“Mundur....! mundur....! alomo....! alomo....! lari....! lari....!” Suara teriakan terakhir beberapa orang prajurit kembali terdengar, menandakan bahwa kompi infanteri marinir itu tak akan mampu lagi bertahan dalam kepungan lawan. Sisa-sisa pasukan yang masih tertinggal di arena pembantaian menghentikan tembakan, semuanya kini mundur berlarian. Masing-masing prajurit harus mampu mencari jalan keluar dari kerimbunan hutan dan menemukan celah aman agar bisa terbebas dari kepungan lawan. Prajurit satu Reihan juga tak ketinggalan, telinga yang mendenging tak mampu lagi dia tahan. Prajurit itu langsung lari berhamburan sembari terus melepaskan tembakan ke arah lawan. Berondongan peluru dan jeritan kematian kembali terdengar secara bersamaan.
Dalam kelelahan, prajurit infanteri marinir itu berlari dan terus berlari untuk menyelamatkan badan. Beberapa ratus meter dia berlari, prajurit itu tersungkur tersandung dahan. Prajurit itu bangkit lagi, kembali dia berdiri, lalu berlarian dengan posisi menyamping sembari melepaskan rentetan tembakan ke arah pasukan lawan yang mengejarnya dari belakang. “Buset kalian! keparaaat! edaaaaaaan....!” Teriak prajurit infanteri marinir itu semabri melepaskan tembakan dengan bergerak mundur, sebisa mungkin dia harus mampu mempertahankan nyawa satu-satunya yang dia miliki.
“Keparat! edan! makan nih semua pelurunya....!” Teriakan caci maki dan suara desingan peluru masih terus beriringan terdengar. Prajurit infanteri marinir itu terus berjuang mati-matian agar dapat terlepas dari kejaran belasan orang pasukan fretilin yang ada di belakang. Tak ingin dia menyerah, Reihan terus lari berhamburan menyeruduk benda apa saja yang menghalangnya dari kejaran pasukan lawan. Ranting-ranting pohon setinggi dada yang melintang dia labrak hingga patah berantakan, semak belukar dan jangkrik-jangkrik malam yang yang menghalang terinjak-injak olehnya ikut jadi korban.
Prajurit itu terus berjuang hingga dadanya terasa sesak begitu menyakitkan. Napasnya juga semakin ngos-ngosan bagai seseorang yang tengah diuber-uber setan. Tak jarang dia harus kembali tersungkur mencium tanah dan bebatuan hingga wajahnya menghitam, namun rasa sesak di dada harus dia abaikan. Dia bangkit lagi, lalu kembali berlarian menelusuri turunan di sekitar area kaki perbukitan. Namun sayang, prajurit infanteri marinir itu kini bernasib malang. Kali ini bukan lagi ranting- ranting dahan yang melintang yang harus dia hadang, melainkan longsoran tanah yang terjadi oleh kikisan air hujan yang membentuk sebuah jurang dengan kedalaman yang cukup lumayan. Tak lagi ada jalan, langkah prajurit itu pun kini harus kandas tepat di pinggir jurang yang dalam. Aksi petualangan kejar-kejaran dengan belasan pasukan pasukan fretilin keparat itu akhirnya terhenti sesaat di tengah jalan.
“Celaka....! kampret....!” Gerutu Reihan merepet-repet sesampainya dia di tepi jurang. “Jalan buntu, setan alas....!” Cela prajurit infanteri marinir itu lagi sembari membuang ludah ke dalam jurang.
Prajurit infanteri marinir itu menoleh ke belakang, belasan bayang-bayang hitam pasukan fretilin keparat terlihat bagai makhluk siluman tengah menguber-uber dirinya dalam kegelapan malam. “Sialan....!” Caci maki prajurit itu lagi. Dia kemudian melongokkan kepala ke bawah mengamati dasar jurang. Dalam kegelapan malam, prajurit infanteri marinir itu masih bisa melihat, jurang itu ternyata tidaklah begitu curam dan masih bisa dituruni dengan cara perlahan. Lalu, lagi-lagi dia menoleh ke belakang, prajurit itu menggigit-gigit ibu jarinya sembari berpikir jalan mana yang harus dia hadang agar terlepas dari kejaran lawan. Bagai makan buah simalakama, itulah yang dia rasakan kini. Nekat melompat ke dasar jurang berkemungkinan belum tentu mati, namun risiko paling ringan adalah patah kaki. Jika tetap bertahan di pinggir jurang pastilah keburu mati di hadiahi tembakan pasukan fretilin bertubi-tubi.
