Surya Kirana (Mayapada)

Hermawan
Chapter #3

Aki Ahmad

Bayangan gelap menuntupi pandanganku. Kenyataannya aku melihat dalam jangkauan mata adalah pemandangan yang mengerikan terjadi. Kota-kota indah dengan gedung-gedung tinggi runtuh dan berantakan. Berserakan membentuk puing-puing kecil sesuatu pemandangan mengerikan. Aku terkesiap menatap ternganga.

“Apa aku mimpi?” 

Alam ini seperti pemandangan dunia yang rusak. Aku merasa alam ini bukan alam yang menyenangkan. Pemandangan yang membuat mataku tercengang. Bangunan runtuh dan berantakan. Bukan pemandangan yang enak untuk dipandang. Jika surga mengapa begini. Jika neraka terlalu naif untuk diceritakan.

Aku melihat bayangan putih. Jika dipandang makin dekat mungkin akan bisa dibedakan. Bayangan itu makin mendekat. Tua renta berjubah putih. Berjenggot penuh wibawa. Matanya dengan garis kerutan.

“Apa dia malaikat?” pikirku ragu. “Apa aku sudah mati?”

Rasanya kematian telah menjadikkanku berfikir ragu. Pikiranku membayangkan hidup atau mati. Apa itu bagus untuk diriku? Sepertinya hal ini membuat pikiranku tampak bayangan kelabu. Lelaki tua makin mendekat menghampiriku. Mulutnya mulai membuka sebuah kata. Beliau mengedikkan bahu.

“Bagaimana nak?” tanyanya hati-hati. “Apa yang kau lihat?” Beliau tersenyum simpul seperti kebijaksanaan membahana.

Sepertinya beliau bertanya padaku. Tetapi aku ragu untuk menjawabnya. Aku tampak tegang dan kaku untuk membuka mulut. Terbungkam dan terpaku dengan rasa gelisah menyambarku. Apa benar beliau manusia atau malaikat berusia tua.

Mungkin aku akan penasaran untuk bertanya. Nyatanya memang aku sedikit bimbang dan ragu melihatnya. Aku bergidik menatapnya. Andai saja beliau memang manusia. Mungkin aku tak perlu merasa gelisah seperti ini. Napasku dalam, teratur. Namun, dengan telingaku aku mendengar sepoi-sepoi tarikan nafas kehidupan... terkadang aku bertanya-tanya apa benar aku mendengar napasnya berbicara. Akhirnya aku punya keberanian untuk menanyakannya saat kakek itu makin mendekat padaku. Aku mengedikkan bahu.

 “Apa kakek bertanya padaku?” tanyaku mendengus. “Apa aku ini sudah mati, atau kakek datang kesini untuk mengambil nyawaku?”

 “Ha….ha..,” Beliau tertawa lepas layak manusia bergembira. “Cukup untuk sekali, ini hanya alam mimpi.”

Kakek itu tertawa kecil di sampingku, beliau memandang bangunan yang telah runtuh dan jatuh. Matanya terlalu tajam untuk aku tatap. Tetapi dia mengalihkan pandanganku. Tatapan yang membuatku makin penasaran untuk bertanya. Aku membuka mulutku perlaha-lahan

“Alam mimpi,” kataku mengulang terkesiap. “Memang aku belum mati, kek!”

Kakek itu menghela nafas. “Jangan salah sangka nak!” katanya datar. “Kau bukan anak sembarang, darah Ksatria mengalir dalam diriku. Pukulan keras yang dilayangkan dua bodyguard itu tadi tak akan membuatmu mati.”

Aku terkesiap. Aku makin penasaran tentang perkataan kakek ini. Rasa ingin tahuku menggepul diseluruh pikiranku. Aku mengedikkan bahu.

“Memang apa yang kakek ketahui tentang diriku?” tanyaku tak sabaran dan ragu. “Aku hanya preman pasar, bukan pahlawan yang pantas menyelamatkan.”

Beliau masih menatapku penuh aura kebijaksanaan tinggi. Matanya seperti gumpalan madu, memberi rasa manis dalam perkataan tanpa ada keraguan dalam kebohongan belaka. Tatapan beliau lembut mengalir seperti air susu.

