Aroma minyak kayu putih dan melati samar-samar memenuhi ruang tengah yang hening itu. Rahayu berbaring lemah di atas ranjang besi tua yang selama puluhan tahun menjadi saksi bisu perjuangannya membesarkan empat orang anak sendirian. Napasnya terdengar berat dan putus-putus, seolah setiap tarikan udara adalah beban yang sangat melelahkan bagi paru-parunya yang mulai renta. Meski raga itu kian ringkih, gurat ketenangan tetap terpancar dari wajahnya yang pucat pasi di bawah cahaya lampu temaram.
Bima, anak sulungnya yang biasanya keras kepala, kini bersimpuh di sisi kanan ranjang sambil menggenggam tangan ibunya yang kasar dan penuh kerutan. Ia tidak lagi bicara soal proyek bangunan atau rapat direksi yang selama ini menjadi alasannya absen dari rumah. Air mata jatuh tanpa suara, membasahi punggung tangan Rahayu yang terasa dingin. Bima terus membisikkan doa-doa pendek ke telinga ibunya, sementara jemarinya yang gemetar berkali-kali merapikan helai rambut putih sang ibu dengan penuh kelembutan.
Di sisi lain, Yuda dan Anita tampak sibuk mengusap kening Rahayu dengan kain basah untuk meredakan panas tubuh yang tak kunjung turun. Anita, yang dahulu sering mengeluh karena merasa ibunya terlalu kuno, kini justru merasa sangat kecil di hadapan wanita itu. Ia terus menciumi telapak kaki ibunya yang pecah-pecah, menyadari bahwa di sanalah segala keberkahan hidup yang selama ini ia sia-siakan berada. Mereka semua terjaga, menolak untuk memejamkan mata sedikit pun demi menemani perjalanan terakhir ibu mereka.
Fita, si bungsu yang paling manja, hanya bisa terisak di ujung kaki sambil memeluk sebuah kain jarik usang milik Rahayu. "Bu, maafkan kami yang terlambat sadar bahwa hanya Ibu yang tidak pernah meninggalkan kami saat dunia memalingkan wajah," bisiknya lirih di tengah isak tangis. Ia teringat bagaimana mereka berempat sempat saling lempar tanggung jawab untuk merawat Rahayu, namun kini mereka justru berebut untuk memberikan pengabdian terakhir sebelum maut menjemput sang ibu tercinta.
Rahayu sempat membuka matanya sedikit, menatap satu per satu wajah anak-anaknya dengan sorot mata yang teduh dan penuh pengampunan. Tidak ada sedikit pun rasa dendam atau amarah yang tersisa di dalam hatinya atas segala pengabaian yang pernah ia terima selama bertahun-tahun. Ia hanya menggerakkan bibirnya sedikit, seolah ingin mengatakan bahwa ia sudah memaafkan segalanya jauh sebelum mereka sempat meminta. Senyum tipis mengembang di bibirnya, memberikan tanda bahwa ia pergi dengan hati yang sangat lapang.
Keheningan pecah ketika napas terakhir Rahayu terlepas dengan sangat perlahan, meninggalkan kehangatan yang mulai memudar di genggaman anak-anaknya. Ruangan itu seketika dipenuhi oleh tangisan penyesalan yang mendalam, sebuah duka yang akhirnya menyatukan kembali empat bersaudara yang sempat tercerai-berai oleh ego. Mereka kini sadar bahwa kesuksesan setinggi langit tidak akan pernah bisa menggantikan satu detik pun waktu yang hilang bersama ibu mereka. Penyesalan itu menjadi luka abadi yang akan selalu mereka bawa dalam sisa hidup mereka.
Mereka mengangkat jenazah Rahayu bersama-sama, memberikan penghormatan terakhir yang paling tulus sebagai bentuk penebusan dosa atas masa lalu. Saat iring-iringan jenazah bergerak menuju pemakaman, langit tampak mendung seolah ikut berduka melepas kepergian seorang ibu yang cintanya tak pernah bersyarat. Di tengah kesedihan itu, Bima menatap adik-adiknya dan berjanji bahwa mereka tidak akan pernah membiarkan tali persaudaraan ini putus lagi. Mereka melangkah dengan berat hati, menyadari bahwa kini surga itu telah tertutup rapat bagi mereka selamanya.
