Jam memasang sikap kuda-kuda. Gerakannya dasar menahan serangan. Kuda-kudanya adalah kuda-kuda serong rendah. Jarak antara kedua kakinya adalah dua bahu. Jarak kedua kakinya ke samping adalah satu bahu. Kaki belakangnya lurus dan dibekokkan, sehingga apabila ditarik garis lurus dari lutut hingga keujung ibu jari kaki, garis tersebut akan tegak lurus pada tanah.
Jam mulai bergerak. Dia meluncur merobek udara. Serangan cepat dilancarkan Jam. Bertubi-tubi dia melakukan baku hantam. Aku sedikit memperhatikan pergerakan Jam. Memang bukan main aksinya. Sepertinya dia telah melatih dirinya untuk melakukan sergapan. Aku makin penasaran ketika Jam melakukan tendangan. Tendangan serongnya yang keras. Melancar deras ke arah kedua bodyguard itu. Aku ingin tahu darimana dia belajar.
Aku menatap Jam saksama. Aku mengedikkan bahu. “Dari mana kau belajar kuda-kuda?” tanyaku mendengus. “Sepertinya kuda-kuda dasarnya benar. Dia seperti tahu cara berkelaji silat.”
Aku mengomentari gerakan dasar Jam. Gerakan yang membuatku sedikit kagum pada serangannya. Apalagi tendangan yang dilakukan sepertinya sangat keras dan mematikan, tetapi kedua bodyguard itu dengan cekatan menghindar. Mereka sedikitpun belum terkulai oleh serangan Jam.
Jam mundur beberapa langkah. Dia menghela nafas. “Kami pernah dilatih bos Leo,” kata Jam mendengus sengit. “Ia memberikan kami latihan dasar silat.”
Aku terkesiap. “Kami,” kataku mengulang. “Memang siapa lagi?”
Aku makin penasaran mengenai siapa saja yang dilatih Bos Leo. Mungkin Burhan atau yang lainnya.
Jam kembali bergerak. “Burhan,” jawabnya sambil menahan tendangan dua bodyguard. “Jangan bicara dulu.”
Jam hampir tersudut. Tangannya masih menahan keras tendangan kedua bodyguard itu. Dia tampak kewalahan menangani gempuran serangan yang makin tajam.
“Oke!” kataku sepihak. “Apa benar itu Bur…?”
Aku berpaling menatap Burhan disampingku. Mataku menyorot saksama.
Burhan berpaling menatapku. Kami saling memandang tajam. “Memang betul,” kata Burhan yang duduk disampingnya. “Waktu kami sepuluh tahun, bos mengajari kami silat. Dia memang pernah masuk pesantren. Tetapi karena hatinya yang kurang teguh dia melarikan diri keluar dari pesantren.”
Aku terkesiap. Aku bergidik. “Bos pernah di pesantren,” kataku mengulang. “Kenapa dia malah jadi preman?”
Aku makin penasaran ketika Burhan mengatakan Bos Leo anak pesantren. Sepertinya aku tak pernah melihat dia mengaji atau membaca Al quran. Mungkin saja ia bersembunyi dibalik kerasnya jalanan. Burhan mengangkat bahu.
“Kalau itu aku tak tahu,” kata Burhan. “Sepertinya itu masalah kehidupan, yang pasti dia memang baik hatinya. Kita sebagai anak buah wajib untuk mematuhinya.”
Aku berpaling mengamati Jam lagi. Aku mengedikkan bahu. “Memang dia nampak sangar kulitnya,” kataku sengit. “Tetapi dia memiliki hati baik, aku pernah melihat menolong janda tua. Janda tua meminta bantuan sana-sini untuk mengobati anaknya, bos Leo memberi bantuan tanpa memintanya untuk dikembalikan.”
Burhan menatapku tajam. “Memang tak salah kita mengikutinya,” kata Burhan. “Sebenarnya kau tahu bahwa uang keamanan ini bukan untuk hak pribadinya tetapi sebagian digunakan untuk pembangunan masjid.” Burhan menyengir bodoh. Dia duduk bergeming sengit.
