Bima duduk terdiam di kursi kayu tua milik Rahayu sambil memutar-mutar kunci rumah yang kini terasa begitu berat di genggamannya. Sesekali ia mengusap permukaan meja makan yang sudah mulai kusam, tempat biasanya sang ibu menyajikan sayur lodeh hangat setiap pagi. Kebiasaan Bima mengetuk-ngetukkan jari ke meja kayu itu menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di ruang tengah yang pengap.
"Rumah ini harus tetap seperti ini, jangan ada yang diubah sedikit pun," ujar Bima dengan suara rendah yang sedikit serak, matanya menatap lurus ke arah bingkai foto kosong. Ia merasa seolah-olah setiap sudut ruangan ini sedang menghakiminya atas pengabaian yang ia lakukan selama bertahun-tahun demi mengejar karier di ibu kota. Keputusannya untuk berhenti dari jabatan direktur dan menetap di desa adalah cara baginya menebus waktu yang telah hilang.
Yuda berdiri di ambang pintu dapur, memperhatikan kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan sambil terus meremas sapu tangan lusuh peninggalan ibunya. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali mengangguk saat Bima memberikan instruksi mengenai pembagian tugas menjaga rumah peninggalan itu. "Aku akan mengurus kebun belakang, Bu dulu paling suka menanam cabai di sana," gumam Yuda pelan, hampir seperti bisikan kepada dirinya sendiri.
Anita dan Fita sibuk memilah pakaian di dalam kamar, namun gerakan tangan mereka terlihat sangat lamban seolah-olah berat untuk memindahkan satu helai kain pun. Anita terus-menerus merapikan kerah baju yang ia pegang, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan saat merasa cemas atau merasa bersalah yang amat dalam. "Rasanya aneh, ya? Kita punya segalanya sekarang, tapi bantal ini terasa lebih nyaman daripada kasur mahal di kota," kata Anita sambil memeluk daster lama ibunya.
Fita hanya bisa terisak pelan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Anita, menyadari bahwa kesuksesan finansial mereka tidak bisa membeli kembali pelukan hangat Rahayu yang tulus. Mereka kini harus belajar memasak sendiri, mencuci sendiri, dan menghadapi kenyataan pahit tanpa ada doa ibu yang biasanya mengiringi langkah mereka setiap hari. Kehidupan mewah yang dulu mereka banggakan kini terasa hambar dan tidak berarti di hadapan nisan yang masih basah.
Pertemuan keluarga sore itu berakhir dengan sebuah kesepakatan bahwa mereka akan bergantian tinggal di rumah tersebut untuk menghidupkan kembali kenangan yang sempat mati. Bima memutuskan untuk menjual seluruh asetnya di kota dan menggunakan uangnya untuk membangun yayasan pendidikan di desa atas nama ibunya. Ini adalah langkah pertama dari perjalanan panjang mereka untuk mencari pengampunan dari jiwa yang telah mereka telantarkan begitu lama.
Saat matahari mulai tenggelam, keempat bersaudara itu berkumpul di teras depan, memandang jalan setapak yang dulu sering dilalui Rahayu saat pulang dari pasar. Mereka menyadari bahwa meskipun harta mereka telah ludes karena kebangkrutan, mereka menemukan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga di bawah atap tua ini. Namun, sebuah surat yang ditemukan Yuda di bawah bantal ibu mereka tiba-tiba mengubah segalanya, mengungkapkan sebuah rahasia besar yang selama ini dirahasiakan Rahayu dari mereka berempat.
Debu kapur menempel di ujung jari Bima saat ia menuliskan beberapa baris kalimat di papan tulis kayu yang permukaannya sudah mulai berlubang. Ruang kelas di pinggiran kota itu hanya beralaskan semen kasar, namun antusiasme anak-anak yang duduk bersila di depannya membuat udara gerah terasa lebih sejuk. Bima menarik napas dalam, merasakan aroma tanah basah dari luar jendela yang mengingatkannya pada aroma kebun di belakang rumah masa kecilnya dulu.
"Ingat, anak-anak, kepintaran tanpa kejujuran itu seperti rumah megah tanpa fondasi," ujar Bima dengan nada bicara yang rendah namun tegas, sebuah kebiasaan barunya untuk memastikan setiap kata terserap sempurna. Ia tidak lagi mengejar intonasi penuh wibawa palsu seperti saat ia masih duduk di kursi empuk kantor pemerintahan. Kini, setiap kalimat yang keluar dari bibirnya adalah cerminan dari rasa bersalah yang perlahan mulai ia ubah menjadi sebuah pengabdian tulus.
