Surya Sebelum Temaram

ayu saraswati
Chapter #2

#1 Keluarga Kecil

Rumah susun abu-abu delapan lantai itu berdiri di sisi jalan raya. Bukan tipikal bangunan yang mewah, cukup untuk dijangkau kelas menengah. Dhanuarta Seta berjalan menuju bangunan itu. Ini sudah memasuki tahun kesebelas pria itu tinggal di sana. Saat baru menjadi mahasiswa, ayahnya menyewa satu unit kamar di lantai bawah untuk empat tahun, biayanya jauh lebih murah ketimbang tinggal di indekos sekitar kampus. Namun sebelum ia berhasil menamatkan kuliahnya, Dhanu menikahi seorang perempuan yang merupakan adik tingkatnya di kampus. Pada akhirnya, dia memilih pindah ke unit rumah susun yang lebih besar di lantai lima karena ia akan tinggal bersama keluarga kecilnya.

Tangan kanan Dhanu menenteng plastik belanjaan sementara tangan kirinya memegang dua gagang balon berwarna hijau dan biru, ia mendapatkannya secara gratis dari toko kelontong yang baru buka. Lumayan untuk anaknya. Hari ini adalah jadwalnya untuk belanja dan istrinya menjemput Surya, anaknya. Mungkin sekarang mereka sudah pulang.

Dhanu dan istrinya sama-sama bekerja di bidang industri kreatif. Pria itu adalah seorang desainer grafis di perusahaan makanan ringan, sementara istrinya adalah penulis novel, cerita pendek, dan artikel juga untuk surat kabar. Walau istrinya bekerja dari rumah, dia sangat paham bahwa pekerjaan istrinya tidak mudah. Maka dari itu, sejak awal menikah dia telah membulatkan tekad untuk mengurus pekerjaan rumah bersama-sama. Dia tahu memang seharusnya seperti itu tugas seorang suami, membantu istri. Tapi di jaman sekarang ini, laki-laki kebanyakan tak mau ambil pusing dengan pekerjaan rumah dan mengurus anak, pokoknya hanya mau tahu beres. Bagi pria berkacamata itu, hal-hal seperti membersihkan rumah, memasak dan mengurus anak bukan masalah baginya.

Dhanu memasuki area rusun yang sore itu lengang. Halaman kosong kecil di antara bangunan tampak lapang, hanya sesekali dilintasi penghuni yang baru pulang atau anak-anak yang bermain tanpa banyak suara. Dari kejauhan, terdengar samar bunyi kendaraan dari jalan utama. Tak jauh dari rusun tersebut, terlihat sebuah apartemen baru menjulang dengan bangunan yang masih tampak segar. Dindingnya bersih, kaca-kaca jendelanya berkilau diterpa cahaya sore. Harga hunian yang ditawarkan pun tidak terpaut jauh dari biaya tinggal di rusun dengan fasilitas yang lebih lengkap, membuat sebagian penghuni lama rusun itu mulai beralih. Sejak itu, kawasan rusun tak seramai dulu saat Dhanu masih jadi mahasiswa. Dia sempat memikirkan apakah baiknya dia membawa keluarganya pindah juga ke apartemen jika sudah naik jabatan, walau rusun ini memiliki banyak kenangan.

Pria itu memasuki lift yang pintunya baru saja terbuka. Ruang sempit itu kosong, hanya menyisakan pantulan dirinya sendiri pada dinding logam yang mengilap. Tangannya terangkat menekan tombol bernomor lima, lalu ia berdiri sedikit menepi, menunggu pintu kembali merapat.

Belum sempat kedua daun pintu itu bertemu, terdengar langkah kaki tergesa dari arah lorong. Seorang perempuan muncul dan menahan pintu dengan tangannya sebelum akhirnya ikut masuk. Napasnya terdengar tersenggal-senggal.

Dhanu melirik sekilas. Ia tidak mengenal perempuan itu. Perempuan tersebut berdiri di sisi lain tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Perempuan itu tak menekan deretan tombol di samping pintu. Dhanu menunggu beberapa detik, barangkali si perempuan mau menekan tombol lift lebih dulu. Karena perempuan itu hanya diam Dhanu duluan menekan tombol ke lantai lima.

”Anu ... bisa tolong saya, Mas?”