Aku memuji sikap baik Bos Leo. Memang aku pernah mendengar cerita itu, tetapi saat itu aku masih belum mengerti mengenai masalahnya. Tetapi memang aku pernah mendengar masjid dalam percakapan itu.
“Wah! Benar-benar mulia bos kita,” sahutku tersenyum. “Sepertinya Jam kayak terpojok, apa perlu kita bantu.”
Aku mendongak menatap ke arah Jam. Mataku mengamati waspada. Kukira ada hal yang mengancam bila aku kurang waspada. Jam masih menangani perkelahian. Dia memberi serangan pukulan keras ke arah dua biodyguard. Pukulan lurus yang diluncurkan ditahan oleh kedua tangan bodyguar brewok, bodyguard yang satu melancarkan serangan ke arah muka Jam. Pipi Jam terkena pukulan bodyguard tanpa brewok. Pipinya lebam dan mulutnya mengeluarkan darah. Dia tersungkur ditanah. Tubuhnya sudah penuh luka memar.
Tubuh Jam masih mencium tanah. Dia mengedikkan bahu. “Sial,” guman Jam terdengar ditelingaku. “Sur bantu aku.”
Jam meminta bantuan. Aku melihat ke arah Jam. Seperkian detik. Aku berpaling menatap Burhan hati-hati. Aku mengedikkan bahu. “Sepertinya Jam meminta pertolongan,” gumanku pada Burhan. “Aku melihat dia terdesak.”
Burhan mengamati keadaan. Dahinya mengerut. “Cepat sana bantu,” kata Burhan yang mengamatinya.
Aku melompat maju ke arah perkelahian Jam. Aku melancarkan tendangan keras ke arah tubuh kedua bodyguard. Mereka berhasil mengelak dan menghindar. Keduanya membaca arah gerak tendanganku. Bisa jadi mereka berdua memiliki indra keenam. Aku bergeming dihadapan keduanya.
Bodyguard brewok menyeringai sengit. “Wah!” kata bodyguard brewok. “Sepertinya bantuan datang.” Dia mengeryitkan kening. Matanya menyorot tajam dan sengit ke arahku.
“Masih bocah,” seru bodyguard tanpa brewok sengit. “Sebaiknya kau pulang bocah.”
Mereka mencemoohku. Wajah mereka tersenyum culas seperti meremehkanku. Bahkan mulut kotor mereka mungkin akan mengumpat padaku. Yang paling penting aku berhasil menghalau serangan ke arah Jam. Kedua bodyguard itu mungkin akan menyiksa Jam lebih naas lagi. Aku menatap tajam ke arah keduanya.
Bodyguard brewok mengedikkan bahu. “Bocah! Sebaiknya jangan ikut campur,” katanya sambil tertawa kecil dan sengit. “Temanmu yang gagah dan sangar tersungkur melawan kami. Kau kurus seperti kerempeng kerupuk masih berani menantang kami.”
Rasanya mulut kedua bodyguard itu perlu disumbat. Jika Jam tahu mereka akan menggila seperti ini. Jam mungkin langsung menyerahkan padaku. Jam mulai berdiri. Ia tahu apa yang harus dikatakan.
Jam mengedikkan bahu. “Kau belum tahu temanku,” kata Jam yang terluka. “Dia sanggup melahap kalian dalam sekali serang.”
Jam memberikan dorongan padaku. Dia mencoba melemahkan pikiran kedua bodyguard itu. Tapi mereka sepertinya tak mempan.
“Dasar bocah,” kata bodyguard brewok. Dia mengeryitkan dahi. “Kalian tak tahu diperingatkan.”
Kedua bodyguard itu melancarkan pukulan. Pukulan keras menyasar ke arah wajahku. Dengan menyilangkan kedua tanganku di didepan, aku menangkis serangan dengan kedua tanganku. Tanganku sepertinya tak sakit terkena pukulan keras kedua bodyguard itu. Walaupun aku melihat pukulan mereka sangat tajam dn sengit merobek udara.
