia pikir kebahagiaan hanya bisa dibeli dengan menggesek kartu kredit di butik ternama atau makan di restoran berbintang lima yang penuh kepalsuan. Kini, hanya dengan melihat ibunya tidak tersedak saat menelan masakan buatannya, Anita merasa telah mendapatkan pencapaian terbesar dalam hidupnya.