Dhanu refleks menoleh ke arah si perempuan. Raut wajah perempuan itu tampak panik, ketakutan, seperti habis dikejar-kejar sesuatu.

”Ada yang bisa saya bantu?”

Perempuan itu terlihat ragu sesaat. Namun pada akhirnya dia menyampaikan niatnya. ”Sebelumnya perkenalkan, saya Marisa, baru tinggal di lantai enam selama seminggu, tapi baru-baru ini saya diikuti oleh penguntit. Apa boleh sebentar saja saya ikut masuk ke unit Mas untuk sembunyi? Hanya sebentar saja sampai dirasa dia berhenti mengikuti. Kebetulan kemarin saya ketemu dengan istri Mas, Arunala. Beliau tahu masalah saya.”

Dhanu agak kikuk dalam merespons hal ini. Tapi saat tahu jika perempuan itu mengenal istrinya, dia agak sedikit tenang. Setidaknya, pria itu tak akan disalahpahami oleh istrinya lantaran membawa perempuan asing masuk ke dalam unit rusun mereka.

”Bahaya juga kalau dia tahu detail alamat Mbak ... ya sudah boleh saja ke tempat kami untuk sembunyi sementara waktu.”

Perempuan itu tersenyum lantas membungkuk kepadanya. ”Terima kasih banyak.”

Keduanya berjalan keluar dari lift menuju unit kamar bernomor 5A-05. Dhanu membuka pintu unitnya, serta-merta Surya berlari menuju Dhanu tatkala netranya menangkap dua buah balon yang dipegang sang ayah.

”Wah balon, dapet darimana, Yah?”

”Dapet gratis saat belanja tadi. Ayah beli buku bacaan juga buat kamu, biar gak nonton TV terus.” Dhanu mengeluarkan buku dongeng bergambar dan dua buah majalah anak dari kantong belanjanya, memberikannya pada anak tujuh tahun itu. 

Sementara itu, Marisa ikut masuk ke dalam unit rusun setelah dipersilahkan oleh Dhanu. Tampaknya dia bukan tipe orang yang mudah dekat dengan anak-anak, jadi dia hanya diam memperhatikan ayah anak itu dengan datar.

Tak lama, Arunala datang dari arah dapur menghampiri mereka. ”Marisa? Penguntit itu masih mengikuti kamu?”

”Iya, maaf sekali kalau aku harus merepotkan kalian. Sebentar lagi aku kembali ke unitku.”

”Tenang saja. Tidak masalah sembunyi di sini dulu untuk sementara.”

Marisa berterima kasih. Perempuan itu dipersilahkan duduk di sofa ruang tamu mereka tapi tak lama dia memutuskan untuk kembali ke unitnya di lantai enam karena merasa tak enak menganggu waktu keluarga kecil itu.

”Sejak kapan kalian berteman?” tanya Dhanu beberapa saat setelah Marisa pergi meninggalkan unit rusun mereka. Pria itu berjalan ke arah kulkas sambil menenteng tas belanjaannya, berniat memasukkan stok bahan masak yang baru ia beli tadi.

”Kami belum sedekat itu. Aku pun baru kenal beberapa hari yang lalu. Waktu itu pakaian yang dia jemur jatuh ke balkon depan unit kita. Terus ya sudah kita kenalan dan dia bercerita kalau dia baru pindah ke sini karena mantan pacarnya yang lama menguntit dia terus,” jelas Arunala. Sesekali dia harus menanggapi Surya dengan rasa penasarannya bertanya arti istilah-istilah seperti ”mantan” atau ”penguntit” yang baru anak itu dengar.

”Oh, begitu.”

           Selesai menata barang belanjaan di kulkas, Dhanu menghampiri Arunala yang tengah menemani Surya yang sedang fokus membaca buku cerita. Ditatapnya perempuan berambut sebahu itu hingga si perempuan salah tingkah ditatap demikian.

”Kenapa sih lihatnya begitu?”

”Memangnya aku tak boleh melihat perempuanku sendiri?”

Arunala menahan senyum, tetapi belum sempat membalas, Dhanu sudah lebih dulu mendekat dan mengecup pipinya. Ia sontak meninju bahu pria itu pelan, lebih sebagai bentuk protes daripada benar-benar ingin menjauh. ”Dasar!”

