Sweet Agony

Sugianes
Chapter #3

BAB 2 - Malam Pertama di Kos (+ilustrasi Nisa)

Tara terdiam sepersekian detik. Ada aura berbeda dari perempuan itu. Bukan ramah seperti Tami, bukan cerewet seperti Dina, bukan juga sederhana seperti Nisa. Elvira... terasa lebih berat.

"Eh, El ini senior kita semua," kata Tami dengan nada bercanda. "Udah tiga tahun nongkrong di kosan ini. Dia yang paling ngerti aturan nggak tertulis di sini."

Elvira hanya tersenyum tipis. "Santai aja. Anak-anak di sini emang cerewet, tapi lama-lama juga lu bakal kebal."

Tara mengangguk. Ada rasa lega sekaligus kikuk.

Ia sempat berdiri canggung, menatap rak makanan di sudut dapur yang penuh bungkus mie, kopi, dan beberapa kaleng sarden. Tangannya ragu hendak meraih sesuatu.

Elvira memperhatikan, lalu menunjuk rak itu dengan sendoknya. "Kalau makanan di situ nggak ada label nama, ambil aja. Jangan bingung. Kita di sini saling nyetok seadanya. Lo kalau mau, nanti ikut bantu aja—beli mie, kopi, beras, susu. Nggak usah ribet. Jadi kalau lagi bokek, masih bisa makan."

"Oh..." Tara mengangguk cepat, merasa lega mendengar aturan sederhana itu.

"Bener tuh," sela Dina sambil meneguk tehnya. "Asal jangan kebanyakan gaya, bikin pasta carbonara tiap hari misalnya, bisa langsung bangkrut satu kosan."

"Eh, lo nyindir siapa?" Tami melotot.

Suara tawa pecah, dan barulah Tara berani mengeluarkan sebungkus mie instan dari rak, mulai merebusnya.

Mereka makan bersama. Tara hanya merebus mie instan, tapi rasanya lebih enak daripada biasanya karena dimakan ramai-ramai. Sesekali ia melirik Elvira. Perempuan itu makan pelan, tenang, jarang ikut bercanda. Tapi ketika Tami nyeletuk soal tetangga kos yang suka usil, Elvira tiba-tiba tertawa pendek—suara tawanya dalam, membuat semua orang ikut tertawa meski tidak begitu paham apa yang lucu.

Setelah makan, mereka beres-beres seadanya. Tami dan Dina ribut soal giliran cuci piring. Nisa pamit tidur karena besok harus kerja pagi-pagi.

Vanya ikut bangkit dari kursinya, merapikan gelas yang tadi dipakainya. "Aku balik duluan juga ya. Kalian jangan lupa sholat sebelum tidur ya ges ya," ucapnya dengan senyum ramah, tapi terdengar seperti peringatan halus. Setelah itu ia melangkah anggun ke lorong, jilbabnya bergoyang pelan mengikuti gerakan tubuh.

Siska masih duduk beberapa detik, menatap kosong mangkuk yang sudah habis. Baru setelah Dina mengomel soal kebersihan wastafel, ia berdiri pelan dan berbisik, "Makasih." Suaranya lirih, hampir tenggelam oleh suara Tami yang ketawa. Tanpa menoleh ke siapa-siapa, Siska melangkah keluar dapur, menyeret sendal dengan langkah berat menuju kamarnya yang berada tepat di samping dapur.

Tinggal Tara yang masih berdiri kikuk di dapur, bingung harus bagaimana.

"Lo semester berapa? Siapa sih nama lo tadi, Tara?" suara Elvira terdengar di belakangnya.

Tara menoleh, sedikit terkejut. "Eh, iya, Tara, aku... baru masuk. Semester satu."

"Oh, jadi anak baru beneran." Elvira menyalakan rokok, menyalanya terang sebentar sebelum asap putih melayang ke udara. "Kuliah di mana?"

"Ekonomi...," jawab Tara.

Elvira mengangguk, seakan tidak terlalu peduli. Ia mengembuskan asap rokok, matanya menatap kosong ke arah jendela kecil di dapur. Hening sebentar, lalu ia bicara lagi, lirih, "Nanti kalau ada yang ganggu, bilang aja. Anak-anak sini kadang ribut, tapi nggak ada yang jahat kok. Palingan cuman rese."

Tara tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk sopan. Ada sesuatu dari Elvira yang membuatnya sulit menebak: dingin, tapi juga terasa melindungi.

"Udah, istirahat aja. Besok masih panjang," kata Elvira lagi.

Lihat selengkapnya