Surya Sebelum Temaram

ayu saraswati
Chapter #1

#Prolog

Salah satu kamar dalam unit rumah susun itu hanyalah sepetak ruang sempit yang nyaris tak memberi jarak antara satu benda dengan benda lainnya. Dinding-dindingnya berdiri rapat, menahan keheningan yang mengendap di setiap sudut kamar. Cahaya dari jendela kecil jatuh samar ke lantai, terpotong bayangan tirai yang tak sepenuhnya tertutup. Di sudut ruangan, seprai di atas kasur berukuran sedang terhampar berantakan dengan seonggok boneka panda lusuh yang tergeletak menyedihkan. Bulunya telah kusam setelah bertahun-tahun menemani tidur dalam pelukan pemiliknya. Benda itu akan tetap berada di sana, tak akan ke mana-mana karena sang pemilik telah pergi jauh tanpa sempat membawanya.

Pada sisi lain kamar tersebut terdapat meja kerja kecil dengan kursi plastik murah. Perempuan itu duduk membungkuk di sana. Pakaian yang dikenakannya masih sama seperti kemarin, saat ia berangkat ke pemakaman. Kemeja hitam dengan bawahan rok plisket yang juga berwarna senada. Rambutnya terurai berantakan, sorot matanya kosong sama seperti perutnya yang belum diisi apa pun. Gunungan tisu bekas bergeletakan di atas meja kerja, barang seperti laptop dan buku catatan tertimbun oleh bekas tisu yang terlampau banyak itu, oh jangan lupakan bungkusan makanan di ujung meja. Sebungkus nasi kuning yang suaminya taruh tadi pagi belum disentuhnya sama sekali. Arunala Ratri tak yakin apakah makanan itu bisa masuk ke dalam perutnya sementara dirinya telah dikenyangkan oleh duka.

           Sekitar dua belas jam yang lalu, pemakaman anaknya telah dilakukan. Tubuh kecil itu dikubur bersamaan dengan jiwa seorang ibu yang juga ikut mati, menyisakan ruang kosong di relung hatinya yang tak dapat ia isi dengan apa pun.

           Rasa perih yang menghujani dirinya mengaburkan batas kenyataan menjadi penyangkalan. Tatkala putranya ditemukan meninggal, perempuan itu terus beranggapan bahwa pasti ada kesalahan. ”Dia belum meninggal! Siapa saja, tolong lakukan pertolongan pertama!”

Arunala menolak untuk menangis di depan semua pelayat yang datang, bahkan suaminya tak ia izinkan untuk melihat sisi dirinya yang berduka. Namun sekuat-kuatnya sebuah ketegaran, jika terus-menerus dihantam kenyataan akan rebah rempah pula. Perempuan itu menumpahkan semuanya semalaman di ruangan tersebut, batinnya sudah tak kuat bersandiwara. Menangis, berteriak, muntah, menendang kursi, memukul lantai, dan diakhiri dengan melamun sepanjang malam hingga pagi menjelang dengan tatapan kosong.

Suaminya, Dhanuarta Seta berkali-kali telah menawarkan untuk mendampinginya. Pria itu pun berduka sebesar tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga. Walau begitu, Arunala tetap enggan melihat wajah suaminya dulu untuk sementara waktu. Dhanu memang tak menyalahkannya akan kematian putra mereka, Surya, tapi ada sedikit perasaan kesal menyelimuti hati Arunala yang sedang sensitif itu. Sesuatu yang tak mengenakan terdengar dari beberapa pelayat yang datang.

”Bagaimana bisa anaknya lepas dari pengawasannya?”

”Ceroboh sekali....”

”Mungkin belum siap jadi ibu, dengar-dengar mereka menikah muda karena hamil lebih dulu.”

Lihat selengkapnya