Selesai mengajar, Bima berjalan kaki menuju rumah kontrakannya yang hanya terdiri dari dua ruangan sempit di gang sempit yang padat penduduk. Di sana tidak ada lagi pendingin ruangan atau sofa kulit yang harganya setara dengan biaya makan satu desa selama setahun. Ia meletakkan tas kainnya di atas meja kayu tua, lalu duduk di kursi plastik sambil memijat pangkal hidungnya, sebuah ritual kecil setiap kali ia merasa lelah namun merasa amat tenang.
Hidup sederhana ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan saat masih bergelimang harta hasil suap dan manipulasi kontrak proyek negara. Dulu, setiap malam Bima terjaga karena ketakutan akan audit atau pengkhianatan rekan kerja, namun sekarang tidurnya lelap meski hanya beralaskan kasur tipis. Ia merasa jauh lebih manusiawi saat bisa menikmati sepiring nasi dengan tempe goreng tanpa harus memikirkan strategi untuk menjatuhkan lawan politiknya di meja makan mewah.
Setiap awal bulan, Bima memiliki rutinitas yang tidak pernah ia lewatkan sejak ia melepaskan segala kemewahan masa lalunya yang kelam itu. Ia akan duduk di depan meja kecilnya, menghitung lembaran uang gaji yang tidak seberapa, lalu membaginya ke dalam beberapa amplop cokelat kusam. Jari-jarinya yang dulu sering menandatangani kontrak milyaran kini dengan telaten melipat uang ribuan untuk dikirimkan ke pengurus makam di desanya.
Uang itu dikirimkan khusus untuk memastikan makam Rahayu, ibunya, selalu bersih dari rumput liar dan bunga-bunganya tetap segar sepanjang waktu. Bima sering kali terdiam cukup lama saat memegang amplop tersebut, membayangkan wajah ibunya yang dulu sering ia abaikan demi urusan duniawi yang fana. Penyesalan itu memang tidak akan pernah hilang sepenuhnya, namun merawat tempat peristirahatan terakhir ibunya adalah satu-satunya cara ia tetap merasa terhubung.
Selain untuk makam, sebagian dari penghasilannya yang terbatas itu ia sisihkan untuk membantu biaya sekolah anak-anak tetangganya di desa yang kurang mampu. Ia sering mengirimkan paket buku atau alat tulis secara anonim melalui jasa kurir, karena ia tidak ingin pujian atau pengakuan dari siapa pun atas tindakannya. Bima hanya ingin menebus sedikit demi sedikit dosa masa lalu yang telah menghancurkan hati ibunya sebelum wanita suci itu mengembuskan napas terakhirnya.
Suatu sore, Yuda datang berkunjung dengan penampilan yang jauh berbeda dari masa kejayaannya sebagai pengusaha properti yang angkuh dan sombong. Adiknya itu kini mengenakan kemeja yang sudah pudar warnanya dan terlihat jauh lebih kurus dengan sorot mata yang kehilangan binar ambisinya. Mereka duduk di teras kecil rumah Bima, berbagi segelas teh tawar hangat sambil mendengarkan suara anak-anak yang bermain bola plastik di gang depan rumah.
"Aku baru saja pulang dari makam Ibu, Mas," bisik Yuda sambil menundukkan kepala, suaranya terdengar pecah dan penuh dengan beban emosional yang mendalam. Bima hanya mengangguk pelan, ia tahu betul rasa sakit yang dirasakan adiknya karena mereka berdua pernah melakukan kesalahan yang sama besarnya. Mereka adalah anak-anak yang sukses secara materi namun gagal total dalam memberikan kasih sayang yang paling dibutuhkan oleh ibu mereka.
Yuda kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya dan meletakkannya di atas meja dengan tangan yang terlihat sedikit gemetar karena rasa gugup. "Aku menemukan ini di lipatan baju Ibu yang lama tersimpan di gudang bawah tanah rumah kita yang dulu," katanya dengan nada yang semakin lirih. Bima mengernyitkan dahi, merasa ada sesuatu yang tidak biasa dari cara Yuda menatap kotak kayu tua yang permukaannya sudah mulai mengelupas itu.
Saat kotak itu dibuka, Bima tertegun melihat tumpukan surat kontrak rumah dan tanah atas nama dirinya dan adik-adiknya yang ternyata sudah dilunasi oleh Rahayu. Ibunya selama ini tidak pernah menggunakan uang kiriman mereka untuk dirinya sendiri, melainkan menyimpannya kembali untuk menjamin masa depan mereka saat jatuh miskin. Rahayu seolah sudah tahu bahwa kejayaan anak-anaknya yang dibangun di atas keserakahan suatu saat nanti pasti akan runtuh dan hancur berantakan.