Pintu kayu itu berderit panjang saat didorong, suaranya mirip keluhan orang tua yang dipaksa bangun dari tidur panjang. Tara berhenti sebentar di ambang pintu, menimbang apakah ia sudah siap untuk menerima kenyataan: inilah kamar barunya. Kecil, pengap, dan jauh dari kata layak. Tapi ia tahu, setelah semua tawar-menawar panjang dengan ibu kos, hanya ini yang bisa ia bayar.
Ruangan itu berisi satu ranjang single dengan kasur tipis, pegasnya mungkin sudah patah di beberapa titik. Sprei putih tanpa motif menempel rapat seolah enggan dilepas, menutupi noda samar yang tidak bisa hilang. Di sisi kanan berdiri sebuah lemari kayu tinggi, warnanya kusam, digerogoti usia. Sudut bawahnya sedikit lapuk, dan ketika Tara membuka salah satu pintunya, bau apek bercampur wangi kamper murah langsung menyerbu hidung. Ada coretan spidol di dalam pintu: "Lilis 2021—kosan ini kayak neraka." Tara menelan ludah, lalu buru-buru menutupnya kembali.
Ia menurunkan ranselnya ke lantai, suara resleting dibuka terdengar nyaring di tengah keheningan ruangan kosong itu. Jendela kecil di pojok hanya menghadap tembok rumah tetangga. Cahaya sore merembes redup, membuat debu-debu di udara tampak jelas. Tara mengembuskan napas panjang. "Ya Tuhan... beneran aku tinggal di sini?" gumamnya, separuh antara tawa getir dan keputusasaan.
Beberapa hari terakhir hidupnya terasa seperti ditarik paksa ke arah yang ia benci. Uang tabungan menipis, ibunya yang sakit tidak bisa lagi menolong, dan adiknya yang masih SMA tentu tidak boleh dipaksa mencari uang. Tara tahu sejak lama bahwa ia harus menjadi tulang punggung. Tapi ia tidak pernah membayangkan akan sampai di kamar sempit seperti ini, di kota besar yang terasa asing.
Pintu diketuk dua kali. Tara refleks menoleh. Dari luar terdengar suara perempuan, agak parau tapi hangat.
"Dek, kamu yang namanya Tara ya?"
Tara buru-buru menutup ranselnya dan berjalan ke pintu. Di depannya berdiri seorang perempuan setengah baya dengan daster batik lusuh, wajahnya bulat dengan rambut disanggul seadanya. Namanya Bu Rini, ibu kos.
"Iya, Bu," jawab Tara, mencoba tersenyum.
"Bagus. Kalau butuh apa-apa, telepon saja saya ya. Kamar mandi ada di belakang, sama-sama dipakai, jangan lupa antri. Dapur juga di belakang, bisa dipakai bareng, tapi tolong bersihin tiap habis masak. Kalau malam jangan ribut, tetangga sebelah gampang ngamuk. Listrik udah termasuk, tapi jangan kebanyakan colokan ya, nanti MCB-nya jeglek." Ia bicara cepat, seakan sudah mengulang kalimat itu ribuan kali pada penghuni baru.
Tara hanya mengangguk-angguk, sedikit kewalahan.
"Oh iya, di sini ada tujuh orang cewek, termasuk kamu. Yang paling lama tinggal ya Elvira, biasanya dipanggil El, kamarnya tuh, pas di seberang kamarmu. Orangnya rame, kamu nanti kenal juga. Satu lagi si Dina, kuliahnya di jurusan hukum, agak galak dikit. Ada juga anak yang kerja di butik, terus ada si Tami yang sering pulang malam, soalnya part-time di kafe. Terus ada Vanya, anaknya alim, jilbaban, suka ngingetin yang lain soal sholat—tapi ya kamu rasain sendiri nanti, kadang suka bikin keki juga. Sama ada Siska, kuliah kedokteran, jarang keluar kamar, paling pendiem tapi sebenarnya baik. Pokoknya kalian atur sendiri lah. Saya nggak suka ikut campur kok, asal bayarnya lancar."
Bu Rini tersenyum samar, lalu menyerahkan satu kunci kecil dengan gantungan plastik merah. Di tengah gantungan itu tertera angka 5 dengan spidol hitam, agak pudar tapi masih jelas terbaca.
"Ini kunci kamarmu. Simpan baik-baik. Kalau hilang, ganti sendiri."
"Terima kasih, Bu," ujar Tara pelan.
Begitu Bu Rini pergi, Tara menutup pintu dan kembali menatap kamarnya. Sunyi lagi. Ia duduk di ranjang, mencoba merasakan pegas yang sudah lelah menopang. Punggungnya langsung protes. Ia memejamkan mata sebentar. Bayangan ibunya muncul, berbaring lemah di rumah sakit beberapa minggu lalu. Kata-kata terakhir sebelum Tara berangkat masih membekas: "Jangan takut, Ra. Hidup di luar emang keras, tapi Ibu percaya kamu pasti kuat."
Tara menggigit bibir, menahan rasa sesak yang tiba-tiba naik. Ia benci menangis di tempat baru, apalagi di ruangan yang bahkan belum terasa seperti rumah.