Beliau mengedikkan bahu. “Seperti kau belum mengetahui dirimu sendiri,” kata kakek tua tersenyum hati-hati. “Apa yang kau rasakan selama ini dalam dirimu?”

Aku menatap kakek itu memang berbeda dari orang tua lainnya. Beliau tampak mengudara tajam dan sengit dibalut kelembutan teduh bijaksana. Kakek itu memiliki aura kuat yang sanggup membungkam diriku bila aku berani padanya. Beliau menjangkau seluruh imajinasi pikiranku.

Aku memandang dingin dan ragu. “Aku jago berkelahi,” kataku mendengus sengit. “Untuk yang lainnya memang aku belum pernah merasakan. Tetapi aku mendengarkan gemuruh badai dalam diriku.”

Kakek itu menatapku penuh kebijaksaan kembali. Senyum tersungging disela kumis dan janggutnya.

“Kau pernah mendengar kata bawa,” kata kakek itu. “Atau disebut perbawa, tetapi utuk lebih mudahnya banyak orang menyebutnya bawa.”

Aku mengingat kembali, ketika bertarung dengan kedua bodyguard itu di dunia nyata. Mereka juga menyebut kata bawa. Saat mereka berhasil menyudutkanku. Apa ini yang dimaksud kakek ini. Aku mengedikkan bahu.

“Pernah,” kataku merenggut sengit. “Apa ini ada hubungan dengan dua bodyguard yang pernah aku lawan?”

Aku makin penasaran untuk mengetahui detailnya. Sepertinya kakek itu mengetahui banyak tentang bawa. Aku melihat matanya tak ada kebohongan belaka. Apa yang terjadi jika aku bertanya? Mulut kakek itu sedikit terbuka.

Beliau tersenyum. “Sedikit,” kata kakek tua. “Dua bodyguard yang kau lawan itu, sebenarnya mereka telah mengabdikan dirinya untuk utusan dari Setra.”

Aku terkesiap. “Apa lagi itu?” tanyaku ragu. “Setra, utusan dari Setra. Maksud kakek apa?”

Aku sedikit penasaran tentang ucap kaket tua itu. Kakek itu seperti tersenyum padaku. Beliau mengedikkan bahu. “Layak padi,” kata kakek itu. “Semakin tinggi ilmu maka semakin menuduk.”

Kakek itu melayangkan peribahasa dalam pembicaraannya. Untuk maksud dan artinya memang aku tak mengerti. Bagaimana aku mengerti? Aku tak pernah menyentuh bangku sekolah? Aku bertanya padanya. Aku mengedikkan bahu.

“Maksud kakek?” tanyaku penasaran dan ingin tahu.

“Apa kau tahu siapa ayahmu?” tanya kakek itu. Matanya tampak menatap penuh rasa iba padaku. Seakan beliau bertanya penuh kesan terdalam. Tatapannya yang focus penuh kemuliaan. Kakek itu seperti payung teduh untuk melindungku.

Aku terkesiap. “Ayahku,” kataku mengulang membelalak. “Aku belum melihat wajahnya. Bahkan wajah Ibukupun tak tahu. Nenek bercerita padaku kalau mereka orang baik.”

Kakek itu menghela nafas lagi. Beliau menatapku penuh kebijaksaan kembali. “Sudah waktunya kau untuk mengetahui,” kata kakek itu.

Aku sedikit terkesan tentang apa yang akan kakek itu bicarakan. Mengetahui keluargaku, memang itu yang ingin aku ketahui. Tetapi apa kakek itu mengetahuinya. Itu yang ingin aku tanyakan. Aku menyunggingkan senyuman.

“Mengetahui tentang apa kek?” tanyaku sengit.

Kakek itu kembali membusung dada dan menghela nafas lagi.

“Kisah ini sudah lama terjadi,” kata kakek itu hati-hato. “Dimana gerbang kematian dan kejahatan terbuka lebar membentang? Masa dimana ayahmu berada masih hidup dan berperang melawannya?”

Aku bergidik. “Berperang!” tanyaku penasaran dan tak sabaran. “Memang masa modern seperti ini masih ada perang.”

Aku mendongak menatap mantab kepadanya.

Lihat selengkapnya