Gelap.
Hanya itu yang Tara tahu ketika matanya ditutup rapat oleh blindfold kulit hitam. Permukaannya dingin, kaku, dan melekat erat di pelipisnya. Di baliknya, bulir keringat mulai muncul dan mengalir perlahan ke sisi wajahnya. Jantungnya berdebar begitu keras, seolah akan pecah, menghantam rongga dada yang kian sempit.
Kedua tangannya terikat pada sandaran kursi kayu dengan tali kulit yang dingin dan licin. Tidak kasar seperti serat tambang, tapi keras dan kaku, menekan pergelangan hingga kulitnya terhimpit perih. Kakinya pun terkunci dengan ikatan serupa di kaki kursi bagian bawah. Tubuhnya duduk kaku, terjepit oleh kayu dingin dan kulit yang mengekang—tidak ada celah untuk lari.

Dari sisi lain dalam ruangan itu, terdengar langkah mendekat. Pelan, berirama, nyaris seperti dentang jam dinding yang menghitung habis waktunya. Tara ingin menoleh, ingin memastikan dari arah mana suara itu datang, tapi lehernya terkunci oleh ketegangan.
Lalu—
Whisssh!
Suara cambuk membelah udara. Tidak mengenai kulitnya, hanya lewat, tapi cukup untuk membuat punggungnya menegang. Napasnya tercekat. Ujung jarinya mencengkeram lengan kursi yang dingin dan keras. Ia tahu ia tidak sedang benar-benar terancam... tapi tubuhnya bereaksi seakan bahaya nyata tengah mengintai.