Dhanu hanya terkekeh, menikmati wajah Arunala yang mulai memerah. Perempuan itu segera mengalihkan pandangan, berpura-pura kembali memperhatikan sesuatu di hadapannya meski senyum kecil masih tersisa di sudut bibir.

Dari tempatnya duduk, Surya yang sedari tadi berusaha membaca akhirnya mengembuskan napas panjang. Bocah itu menurunkan bukunya dan memandang kedua orang tuanya dengan wajah jengkel.

Berakhir dengan si bocah yang mengoceh pada keduanya. ”Mama, Ayah ... pacaran terus, Surya tidak fokus baca buku.”

Percakapan kecil itu membuat keduanya menyunggingkan senyum. Ini tahun ketujuh mereka menikah tapi terkadang tingkah keduanya masih seperti orang yang baru pacaran. Kebersamaan keluarga kecil itu terkadang membuat Dhanu dan Arunala teringat akan masa lalu.

Dhanu yang kala itu adalah mahasiswa semester akhir jurusan Desain, Komunikasi, dan Visual sedang stres-stresnya dengan projek akhir. Pemuda itu merasa tak mampu menyelesaikan projek akhirnya di semester ini. Bagaimana tidak, dia belum menyelesaikan proposal tugas akhirnya sementara temannya yang lain sudah bersiap untuk sidang tugas akhir. Besar prediksinya jika ia akan menambah semester dan lulus tak tepat waktu.

Pengeluaran semester akhir sangatlah banyak dan dia sudah merencanakan akan membayar uang semester tambahannya sendiri. Dhanu hanya tinggal berdua dengan ayahnya, ia anak tunggal dan ibunya sudah lama meninggal. Walau terbilang berkecukupan, Dhanu tak mau merepotkan ayahnya lagi sehingga ia memilih untuk bekerja sambilan di tempat percetakan milik temannya. Lokasinya hanya berjarak dua puluh meter dari kampus. Dari tempat itulah awal pertemuannya dengan sang seorang perempuan yang kelak akan menjadi istrinya.

Sementara itu, Arunala Ratih merupakan mahasiswi tahun pertama jurusan Sastra Indonesia. Gadis itu lolos seleksi beasiswa untuk berkuliah di kampus swasta tersebut sampai lulus. Kondisi ekonomi keluarganya cukup pas-pasan. Dia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Tak ada kakak-kakaknya yang melanjutkan kuliah, dua kakak laki-lakinya bekerja sebagai pedagang mengikuti jejak sang ayah, satu kakak perempuannya bekerja menjaga konter pulsa, dan satu kakaknya yang lain sedang sibuk mencari info lowongan pekerjaan. Orang tuanya adalah tipikal orang tua yang beranggapan jika kuliah tak ada gunanya, lebih baik langsung cari kerja. Mereka semula menentang keinginan Arunala untuk berkuliah tapi dirinya berhasil membuktikan jika dia bisa mendapat beasiswa dan tak akan meminta uang untuk keperluannya selama kuliah. Arunala memiliki hobi menulis maka dari itulah dia memanfaatkannya untuk mencari uang. Sejak kuliah di jurusan sastra, ia membuka jasa mengetik dan kerap mengirimkan karyanya ke surat kabar lalu dibayar setelah karya lolos untuk dipublikasikan. Uangnya memang tidak banyak, tetapi cukup untuk kebutuhan kecil sehari-hari.

Suatu pagi, seniornya di kampus membayar Arunala untuk dibuatkan puisi romantis lalu mencetaknya menjadi booklet dengan desain yang manis. Booklet itu akan digunakan si senior untuk menyatakan cinta pada teman sekelas Arunala nanti sore. Karena permintaannya sangat mendadak, Arunala mencari percetakan yang lokasinya dekat dengan kampus. Di sanalah ia pertama kali bertemu Dhanu, pekerja di tempat percetakan.

“Bisa selesai sebelum jam tiga?” tanya Arunala sambil sedikit terengah. Rambutnya masih berantakan karena tadi buru-buru keluar kelas.

Dhanu mengangguk kecil, lalu mulai membuka file yang dikirim di komputer kasir. “Ini siapa yang membuat desain?”

“Saya sendiri.”

Lihat selengkapnya