Tak ada pilihan lagi, prajurit infanteri marinir itu nekat menghadang jurang yang dalam. Senjata AK-47 dia gantung di pinggang, dua butir granat tangan dia rogoh dari kantong ransel tempur yang tersandang. Kedua pin pengaman dia lepaskan secara bersamaan. Prajurit itu mengambil ancang-ancang sebelum menerjang. “Ayo keparat....! makan nih granat biar kalian mampus sekalian....!” Teriak Reihan dengan geram.
Dua butir granat itu dilemparkan ke arah pasukan lawan yang mengejarnya di belakang. Dalam waktu bersamaan, prajurit infanteri marinir itu melompat ke bawah menerjang dinding jurang. “....duaaaaaar....! bummmmm....!” Suara ledakan granat dan teriakan terdengar beriringan. Tanah di sekitar ledakan granat tangan terbongkar berhamburan, beberapa dahan pepohonan patah berserakan. Tiga orang pasukan fretilin yang mengejar Reihan langsung terlempar, ketiganya kemudian terjungkal dengan tubuh menggelepar.
Tubuh prajurit infanteri marinir itu terlihat berguling-guling bagai aksi seorang jagoan dalam film sungguhan, kemudian terjerembab dengan kencang hingga terpelosot beberapa meter kedalaman di dinding jurang. Namun sayang, lompatan yang didahului dengan ancang-ancang membuat tubuh prajurit itu meluncur terlalu kencang, hingga dirinya tak sanggup lagi menjaga keseimbangan badan.
Celaka....!
Tak diduga sebelumnya, sebatang pohon yang tumbuh miring hampir tumbang di lereng jurang ternyata tengah menanti tubuh prajurit yang tengah meluncur dengan kencang. Tubrukan badan dengan batang pohon tak lagi bisa terelakkan “....braaaaak....!” Suara hantaman benda keras terdengar dalam kegelapan malam. Pohon yang tumbuh miring itu langsung berayun dan bergoyang-goyang. Beruntung, tubuh prajurit infanteri marinir itu tersandung tepat di dahan pohon yang rindang. Seekor burung hantu yang tengah bertengger di ranting pepohonan sontak kaget dan langsung kejang-kejang. Kemudian ‘....klepak klepak....’ bunyi sayapnya. Pandangan berkunang kunang, tak sanggup lagi burung hantu itu terbang, lalu terjun bebas dan akhirnya koit di dasar jurang.
Lagi-lagi celaka.....! Akar pohon yang terkena longsoran dan terkikis air hujan itu tak sanggup menahan berat badan Reihan. Batang pohon yang tumbuh miring itu kini malah semakin miring karena ayunan saat terjadinya hempasan badan. Akar pohon itu akhirnya terbongkar dari lereng jurang. Tubuh prajurit infanteri marinir yang tergayut itu ikut terjerembab terjun bebas dari lereng jurang, seiring dengan terjun bebasnya batang pohon yang terlepas.
“.....Braaaaak....!” Untuk yang kedua kalinya suara hantaman benda keras kembali terdengar. Tubuh prajurit infanteri marinir itu kandas di dasar jurang dengan posisi menelentang, tepat menindih burung hantu yang terlebih dahulu terjun bebas koit di dasar jurang. Beberapa saat prajurit infanteri marinir itu terdiam tak sanggup berkata, darah bagai terhenti mengalir, tulang punggungnya serasa remuk. Apes..., pantat Reihan yang tak bahenol ternyata tepat menyeruduk patahan kayu. Tak terbayangkan lagi bagaimana rasa sakitnya, pasti luar biasa bagai ditusuk-tusuk paku.
“Waduh pantatku sakit....!” Prajurit itu menjerit-jerit, dia langsung bangkit tak sanggup menahan pantatnya yang sakit bagai disabet celurit. “Wow....! pinggangku, pinggangku....! oh Tuhan....!” Lagi-lagi prajurit itu harus menjerit menahan sakit, pinggangnya yang menyeruduk dahan pohon terasa bonyok bagai kena tonjok. Sakit di punggung dan pantat terasa bukan alang kepalang, kedua mata Reihan seketika berkunang-kunang memandang, pinggangnya terasa tegang tak bisa lagi digerakkan. Prajurit infanteri marinir itu pun kembali jatuh tertelentang di dasar jurang. Lagi-lagi...., untuk yang kedua kalinya tubuh prajurit itu tepat menindih burung hantu yang malang. Hingga burung itu pun semakin kempot bagai sate panggang.
