Panas matahari seperti cambuk yang menyiksa sekujur tubuh manusia. Aspal keras hitam legam menerpa kaki beralas sepatu cat hitam usang. Jalanan panas dan berderu debu menemani setiap langkahku. Aku anak sebatang kara. Tak punya kedua orang tua. Mereka berdua telah meninggalkanku sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu aku masih umur tiga tahun. Aku ikut nenekku. Dia yang merawat dan mengasuhku, hingga aku menginjak umur tiga belas tahun. Tetapi penyakit tua mengegogroti nenekku. Dia meninggalkanku dalam kesendirian. Dua tahun telah berlalu, aku hidup sendiri di kerasnya kota Jakarta. Sekarang aku berumur lima belas tahun. Tubuh tinggi semampai, berparas menawan. Pakaian jaket tanpa lengan, dengan dalaman kaos berlengan panjang. Bercelana jins hitam. Memakai topi miring ke kanan.
Namaku tak seindah seperti bayanganmu tapi juga tak seburuk seperti pikiranmu. Namaku Surya. Persisnya Surya Kirana. Emang aku bukan perempuan tetapi aku laki-laki tulen. Bukan banci kaleng yang suka membuat keriangan atau tepatnya masalah kehidupan.
Mengapa namaku seperti itu? Mungkin itu yang ingin kau tanyakan padaku. Tetapi aku ragu untuk menjawabnya. Padahal nama itu sungguh mulia. Karena ada lagu lama yang memakai namaku. Mungkin ayahku mengambil dari situ. Tetapi nenekku berkata,
“Surya Kirana adalah cahaya yang bersinar terang.”
Surya mungkin kalian tahu artinya. Tepat sekali matahari, kalau kirana arti yang bersinar terang seperti orang bilang. Tetapi aku bukan menceritakan namaku tetapi kisahku. Kisah anak remaja sebatang kara yang hidup dikeras kota.
Gang sempit dipinggiran kota. Ada bengkel kendaraan tempat para preman berkumpul. Mereka adalah komplotan preman pasar. Aku salah satu dari mereka, tetapi aku bukan ketuanya. Aku hanya anak buah para preman pasar itu. Semenjak aku ditinggal nenekku. Aku hidup dalam bayangan kegelapan. Aku diajak kawan untuk ikut dalam komplotan preman. Karena aku kebingungan, aku tidak ada pilihan. Keras kota seperti cambuk yang menerpa jiwaku. Aku masuk dalam komplotan preman pasar. Mentalku teruji dalam perkelahian.
“Sur…,” panggilnya sengit. Lelaki besar dan gempal berwajah sanggar memanggilku. “Buatkan kopi!”
“Oke bos,” kataku ceria.
Badan gempal berwajah sanggar adalah bosku. Dia bernama Leonardo. Seperti nama orang barat. Padahal dia datang dari kampung. Bahkan kampungnya masih pelosok pula. Rambutnya gimbal seperti dia tak pernah mandi. Memang ia tak pernah mandi. Mungkin seminggu sekali dia mandi. Dia merupakan bos komplotan preman. Umurnya baru tiga puluh tahun. Nama sebenarnya adalah Giman. Katanya Giman tak menakutkan. Terlalu membuat orang ketawa itu katanya. Bahkan orang tak menganggap dia keren, tetapi dia suka bercerita dan bercanda dan membolehkan kami melakukan hal yang kami suka. Dia juga punya koleksi senjata yang hebat, jadi dia satu-satunya bos preman yang mengagumi budaya warisan.
Aku melangkah menuju dapur. Beberapa gelas kubalik. Air yang sudah masak dan panas kutuangkan kedalam gelas yang sudah kuberi kopi bubuk White Kopi mereknya.
“Sudah siap kopinya,” kataku mendengus tajam.
“Bau harum Sur,” kata bos memuji. “Sepertinya nikmat.”
Beberapa gelas kopi aku letakkan di meja bundar. Aku kembali duduk ditempat tadi aku duduk tadi.
“Pagi ini kita akan bertugas seperti biasa,” kata bos mendengus. “Yang lain seperti biasa. Surya, kali ini kau bertugas ke pasar Minggu Jakarta.” Dia berpaling menatap Jam dan Burhan. “Burhan dan Jam temani Surya.”
“Siap boss!” jawab Burhan dan Jam.
Burhan adalah sabahatku, ia yang mengajakku masuk dalam komplotan preman pasar. Dia lebih tua lima tahun dariku. Wajahnya yang sangar, rambut panjang dan ototnya yang kekar. Jam adalah sahabat Burhan, dia lebih tua tiga tahun dariku. Wajahnya memang elegant tetapi perwatakan keras dan suka bikin onar itulah Jam.
