“Aki!” panggilku. “Tunggu! Jangan pergi dulu. Aki! Aki! Aki Ahmad tunggu!”
Aku terbangun.
Tanpa sadar aku memegang tangan. Tidak yakin dimana aku berada. Aku melihat wajah seorang gadis. Tangannya aku pegang. Aku tidak yakin berpegangan tangan dengan cewek yang tidak dikenalnya.
“Maaf!” kataku parau.
Bukan bagian itu yang payah. Cewek ini manis, dia memakai hijab panjang. Tapi aku tidak tahu siapa gadis itu. Dan apa yang dirinya lakukan padaku membuat bingung. Aku duduk tegak dan menggosok-gosok mataku, mencoba berpikir.
Dia tersenyum simpul. “Kau sudah sadar,” katanya lembut. “Sudah sebulan kau terbaring ditempat tidur.”
Dia menanyakan tentang keadaanku. Otak-otakku memang masih terbang melayang menembus imajinasiku. Tetapi perilakuku masih bisa diterima untuk sikap manusia biasa. Aku sungguh terpesona padanya. Wajahnya memang menawan kumbang-kumbang tanam sungguh menapar pikiranku. Aku ingin menanyakan hal yang semestinya. Aku mengedikkan bahu.
“Apa yang terjadi padaku?” tanyaku hati-hati. “Terakhir kali aku terkena pukulan keras. Sejak saat itu aku tak ingat apa-apa?”
Saat dia mendongak memandangku, aku sungguh terkesan dengan senyumannya. Senyumannya yang mengambang merekah bagai mawar bunga. Ketika dia berbicara sungguh hujan madu dalam hatiku.
Dia mengedikkan bahu. “Kau pingsan,” katanya ceria. “Hampir enam minggu kau tak sadarkan diri.”
Aku terkesiap. “Pingsan!” kataku mengulang. “Apa kau yang merawatku? Lalu kau siapa?”
Tanpa sadar aku memperhatikan pandangannya. Matanya hitam legam yang melingkar indah dan menawan bagai mutiara yang menjaga keindahan. Dia tersenyum simpul tersungging disela bibirnya. Aku terkesima menatapnya.
Wajahnya yang manis. Senyuman yang mempesona. Bagai bunga yang merekah indah ditaman surga.
“Kukira aku mati,” sahutku parau. “Karena didepanku ada bidadari.”
Aku tanpa sadar sedikit menggoda. Bila mana aku bisa ngombal mungkin aku melakukan. Tetapi itu bukan sikap Ksatria. Terlalu banyak rayuan hanya menipu pikiran belaka.
Dia memicingkan mata. “Jangan ngaco,” katanya sengit. “Kau masih hidup, kau ada dirumah kakakku.”
Dia agak kesal memandangku. Tetapi walau begitu dia tetap menawan. Matanya indah. Bola mata hitam legam seperti pingpong membuat jantungku terkesima.
Aku bergidik. “Kakak,” kataku mengulang datar. “Siapa kakakmu?”
Aku menatap tajam padanya. Dia malu memandangku terlalu lama. Matanya bermain dengan begitu terkesima. Bola matanya menari-nari membuat hatiku begitu dalam ingin terus memandangnya.
Dia mengedikkan bahu. “Giman,” katanya sepihak.
Lalu dia terdiam dan berpaling. Seperkian detik mata kembali menatapku lagi dengan tajam. Aku sungguh tersiram madu kehidupan. Jantungku hampir mati berdebar-debar. Membara menusuk jiwa tetapi hatiku tetap memiliki adab baik padanya. Menjaga sikap dan perilaku mulia agar sopan santun terhadapnya.
Aku mengedikkan bahu. “Giman,” ulangku agak kaget. “Jadi kau adiknya bos Leonardo.”
Sejenak aku berfikir. Cantik sekali, pikirku. Dia memang cantik seperti bidadari surga.
“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya sinis dan menyebalkan.
Dia mengeryitkan dahi bukan kepalang. Hal ini membuat dia mempertanyakan. Memang salah jika aku berfikir. Tetapi manusia memang berfikir jika tak berfikir ya pasti mati. Aku menjawab menyembunyikan semuanya.
“Tidak,” kataku berbohong parau. Aku memandang seluruh isi ruangan. Kulihat seorang laki-laki tidur di sofa dan dua orang berjaga dipintu. Wajah lelaki itu tak lain adalah bos Leonardo. Sementara dua orang itu adalah Burhan dan Jam. Lelaki disofa itu mengusap matanya. Dengan tubuh gempal, dia mencoba melepaskan tubuhnya dari alas sofa. Ketika dia duduk sempurna sambil menyeruput minuman didepannya. Dia mengedikkan bahu.
