Tara menatap papan nama kafe itu dari kejauhan, matanya membelalak sedikit. Bangunan dua lantai itu berdiri megah, jendela-jendelanya tinggi dengan bingkai hitam mengilap. Lampu gantung berbentuk bola kaca berderet di langit-langitnya, memantulkan cahaya keemasan yang jatuh lembut ke meja-meja marmer. Dari luar saja sudah tampak: ini bukan sekadar coffee shop kecil seperti yang ia bayangkan. Ini... hampir seperti restoran mahal.
"Gila..." Tara berbisik di atas bahu Elvira yang sedang memarkir skuter matic-nya. "Kirain cuma kafe biasa."
Elvira turun lebih dulu, menyandarkan helmnya ke spion. "Ya kan gue nggak bilang kafe kecil," katanya santai. "Yang penting tempatnya nyaman. Lo nggak usah mikir ribet dulu—kerja tuh kayak naik motor, gas dulu aja, belakangan baru belajar belok."
Tara menelan ludah, mencengkeram tali tasnya erat-erat. "Tapi... kayaknya mewah banget. Takut nggak cocok, El..."
"Yaelah, paling lo cuman bawa nampan sama senyum-senyum. Kalau capek atau bosen," Elvira melirik Tara, bibirnya melengkung sinis tapi lembut, "tinggal bales pesan Victor. Gampang."
Tara mendengus kecil, tapi tak membantah. Entah kenapa, mendengar nama itu membuat dadanya terasa tegang sekaligus... hangat. Ia memandang sekali lagi bangunan kafe yang berkilau itu, lalu mengangguk pelan. "Oke... aku coba."
Kesempatan itu datang lebih cepat dari yang ia duga. Sang manajer, yang tampak kerepotan mencari pegawai tambahan, langsung menawarkan posisi paruh waktu padanya. Tara akan mulai bekerja besok sore, mengisi shift dari pukul lima hingga malam. Ia masih tak percaya mendapat pekerjaan secepat ini—barangkali karena kafe itu sedang sangat kekurangan waitress, hingga tak sempat terlalu selektif menilai.
***
Sore mulai jatuh ketika mereka kembali ke kos, lorong sempit itu sudah diterangi cahaya kekuningan dari lampu dinding. Begitu Tara menurunkan kakinya dari boncengan, terdengar ketukan tergesa dari arah kamar Nisa. Seorang kurir berdiri di sana, mengetuk pintu sambil menenteng dus sedang.
Saat melihat Tara yang berjalan ke depan pintu kamarnya, ia langsung menoleh. "Kak, ini ada paket atas nama Nisa Ardelia Pramudita," katanya, membaca label. "Katanya titip ke kamar nomor lima aja. Tolong terima, ya, Kak?"
"Oh, iya... boleh." Tara mendekat, menerima paket itu dengan dua tangan.
"Boleh difoto dulu ya, Kak," ucap si kurir cepat, lalu mengangkat ponselnya. Tara berdiri kaku memegang paket, tersenyum kikuk ke kamera. Klik.
Saat si kurir berlalu, dari arah dapur muncul Dina dan Tami, masing-masing membawa mug. Mereka langsung berseru hampir bersamaan.
"Tuh, bener kan, dititipin paket," kata Tami, terkekeh.
Dina menimpali, "Biasanya dia nitip ke Vanya, tapi katanya Vanya udah males... takut disalahin kalau paketnya kenapa-kenapa."
Elvira melepas helmnya pelan, rambutnya sedikit berantakan, lalu nyengir kecil. "Sekarang kayaknya bakal jadi kerjaan rutin lo, Tar."
Tami menyipit, menatap mereka bergantian. "Eh... kalian udah deket banget sekarang? Baru sehari dua hari kos di sini loh, Ra." Ia melirik Elvira dramatis. "Hati-hati ya, El, nanti baper."
Elvira pura-pura memutar bola mata. "Baper apaan sih, norak."
Dina duduk di bangku dekat dinding, menepuk sisinya. "Eh, malam ini kita nonton film, yuk. Aku ada film bagus di laptop, komedi romantis, biar otak nggak meledak nih, mumet banget ngerjain tugas mulu."
"Yuhuu! Movie night," Tami mengangkat kedua tangan seperti cheerleader, lalu mendadak cemberut. "Eh... tapi, aku lupa. Malam ini aku harus gantiin shift anak bar, dia lagi sakit, padahal harusnya aku off, hahh."
"Ya udah, salah sendiri sok baik," seloroh Elvira.
"Lah, emang aku baik," balas Tami, menepuk dadanya bangga. "Ntar pas akhir bulan langsung dapat gelar Pekerja Teladan Bulan Ini, ya kan, Din?"