Aku mencoba melepaskan tendangan membentang. Lonjakan kedua kakiku yang begitu keras melayang, mengempur dan mendarat di dada mereka. Mereka tersungkur ditanah. Aku bergeming memandang mereka.
Dia mengedikkan bahu. “Bocah,” katanya marah sambil berdiri kembali.
Mereka kembali bergerak. Mereka melepaskan tendangan ke arah tubuhku. Aku mundur beberapa langkah untuk menghindari tendangannnya. Aku mencoba melompat dan melakukan tendangan mendayung. Kakiku mengenai kedua wajah mereka. Mereka kembali tersungkur ke tanah.
“Bangsat,” katanya berdiri kembali. Mereka mengeryitkan dahi. Amarah mereka memuncak di atas kepala mereka.
Bodyguard brewok mengayunkan lengan merobek uadra. Dia melancarkan pukulan keras ke arah wajahku. Aku berhasil menghindar. Dia kembali melepas pukulan keras bertubi-tubi ke arah wajahku. Aku dengan sigap dan cekatan menghindar. Sepertinya respon pikiran dan hatiku selaras dengan gerakan alam. Aku dapat begitu mudah membaca pergerakkan mereka.
Aku mencoba mengambil kesempatan. Aku melesatkan pukulan cepat merobek udara. Bodyguard brewok menghindar dengan senyuman menyeringai sengit. Dia mengayunkan lengan. Dia melesatkan pukulan telak ke arah depan. Aku mencoba menghindar, disusul serangan dalam dan tendangan keras bodyguard tanpa brewok. Tubuhku terkena benturan tendangan. Tubuhku mundur ke belakang. Untung dadaku tak bergetar. Hanya nafasku sedikit sesak. Aku menghela nafas panjang.
“Ternyata kalian hebat,” kataku sengit dan tajam. “Sepertinya kalian sudah terlatih untuk melakukan serangan bersamaan.”
Bukan hanya keduanya tetap bersama dalam serangan. Tetapi mereka memiliki taji berpengalaman. Keduanya sangat sigap melakukan gerakan. Mereka membangun kombinasi hingga membuat gerakanku sedikit terbuka. Bukan percuma jika aku tak bisa membaca gerakan mereka. Hal ini malah membuatku tersenyum bahagia. Aku memandang menyeringai sengit dan tajam.
Brewok mengedikkan bahu. “Kau bocah kemarin sore,” kata bodyguard brewok merenggut sengit. “Sepertinya kau lincah dalam pertarungan. Aku melihat reflek cepat yang kau perlihatkan.”
Kedua bodyguard itu terkagum pada gerakku. Mereka sepertinya telah membaca pikiranku. Mata mereka terkesima menatapku. Bahkan aku yakin mereka mengetahui gerakanku selanjutnya. Mereka menyadari aku melakukan serangan brutal. Bodyguard tanpa brewok memberi tanggapan. Dia mengedikkan bahu
“Ternyata bukan hisapan belaka anak buah Giman,” kata Bodyguard tanpa brewok sengit. “Kau lumayan kuat dan tangguh untuk dijatuhkan.”
Ketika kedua bodyguard itu menyebut nama Giman. aku makin penasaran dan ingin tahu. Aku menyadari bahwa Giman nama lain bosku. Mereka tahu sesuatu tentang bosku. Aku mengedikkan bahu.
“Giman,” kataku mendengus sengit. “Kau kenal nama lama bosku. Siapa sebenarnya kalian?”
Kedua bodyguard menyeringai sengit. Mereka memandangku seolah-olah aku adalah santapan empuk dan menyenangkan. Mereka memicingkan mata dan mengeryitkan kening.
“Oh bocah!” jawabnya sengit. “Sepertinya masih kemarin untuk memahami dunia gelap.”