“Kau sudah bangun, Sur!” katanya tajam. “Kukira kau akan mati, hampir enam minggu kau tak sadarkan diri.” Dia mneyeringai sengit. Ekspresinya nyengir bodoh.
Bos Leo mencoba bercanda denganku. Aku tahu dia khawatir padaku. Dia memang ceria dan comedian. Matanya tampak merah mungkin dia terlalu lama bersedih. Kulihat gumpalan kotoran matanya masih tertinggal disudut mata. Aku mendongak menatapnya tajam.
“Terima kasih bos telah merawatku,” kataku. “Mohon maaf aku tadi memegang tangan adik bos.”
Leo nyengir bodoh. Dia tersenyum ceria dan menggoda. “Tak apa-apa!” kata bos ceria. “Kau hanya kebetulan saja, bukan berarti aku mengizinkan. Kalian bukan mahrom.”
Bos Leo memberi peringatan. Kata-katanya memang tak langsung tertuju. Tetapi aku tahu lewat matanya. Matanya mengeryit keatas adalah peringatan. Ketika dia menyeringai memang aku takut bukan karena dia bosku. Tetapi aku takut jika kesalahan menimpaku. Karena kebenaran menang keutamaan. Aku memberi tanggapan untuk menjauhi segala bentuk keburukan. Aku mengedikkan bahu.
“Tidak!” kataku. “Aku akan lebih berhati-hati lagi.”
“Bagus,” katanya. Bos Leo menebar senyuman. Gigi-gigi yang besar terlihat seperti gergaji yang tajam.
Matanya memang tak banyak pilihan. Secara tak sadar aku sering memandang adik bosku. Reflek cepat mataku untuk berpaling memandangnya, hingga membuatku hanyut dalam pikiran gilaku.
Gadis itu mengenakan dress muslim lengan panjang, dengan hijab panjang menutupi kepalanya. Dia tidak menggunakan rias wajah, seolah sedang berusaha untuk tidak menarik perhatian, tapi itu tidak berhasil. Dia sangat cantik. Warna matanya berubah-ubah bagai mutiara hitam dan putih.
Gerakan terakhir reflek mataku seperti membuat risih pandangan Bos Leo. Dia mengedikkan bahu.
“Apa yang kau lihat Sur?” tanya Leo menatapku tajam. “Sepertinya matamu tak bisa dibohongi. Jangan terlalu lama memandangi nanti matamu rabun.” Kemudian dia meledakkan tawa.
Bos Leo memang hanya memberi haluan. Tetapi aku sadar memang itu sebuah kesalahan. Apalagi gadis itu memang terlihat risih saat aku pandang. Kulihat wajahnya merah merona mengagumkan. Aku sempat terkesima sejenak dibuatnya.
“Ah masa, bos,” kataku meringis. “Tak mungkin melihat gadis secantik ini berpaling.”
Aku agak sedikit bercanda untuk memecah suasana. Tetapi bos Leo memang kesal, wajahnya meram padam. Dia mengeryitkan kening kencang.
“Dasar kau sinting,” kata Leonardo sengit. “Dia adikku jangan terlalu memandangnya, nanti nafsumu membara.” Tangannya tampak mengepal berat di hantamkan dipungguh sofa. Matanya melotot tajam dan sengit. Bos Leo menyeringai sengit padaku.
“Astaghfirulloh,” kataku. Aku memohon ampun kepada Allah.
Seperkian detik Leo nyengir bodoh. Dia berpaling menatap meja untuk meraih segelas minuman the. Dia menghirupnya. Kemudian mengedikkan bahu.
“Kalau cantik,” kata Leonardo dingin dan datar. “Masya’alloh.” Ungkapan untuk kekaguman pada hal yang indah dan mempesona.
“Oke bos,” kataku tersenyum. “Sepertinya itu memang pantas untuk adik bos.”
“Jangan bercanda,” kata Leonardo sengit. “Memang kau tahu siapa dia?”
Aku menatap tajam Leonardo. Aku serambi melirik ke arah adikynya. Kemudian aku berpaling tajam ke arah Leo
“Tak!” kataku parau. “Namanya siapa bos?”
Aku ingin tahu siapa nama gadis cantik yang ada disamping bosku. Mataku sungguh terpesona akan kecantikan alaminya. Mata pingpongnya yang mengudara seperti memberi deru hatiku. Dia melompat-lompat sempurna dibayangan imajinasiku.
“Apa kau perlu tahu?” kata Leonardo sengit. “Dia hanya seminggu disini, habis itu dia kembali ke pesantren.”
Rasa hatiku mungkin makin mengebu. Tatapan matanya penuh taman bunga, menawan hati bagi yang melihatnya. Dia memang mempesona.
Aku terkesiap. “Pesantren,” kataku mengulang. “Pesantren mana? Apa pesantren Mayapada?”