Sweet Agony

Sugianes
Chapter #4

BAB 3 - Jalan yang Lebih Gampang

Pagi itu terasa lebih berat daripada kemarin. Tara duduk tak semangat di meja kelas, mencatat seadanya, sementara pikirannya melayang ke saldo rekening yang makin menipis. Setiap kata yang keluar dari dosen di depan hanya terdengar seperti suara-suara samar yang sulit ditangkap. Seolah dunia kampus ini hanya untuk orang-orang yang sudah mapan, bukan untuk dirinya yang masih harus menghitung setiap rupiah untuk kehidupan sehari-hari.

Sepulang kuliah, ia berjalan gontai ke kos. Teriknya matahari menusuk kulit, bulir-bulir keringat tampak menempel di leher jenjangnya. Di minimarket, ia hanya berani membeli biskuit dan sebungkus mie instan murah. Itu pun sudah membuat dadanya sesak: sisa berapa lagi uang di dompetnya setelah ini?

Saat memasuki pagar kos, Tara mendapati suasana lorong sepi. Hanya terdengar suara kipas angin dari kamar Elvira yang terbuka sedikit. Bau minyak goreng dan parfum murahan masih menempel di udara.

Tara langsung menuju dapur untuk menyimpan mie instan barunya di rak makanan. Di sana, Elvira sudah duduk, kaki kanannya terangkat ke kursi, rokok terselip di antara jari lentiknya. Rambut cokelat kemerahan yang acak, tergerai menutupi sebagian wajahnya yang lembap tanpa riasan. Matanya memantulkan cahaya lampu neon, menatap Tara seolah sudah menunggunya.

"Balik kuliah?" tanya Elvira, suaranya rendah, hampir malas.

Tara mengangguk, berusaha tersenyum. "Iya... capek banget."

Elvira hanya mengangkat bahu, mengembuskan asap pelan. Lalu matanya turun, menelusuri Tara dari atas ke bawah, lama, seakan membaca sesuatu yang Tara sendiri tidak sadar ada pada dirinya.

Tatapan Elvira tidak berpaling. Tara sempat membeku di tempat, merasa seperti sedang disorot lampu panggung.

"Lo kurus banget," ujar Elvira akhirnya, datar. "Bahkan tulang selangka lo kelihatan dari balik kaus."

Tara refleks menunduk, menatap dirinya sendiri. Kaos abu-abu tipis yang ia pakai memang longgar, tapi lekuk tulangnya tetap tampak samar di bawah kain.

"Tapi cakep sih...," lanjut Elvira, menyipitkan mata, "kulit lo bersih, terang, lembap. Rambut lo juga halus, jatuhnya enak dilihat. Mata lo besar, cantik... tapi lo kelihatan... capek."

Tara memaksa tersenyum. "Emang capek sih kak."

Elvira langsung mendecak pelan, bibirnya membentuk senyum geli. "Kak kek kak kek... udah, jangan kakak-kakakan. Panggil nama aja kalau sama gue."

Tara ikut tersenyum kecil. "Oke... Elvira."

"Sampai mana tadi? Oh, penampilan lo... bukan cuma keliatan capek fisik sih," kata Elvira pelan, kini mencondongkan tubuh ke depan. Tatapannya menusuk, bukan untuk menghakimi, tapi seperti ingin membaca isi dada Tara. "Lo punya muka orang yang lagi nekat bertahan hidup. Beda. Kelihatan banget. Gue jadi kayak liat gue versi jaman dulu."

Kata-kata itu seperti menelanjangi Tara tanpa menyentuh. Ia menegakkan punggung, merasa pipinya panas.

Elvira menyandarkan diri lagi, mengembuskan asap rokok ke atas. "Lo punya sesuatu yang nggak banyak orang punya—kombinasi rapuh tapi bikin pengen dijaga. Orang kaya demen banget yang kayak gitu."

Tara mengerutkan kening. "Orang kaya? Maksudnya...?"

Sambil bertanya, ia berdiri, mengambil piring dari rak, lalu kembali ke meja. Ia duduk perlahan di kursi seberang Elvira dan membuka bungkusan kecil biskuit yang tadi ia beli sepulang kuliah.

Elvira tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Tara dengan senyum samar, seolah sedang menimbang sesuatu yang besar.

Matanya lalu memandangi bungkusan kecil di hadapan Tara. Mata Elvira sedikit menyipit, memperhatikan cara Tara memakan perlahan makanan di depannya.

"Lo tiap hari makan beginian emang?" tanya Elvira pelan, setengah tak percaya.

Lihat selengkapnya