*****
Aksi kejar-kejaran sepertinya belumlah hilang, pasukan frertilin ternyata masih terus mengejar Reihan. Salah seorang dari mereka ikut berguling-guling menuruni sisi jurang, beberapa orang prajurit fretilin lainnya terlihat bersiap-siap menyusul di atas jurang. Reihan yang mengetahui akan hal itu langsung tercengang, dia tak menghiraukan lagi rasa sakit yang bersarang di pantat dan pinggang. Prajurit itu langsung menggeliat bangkit walaupun pantatnya masih terasa sakit bagai kena celurit. “Buset....! mereka masih terus mengejar, dasar fretilin kampret....!” Prajurit itu mengoceh merepet-repet.
Senjata yang tersandang di pinggang kembali dia genggam. Moncong senjata AK-47 dia arahkan ke dinding jurang, tembakan beruntun langsung dia lepaskan. Tiga orang prajurit fretilin menggelepar terkena tembakan, lalu terjun bebas berguling guling hingga terhempas ke dasar jurang. Ketiga prajurit fretilin itu langsung meregang nyawa dengan tubuh kejang-kejang. Namun beberapa butir peluru meleset terhalang oleh lekukan tanah yang ada di dinding jurang, dua orang pasukan fretilin lainnya luput dari tembakan. Prajurit infanteri marinir itu harus kembali berlarian menghindar dari kejaran. Dengan kaki terpincang pincang sambil meringis kesakitan, Reihan terpaksa meninggalkan pinggir jurang.
Namun sayang...., sisa-sisa tenaga prajurit itu yang terus berkurang membuatnya tak mampu berlarian dengan kencang, maut pun kini kembali mengancam. Lepas dari terkaman harimau, kini kembali disergap serigala lapar, itulah yang terjadi pada Reihan kini. Tiga ratus meter dari pinggir jurang, fretilin keparat kembali melepaskan serangan roket RPG-2 keparat ke arah Reihan. “.....braaaaaaaak....! buuuuuuuum....!” Tubuh prajurit yang tadi berhasil selamat dari kejaran lawan itu kini kembali terpental terkena ledakan peluru mortir lawan. Tubuh Reihan seketika itu juga langsung kejang-kejang, sebelum akhirnya dia kembali jatuh tertelentang, tak lama kemudian kesadarannya pun terbang melayang.
*****
Kopral satu Okta yang selamat dari kejaran pasukan lawan tiba-tiba kaget mendapati Reihan tengah menelentang dengan posisi mengangkang tak begitu jauh dari pinggir jurang. “Reihan...! hoi Reihan, ayo bangun, kita harus cepat pergi dari sini...! cepat Han...!” Desak kopral itu menabok pipi kiri dan kanan Reihan agar dia sadar. Reihan yang telak kena tabok langsung terjaga, kedua bola matanya terbuka, mulutnya ternganga, namun prajurit itu tak ingat apa-apa.
“Ayo Han....! kita semakin terkepung, jumlah mereka terlalu banyak, aku harus memapahmu sebelum hari siang.” Okta memaksa, dia tak ingin prajurit yang masih muda belia itu mati sia-sia di sana. Kopral itu langsung saja menarik kedua tangan Reihan. Reihan yang belum sepenuhnya sadar tentang apa yang telah menimpa dirinya kebingungan mendengar. “Ada apakah gerangan....?” Pikirnya dengan mulut ternganga.
Tak ada pilihan lain, Reihan yang masih bernyawa itu memang harus segara dia papah agar bisa menjauh dari sana. Prajurit itu pasrah di saat kopral Okta memaksanya berjalan untuk menjauh dari kaki lembah. Begitu sakit terasa saat tubuhnya yang remuk harus dipapah paksa oleh rekannya. Namun dia tak ingin menolak, Reihan tahu, kopral itu adalah sahabat dekatnya yang ingin menyelamatkan nyawanya.
*****