Baru dua tahun aku masuk komplotan preman. Tubuhku yang dulu kecil sekarang nampak otot-otot yang menonjol dilengan. Dua tahun aku mengalami pertumbuhan yang luar biasa pesat. Sekarang aku bekerja bersama Burhan dan Jam. Dulu aku hanya dianggap pesuruh oleh bos Leo. Tetapi karena tubuhku yang kekar, aku mendapat tugas untuk menagih uang keamanan di pasar.
Agak kasar sih pekerjaan ini. Bahkan aku pernah melihat anak buah bos Leo memukul para padagang dengan kejam. Itu memang kewajiban kami, bahkan tak segan-segan para preman merusak dagangan jika uang keamanan tak diberikan. Terlalu kejam dan menyakitkan.
Sebenarnya aku mau meninggalkan pekerjaan ini, tetapi aku mau kemana! Pendidikan formal tak pernah, hanya ijazah SD ada. Jadi bingung mau melakukan apa?
Kami bertiga merapat ke pasar Minggu. Sepanjang perjalanan masuk ke pasar kami biasa mengobrol. Biasa untuk menghilang bosan.
“Burhan!” panggilku sengit. “Sepertinya hari ini aku merasa luar biasa.”
Wajahku nampak bersinar terang. Seperti namaku. Denyutku berdetak lebih kencang seperti genderang mau perang. Emosiku ceria dan terlalu bahagia.
“Memang kenapa?” tanyanya mendengus. “Sepertinya kau tak melihat wajahku. Nampaknya kau bahagia. Aku sedikit kesal.” Dia mengeryitkan dahi.
Aku memandang wajah Burhan memang kesal dan marah. Merah padam yang ditampil seperti singa menerkam. Emosinya seperti manga masam.
“Aku tak tahu,” kataku agak bingung. “Aku hanya merasa bahwa hari ini akan luar biasa.” Aku tersenyum bodoh dengan kebanggaan.
Jam memperhatikanku menyahut dengan suara kesal.
“Mana ada?” tanya Jam sengit. Dia mengeryitkan dahi. “Kita ini preman, bukan pegawai kantoran, bonus pasti ada. Lah kita hanya hinaan yang kita terima.”
Burhan menatap kami turut adil dalam percakapan. Dia memang kesal dan masam tetapi dia memiliki kepribadian unik dalam menengah perdebatan. Tatapan matanya yang sempurna untuk menjadi penengah kami berdua.
“Betul sekali,” sahut Burhan sengit. “Preman adalah penyakit masyarakat yang meresahkan. Jika ada pekerjaan lain maka akan kutinggalkan.” Dia menyorot tajam seperti elang menerkam.
Jam mengedikkan bahu. “Memang itu yang kau pikirkan,” kata Jam mendengus. “Kenapa tak dari dulu saja kau meninggalkan pekerjaan ini?”
“Mana bisa,” kata Burhan menyeringai sengit. “Aku anak buah setia bos Leornado. Sejak umur dua tahun aku ikut bersamanya. Menerima kerasnya jalanan kota.”
Jam mendongak memandang ke Burhan.
“Tak patut,” kata Jam parau. “Memang kau anak buah setia kawan. Terus kau Sur apa yang membuatmu merasa luar biasa?” Dia memicingkan mata.
Wajahku masih berbunga-bunga. Mataku seolah-olah menari diatas daun pagi hari nan indah mempesona.
Aku mengedikkan bahu. “Siapa tahu ada rezeki nomplok?” kataku tersenyum ceria.
Jam terkesiap. “Maksudmu duit,” kata Jam mendengus. “Paling banyak bos saja menerima, lah kita hanya kempretannya saja.” Dia menyeringai sengit dan suram.
Aku nyengir bodoh. “Kau tak tahu,” kataku menyeringai bodoh. “Ini hanya rasaku saja.”
Burhan berpaling memandang jalan. “Jangan bercanda,” kata Burhan agak kesal. Keningnya mengerut. “Sebaiknya kita cepat sampai dipasar. Kita tagih uang keamanan pada pedagang lalu kita kembali ke markas.” Emosinya begitu perang dan tajam mengudara. Dia tampak kesal dengan ekspresi masam.
Mataku menatap wajah Burhan penuh kekesalan. Sama halnya Jam terlalu kesal dan kusut untuk menampilkan muka kebahagiaan. Mereka memang tak mudah diajak bercanda dalam obrolan. Mungkin kerasnya jalan telah mengubah emosi mereka hingga tak bisa dihangatkan.
