Langkah Tara berat dan lamban ketika ia menutup pintu pagar kosan itu. Malam sudah lewat jauh; jam di pergelangan tangannya menunjuk pukul dua belas lewat dua belas. Tubuhnya lengket oleh keringat dan sisa minyak dari dapur restoran tempat ia bekerja—hari pertamanya sebagai waitress sekaligus pelayan serabutan. Ia memaksakan senyum sepanjang shift, mengantar nampan yang terasa makin lama makin berat, menjawab pertanyaan pelanggan dengan sopan, membersihkan meja, bahkan sempat memunguti pecahan gelas ketika salah seorang pengunjung menjatuhkannya. Sekarang, setiap ototnya seperti menjerit, pundaknya nyeri seperti digilas batu.
Lorong sempit kos itu menyambutnya dengan keheningan. Semua pintu kamar tertutup. Ia menyeret langkah ke dapur untuk mencari sesuatu yang hangat, sekadar membuat tubuhnya percaya bahwa ia masih hidup. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan, cahaya putihnya menyorot lantai yang dingin.
Dan di sana, bersandar lelah pada meja dapur, ada Tami. Rambut pirangnya dikuncir seadanya, make-up-nya luntur, tapi aroma parfum murah menyengat memenuhi dapur, tajam menusuk hidung Tara seperti sisa asap dari ruangan penuh asap rokok. Tami sedang mengaduk mangkuk mie instan, mata setengah terpejam.
Tami melirik sekilas, tersenyum samar. "Baru balik juga?"
Tara hanya mengangguk, melepas sepatu pelan-pelan agar tak menimbulkan suara. Ia menjatuhkan diri ke kursi seberang, tangan refleks mengurut betis yang pegal.
"Capek banget kelihatannya," gumam Tara pelan.
Tami mengangkat alis sekilas, senyum lesu. "Kelihatan banget ya?"
"Iya," Tara tertawa kecil, lalu ragu sejenak sebelum bertanya, "Kamu part time di mana sih?"
"Oh—" Tami merebahkan punggungnya ke sandaran kursi, menepuk-nepuk pipinya sendiri biar tetap melek. "Di TopSpin Billiard. Tempatnya panas, rame sih, lampu kelap-kelip, udah kayak diskotik. Banyak anak-anak kuliahan, sok jago semua, kalau kalah bisa ngamuk minta bola diganti. Aku cuma bisa senyum-senyum sambil ngitung jam main mereka, padahal dalem hati pengen banget rasanya gulung karpet terus pulang."
"Capek banget," ulang Tami lirih, mengembuskan napas panjang. Setelah menghabiskan suapan terakhir, ia berdiri, membuang bungkus mi, lalu menepuk bahu Tara ringan. "Aku duluan, ya. Ngantuk banget." Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan gontai kembali ke kamarnya, sandal jepitnya menyeret pelan di lantai.
Tara diam. Dapur kembali sunyi. Ia bangkit, menyalakan ketel listrik, membuka bungkusan biskuit. Suara ketel mendidih menjadi satu-satunya yang hidup di ruang itu.
Langkah kaki lain terdengar pelan, dari arah lorong. Tara menoleh. Seorang perempuan masuk, menggenggam mug kosong—Siska. Rambutnya kusut, pipinya pucat, dan matanya... sembab. Seperti seseorang yang belum tidur semalaman. Tara ragu sejenak, lalu mencoba menyapa dengan ramah.
"Hai... Siska, kan?"
Siska mengangkat wajahnya sebentar, mengangguk pelan. Tak ada senyum. Ia lalu sibuk menyiapkan tehnya sendiri, gerakannya cepat dan mekanis, seolah hanya mengikuti kebiasaan. Setelah menuang air panas, ia duduk tepat di hadapan Tara.
Tak ada suara selain sendok kecil memutar perlahan di mug. Mata Siska menatap cairan teh yang berputar, bukan Tara.
Tara merasa hampa itu menular. Ia mencoba memecahnya, pelan, hati-hati, seperti menyentuh kaca retak. "Kamu nggak tidur? Besok nggak ada kuliah?"
Siska tidak langsung menjawab. Napasnya berat, seperti menahan sesuatu lama sekali.
"Aku ngekos di sini karena keluargaku juga sebenernya nggak mampu," katanya akhirnya, datar, lirih. "Meskipun kedokteran... aku masuknya pake beasiswa. Itu kan yang bikin kamu bertanya-tanya, kenapa mahasiswi kedokteran ada di kos jelek kayak gini?"
Tara tertegun, mulutnya terbuka sedikit. Ia belum sempat berkata apa-apa, ketika Siska melanjutkan, masih dengan suara pelan yang justru membuatnya terdengar lebih rapuh.
"Wajar kok. Aku juga pasti bertanya-tanya kalau jadi kalian." Ia mengedipkan mata cepat, seperti berusaha menahan air mata yang menggenang. "Terus, aku nangis kemarin... karena capek. Mamaku naruh harapan setinggi langit. Mama pengen anaknya satu-satunya bisa jadi dokter. Bisa jadi kaya."
Suaranya pecah. "Maaf... jadi curhat. Aku nggak tau mau cerita sama siapa. Aku capek. Capek banget..."
Kata-kata itu runtuh begitu saja di atas meja, dan Siska menunduk dalam, bahunya bergetar. Tangisnya pelan tapi terdengar begitu menusuk, seperti sayatan luka halus di dalam dapur yang sunyi itu. Tara menatapnya, dan dalam diam, ia tahu betul rasa itu—rasa ditarik oleh tangan-tangan harapan yang begitu berat hingga seisi kepala terasa ingin pecah.
Ia bangkit tanpa suara, melingkar ke sisi Siska, lalu duduk di sampingnya. Tangannya pelan mengelus lengan Siska, naik-turun dengan gerakan menenangkan. Siska menggigit bibirnya, bahunya gemetar. Tara lalu meraih tangan Siska, menggenggamnya erat.
"Nggak apa-apa," bisik Tara, nyaris tak terdengar. "Habisin, nangis aja kalau memang capek."
Siska tak menjawab, hanya menunduk semakin dalam, air matanya jatuh ke atas punggung tangannya sendiri. Tara memeluknya pelan dari samping, membiarkan Siska bersandar pada bahunya. Pelukan itu bukan jawaban, hanya tempat persinggahan sementara. Mereka duduk begitu lama—dua perempuan muda yang sama-sama kelelahan oleh hidup, duduk di dapur sempit dengan cahaya lampu yang keputihan dan dingin.