Pagi itu, Tara duduk di lantai kamarnya yang sempit, bersandar pada kasur tipis. Di tangannya, layar ponsel masih menampilkan notifikasi terakhir dari Victor. Pesan itu belum juga berani untuk ia buka, apalagi dibalas. Sudah dua hari berlalu, dan setiap kali ia hendak mengetik balasan, jemarinya berhenti begitu saja. Ada rasa takut yang tidak bisa ia jelaskan—takut terjebak, takut berharap, takut kalau hidupnya akan semakin rumit setelah itu. Jadi, ponselnya kembali ia taruh di samping bantal, seperti benda berbahaya yang tidak boleh disentuh.
Perutnya terasa mulai keroncongan. Tara meraih bungkus mie instan dari laci kecil di pojok kamar, satu-satunya simpanan yang tersisa. Uang di rekeningnya sudah hampir habis. Ia sudah mengabaikan tawaran Victor karena merasa perkerjaan itu terlalu menakutkan, tapi mencari kerja part time juga ternyata bukanlah hal mudah. Semalam ia menelusuri lowongan di grup Telegram dan aplikasi pencari kerja, namun sebagian besar syaratnya tidak masuk akal: harus berpengalaman, harus punya laptop sendiri, harus punya sertipikat ini itu, atau gajinya tidak sebanding dengan jam kerja. Tara menghela napas panjang. Hidup di kota ini benar-benar seperti lomba, siapa yang paling kuatlah yang akan bertahan.
Dari balik pintu, terdengar suara ketukan pelan. "Tara, lo udah bangun?" Itu suara Elvira.
"Iya, bentar," jawab Tara sambil buru-buru menyelipkan bungkus mie ke dalam laci lagi. Elvira pernah bilang, makanan di dapur bebas dimakan asal tidak ada label namanya, tapi Tara tetap merasa tidak enak. Ia belum pernah menyumbang apa-apa ke dapur bersama, dan sebagai anak baru, rasanya tidak pantas kalau terus-terusan menghabiskan stok tanpa bisa ikut berbagi.
Begitu pintu terbuka, Elvira sudah berdiri dengan rambut dikuncir asal dan piyama yang kebesaran. Wajahnya masih setengah ngantuk, matanya menyipit karena cahaya dari dalam kamar Tara.
"Lo kelihatan kayak nggak semangat hidup banget sih, Tar," ujar Elvira, menguap kecil. "Oh iya, Victor ada hubungin lo, nggak?"
Pertanyaan itu membuat dada Tara langsung mengeras. Ia menunduk, pura-pura merapikan selimut. "Ada... dua hari lalu. Tapi belum aku balas."
Elvira mengangkat satu alis, lalu bersandar ke kusen pintu. "Belum lo balas? Kenapa emang?"
"Aku... nggak tahu. Kayaknya aku belum siap aja," ucap Tara pelan. "Aku takut... takut nggak bisa ngadepinnya. Dunia kayak gitu tuh... asing banget buat aku."
Elvira diam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. "Ya, bener juga. Kalo lo masih ragu, mending jangan balas dulu. Soalnya Victor tuh... bukan tipe yang sabaran. Dia nggak suka sama orang yang labil—sekali iya ya iya, nggak ya enggak, jangan di tengah-tengah."
Tara menoleh cepat, sedikit terkejut mendengar nada Elvira yang datar tapi jujur. "Kamu... kenal banget sama dia, ya?"
Elvira menyandarkan bahu ke kusen pintu, bibirnya membentuk senyum tipis. "Nggak juga sih. Tapi... gue cukup ngerti lah. Dia itu orangnya straight to the point. Nggak suka drama, nggak suka orang menye-menye. Tapi aslinya baik, kok. Royal banget malah... ya, selama lo nurut, sih."
Tara mengangguk pelan. Lalu, dengan suara lebih lirih, ia bertanya, "Bukan itu maksudku... maksudku, dia kayak gimana, sih? Maksudnya... secara... visual."
Elvira terkekeh kecil, lalu masuk ke kamar Tara tanpa permisi, duduk di ujung kasur sambil merogoh saku celana piyamanya. Ia menyalakan rokok, mengembuskan asap pertama dengan santai. "Hmm... ganteng," katanya akhirnya. "Umurnya empat puluhan, tapi masih gagah banget. Tegap, bahunya lebar, tangannya kekar... bahkan masih kelihatan berotot, gitu. Ohhh... atau lo takut karena mikir dia jelek, ya? Kayak om-om rambut tipis, yang perutnya buncit kayak balon?" Elvira terkekeh tajam sambil menatap Tara.
Tara cepat-cepat menggeleng, pipinya memanas. "Nggak... bukan gitu. Aku cuma... penasaran aja."
"Ngaku aja kalau lo pengen liat fotonya," goda Elvira, mengangkat alis.
Tara menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk malu. "Iya..."
Elvira tersenyum lebar, lalu meraih ponselnya dari saku piyama yang longgar. Ia menggulir galeri sebentar, lalu berhenti di satu foto dan menunjukkannya ke Tara. "Ini waktu kita abis minum di bar, beberapa bulan lalu."
Layar ponselnya memperlihatkan Victor berdiri di samping Elvira. Latar belakangnya samar, lampu bar warna keemasan membuat kulit mereka tampak hangat. Victor mengenakan kemeja hitam lengan digulung, dua kancing teratas terbuka. Rahangnya tegas, dagunya sedikit berjanggut, kulitnya kecokelatan bersih. Rambutnya hitam pekat, dipotong rapi dan disisir ke belakang. Mata hitamnya tajam, senyumnya hanya setipis garis—bukan senyum ramah, tapi cukup untuk membuat wajahnya kelihatan karismatik. Tubuhnya tegap, dada bidangnya terlihat membentuk lekuk samar di balik kain kemeja.
"Dia kelihatan kayak... bos," gumam Tara tanpa sadar.