Jam mengepal tangannya kuat. Dia memasang kuda-kuda tengah sambil melangkah. Dada membusung seperti gentleman siap berperang. “Seperti biasa hari ini tanganku gatal untuk memukul orang,” kata Jam mata melotot.
Aku berpaling menatapnya. Aku mengedikkan bahu. “Jangan sembarang memukul orang,” kataku mendengus sengit. “Dosa nanti kamu tanggung.”
Jam mengangkat dagu. “Dosa apa?” kata Jam bergidik. “Preman pasar memang banyak dosa, tetapi lebih mulia daripada preman negara.”
Perkataan Jam memang ada benarnya. Negara Indonesia merupakan negara terkorup dizaman now ini. Dari anggota dewan hingga pejabat pemerintahan tak tahu malu membuat negara ini merugi. Kerugian yang membuat rakyat merana dan sengsara. Mereka bergemilang harta dan wanita tetapi rakyat jadi korban psikologisnya. Bahkan derita rakyat seperti tontonan bioskop semata.
Burhan mengedikkan bahu. “Kau mengerti juga,” kata Burhan mendengus sengit. “Preman negara tak tahu Pancasila, mereka hanya tahu asusila yang memuja. Harta dunia dikejarnya demi dompet pribadinya semata.”
Aku berpaling mendongak pada Burhan. Aku memicingkan mata. “Maksudmu apa?” tanyaku agak bingung. “Sel-sel kelabumu memang belum mampu mencerna. Tetapi aku merasa hatiku turut berduka untuk Indonesia.”
Membicarakan Pancasila memang bukan perkara mudah. Banyak hal yang terlalu komplek untuk memecahkannya. Dari berbagai pakar membuat ideology negara agar mudah untuk dicerna tetapi banyak pakar hanya membatasi dalam pandangan psikologisnya hingga nilai-nilai Pancasila sebatas wacana. Orang bilang mungkin hanya bantal guling para pejabat dan anggota dewan negara. Mereka hanya peduli kantong pribadinya. Rakyat menderita dibiarkan seperti tontonan telenovela.
Burhan mengeryitkan dahi. “Masih kecil kamu untuk mengetahuinya,” kata Burhan sepihak dan sengit.
“Masih kecil katamu,” kataku mengulang. Aku mengeryitkan mata. “Aku sudah lima belas tahun, memang masalah jika aku mengetahuinya.”
Sepertinya aku kesal mendengar perkataan Burhan. Walau mukaku merah padam tetapi aku tetap saja tak bisa marah padanya. Dia adalah sahabatku. Aku tak ingin menyakitinya. Hatinya begitu luluh ketika wajahnya menyambarku.
Jam bergidik. “Banyak bicara tak baik untuk anak remaja seperti kamu,” kata Jam mendengus. “Lebih baik kau perhatikan kami bekerja.”
“Memang kalian selalu benar,” kataku suram. “Jarang sekali kalian mengalah padaku.”
Burhan mengangkat bahu. “Memang seharusnya begitu,” kata Burhan mendengus. Matanya menyorot tajam padaku. “Kami lebih tua darimu.”
“Kalian masih menganggapku kecil,” kataku sengit. “Padahal kalian tahu aku lebih kuat dari kalian berdua.”
Aku tahu rasa mungkin cukup bosan. Pada detik itu aku kembali menatap Burhan. Dia memberi harapan dan pujian.
Burhan mengedikkan bahu. “Memang kau kuat,” renggut Burhan sengit. “Kau sungguh hebat berkelahi, padahal kami tak pernah melihatmu belajar berkelahi.”
“Sebenarnya aku bingung,” kataku mendengus dingin. “Aku tak tahu seperti apa yang terjadi pada diriku? Kehebatan yang kumiliki ini, aku tahu darimana aku mendapatkannya. Sepertinya ini memang telah menyatu dalam diriku.”
Jam sedikit memperhatikanku bicara. Pikiran dan perilakunya seakan tak mau diam. Dia mengangkat bahu. “Hebat juga kawan,” kata Jam mendengus. “Sepertinya kau terpilih.”
Aku terkesiap. “Terpilih,” kataku mengulang. “Maksudmu aku terpilih apa?”
Aku sedikit terkejut tentang apa yang Jam katakan. Memang aku tahu apa yang dia bicara. Anak terpilih. Memang terpilih untuk apa. Aku bukan anak sekolahan. Aku hanya anak jalanan yang hidup di kerasnya aspal hitam legam dan panas terik matahari.