Suara napas Rahayu terdengar berat dan tersendat, menciptakan irama yang menyakitkan di dalam kamar yang biasanya tenang itu. Cahaya lampu pijar yang mulai redup memantulkan bayangan kecemasan pada dinding kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Bima berdiri mematung di ambang pintu, tangannya gemetar hebat saat menyadari bahwa ibunya tidak lagi merespons panggilannya pagi itu. Bau minyak kayu putih yang menyengat bercampur dengan aroma obat-obatan memenuhi udara, mempertegas suasana duka yang perlahan merayap masuk ke setiap sudut ruangan.
Ia segera meraih telepon genggamnya dengan gerakan kikuk, mencoba menghubungi dokter keluarga yang tinggal beberapa blok dari sana. Suaranya serak saat berbicara, hampir tidak lebih dari sebuah bisikan yang penuh keputusasaan dan rasa bersalah yang mendalam. Dokter datang tak lama kemudian, membawa tas kulit hitamnya yang sudah usang, lalu melakukan pemeriksaan dengan keheningan yang mencekam. Bima hanya bisa menatap punggung dokter itu, berharap ada keajaiban kecil yang bisa mengubah kenyataan pahit yang kini membentang di depan matanya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, dokter itu perlahan meletakkan stetoskopnya dan berbalik dengan wajah yang sulit diartikan. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menggelengkan kepala dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh simpati kepada Bima. Tatapan mata dokter itu seolah berbicara lebih banyak daripada ribuan kata, mengisyaratkan bahwa tubuh tua Rahayu sudah mencapai batas kekuatannya. Bima merasakan lututnya melemas, menyadari bahwa waktu yang selama ini ia sia-siakan untuk mengejar ambisi pribadi kini telah habis.
Yuda, Anita, dan Fita tiba beberapa saat kemudian dengan napas terengah-engah, wajah mereka pucat pasi tertutup bayang-bayang penyesalan yang terlambat. Mereka masuk ke kamar satu per satu, langkah kaki mereka yang biasanya tegas kini terdengar ragu dan penuh rasa takut akan kehilangan. Anita langsung jatuh bersimpuh di sisi tempat tidur, jemarinya yang halus kini mencengkeram kain seprai yang sudah mulai lusuh. Keheningan di dalam kamar itu begitu pekat, hanya sesekali dipecah oleh isak tangis tertahan yang keluar dari bibir Fita yang bergetar hebat.
Bima mendekat ke sisi kiri ibunya, perlahan meraih tangan kanan Rahayu yang terasa dingin dan tampak begitu rapuh seperti kertas tua. Ia mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya, sebuah gestur kecil yang dulu sering dilakukan ibunya untuk menenangkannya saat ia masih kecil. "Ibu, ini Bima," bisiknya pelan, namun tidak ada reaksi sedikit pun dari kelopak mata Rahayu yang tetap terpejam rapat. Ia merasa seperti sedang memegang sisa-sisa kenangan yang sebentar lagi akan terbang terbawa angin, meninggalkan kekosongan yang takkan pernah bisa ia isi kembali.
Yuda berdiri di ujung tempat tidur, memegang kaki ibunya yang terbungkus selimut wol tebal, mencoba menyalurkan kehangatan dari telapak tangannya sendiri. Ia teringat betapa kaki itulah yang dulu berjalan berkilometer jauhnya demi memastikannya bisa mengenakan seragam sekolah yang layak dan perutnya terisi.
Sekarang, kaki itu tampak begitu kecil dan lemah di bawah beban selimut, tidak lagi memiliki kekuatan untuk menopang dunia seperti yang pernah dilakukannya dulu. Penyesalan menyumbat tenggorokan Yuda, membuatnya sulit untuk sekadar mengucapkan kata maaf yang seharusnya ia katakan bertahun-tahun yang lalu.
Anita terus menggumamkan doa-doa pendek dengan suara gemetar, air matanya jatuh membasahi telapak tangan Rahayu yang kini ia dekap di pipinya. Ia mengingat betapa seringnya ia menolak panggilan telepon dari rumah hanya karena alasan rapat kantor yang sebenarnya bisa ia tunda sebentar. Setiap detik yang ia lewatkan untuk mengejar karier kini terasa seperti belati yang menusuk ulu hatinya tanpa ampun saat melihat ibunya terbaring lemah. Ia ingin berteriak meminta waktu tambahan, namun ia tahu bahwa takdir tidak pernah menerima negosiasi dari mereka yang baru sadar saat pintu hampir tertutup.
Fita, si bungsu, hanya bisa meringkuk di sudut tempat tidur sambil memegang ujung baju ibunya dengan erat, seolah takut Rahayu akan menghilang jika ia melepaskannya. Ia memandangi wajah ibunya yang tampak tenang meski napasnya kian melambat, mencatat setiap kerutan yang menjadi saksi bisu perjuangan membesarkan mereka berempat.
Bau sabun mandi mawar yang samar masih tercium dari tubuh Rahayu, aroma yang selalu identik dengan kenyamanan rumah bagi Fita sejak ia masih balita. Namun, kenyamanan itu kini terasa begitu jauh, tergantikan oleh kedinginan yang mulai menjalar dari ujung jari-jari kaki sang ibu.
Di tengah suasana yang mencekam itu, Bima tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang keras di bawah bantal ibunya saat ia mencoba membenarkan posisi kepala Rahayu. Ia menarik sebuah kotak kayu kecil yang permukaannya sudah sangat halus karena sering diusap, sebuah kotak yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Dengan tangan gemetar, ia membuka tutup kotak itu dan menemukan tumpukan surat-surat yang ditulis tangan dengan rapi namun tintanya sudah mulai memudar. Di atas tumpukan itu, terdapat sebuah foto lama mereka berempat saat masih anak-anak, tersenyum lebar di depan rumah tua ini bersama Rahayu yang masih muda.
Bima mulai membaca salah satu surat yang berada di paling atas, dan seketika itu juga jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat tanggal penulisannya. Surat itu ditulis hanya satu minggu yang lalu, menceritakan betapa Rahayu sangat merindukan suara tawa anak-anaknya di meja makan yang kini selalu kosong.
Rahayu menuliskan betapa ia selalu menyiapkan lima piring setiap malam, berharap salah satu dari mereka akan datang memberi kejutan untuk makan malam bersama. Bima menoleh ke arah dapur yang gelap, membayangkan ibunya duduk sendirian di sana setiap malam dengan meja yang tertata rapi namun tak pernah tersentuh.
Kejutan yang lebih menyakitkan muncul ketika ia membaca paragraf terakhir surat itu, di mana Rahayu menyebutkan sebuah rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Rahayu ternyata sudah menjual satu-satunya perhiasan peninggalan nenek mereka bukan untuk biaya pengobatannya sendiri, melainkan untuk melunasi hutang rahasia Bima saat perusahaannya hampir bangkrut.
Bima terperangah, ia selalu mengira uang pinjaman tanpa bunga yang ia terima dari sumber anonim itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Ternyata, selama ini ibunya menderita dalam diam, menahan sakit tanpa pengobatan medis demi menyelamatkan harga diri anak sulungnya yang sombong.
Ia menatap wajah ibunya dengan pandangan yang kini kabur oleh air mata yang tak lagi bisa ia bendung, menyadari betapa besarnya pengorbanan yang telah ia abaikan. "Ibu, kenapa tidak pernah bilang?" suaranya pecah menjadi tangisan hebat yang mengguncang seluruh tubuhnya di hadapan adik-adiknya yang ikut tertegun mendengar pengakuannya.
Namun, saat ia kembali menggenggam tangan Rahayu, ia merasakan sebuah tekanan sangat lemah dari jemari ibunya, sebuah respons terakhir yang sangat singkat. Rahayu membuka matanya sedikit, menatap mereka satu per satu dengan binar cinta yang tulus sebelum akhirnya napas terakhirnya berembus pelan di tengah isak tangis yang pecah memenuhi ruangan.
"Sudah, tidak perlu dibahas lagi soal saham itu. Sekarang yang penting Ibu bangun dulu," bisik Bima sambil menggenggam jemari Rahayu yang terasa sekaku ranting kayu kering. Suaranya yang biasa menggelegar di ruang rapat kini terdengar pecah dan parau, kehilangan wibawa yang selama ini ia banggakan di depan para kolega bisnisnya. Ia terus mengusap punggung tangan ibunya dengan ibu jari, sebuah kebiasaan lama yang sering ia lakukan saat masih kecil ketika meminta uang saku tambahan untuk membeli buku sekolah.
"Ibu, dengar Anita, ya? Anita janji akan jaga Yuda, Bima, dan Fita. Anita tidak akan egois lagi soal warisan rumah ini," kata Anita dengan napas yang memburu di sisi lain ranjang besi yang catnya sudah mengelupas. Air matanya jatuh mengenai seprai katun kumal yang aromanya bercampur antara minyak kayu putih dan bau obat-obatan rumah sakit yang tajam. Ia menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya yang sembab, seolah-olah lantai semen di bawah kakinya bisa menelan semua rasa malu yang menyesakkan dada.