
Tara berdiri di depan pintu kamar Elvira, mengetuk pelan dengan buku jarinya. Di tangannya, sebuah nasi bungkus kecil menindih piring kosong. Jantungnya berdetak agak cepat—bukan karena takut, lebih karena ragu apakah El masih mau bicara pada siapa pun setelah ribut besar tadi.
Suara gesekan logam dari balik pintu terdengar, lalu pintu itu terbuka sedikit. Wajah El muncul di sela bukaan, matanya masih merah, tapi tatapannya dingin. Asap rokok melayang keluar bersamanya.
"Apa?" tanyanya pendek.
Tara mengangkat piringnya sedikit, memberi isyarat. "Aku... bawa makanan. Boleh masuk?"
El menatap Tara lama, lalu membuka pintunya lebar-lebar sambil berbalik tanpa sepatah kata.
Kamar itu langsung menabrak hidung Tara dengan campuran aroma yang memusingkan—parfum manis yang menusuk, asap rokok yang pekat, sisa keringat, dan samar bau minuman keras. Lampu neon di langit-langit menyala terang, menyapu seluruh kekacauan di ruangan itu: baju berserakan di lantai, sepatu-sepatu mahal berderet acak di sudut, tas-tas branded tergeletak terbuka menampakkan isinya. Di atas meja, sebuah MacBook menyala dalam mode tidur, dan sebuah iPhone tergeletak berdampingan dengan korek api serta asbak penuh puntung. Sebuah ring light berdiri di pojok ruangan, masih terpasang di tripod, seolah biasa dipakai untuk sesuatu yang tak perlu dijelaskan lebih jauh.
Mata Tara sempat membesar saat menangkap sesuatu di atas kasur El—sebuah benda silikon hitam berbentuk kelamin pria, cukup besar dan panjang, tergeletak begitu saja seolah benda biasa.
Elvira menangkap arah tatapannya, lalu terkekeh pelan tanpa malu. "Kenapa? Belum pernah liat dildo lo?" ujarnya, masih terkekeh geli. "Kaget amat."
Tara buru-buru memalingkan pandang, pipinya menghangat. Ia duduk di samping pintu, punggungnya menempel ke dinding yang dingin. El ikut duduk di sebelahnya, menyandarkan tubuh ke dinding, masih dengan rokok terselip di antara jarinya.
Tara menatap nasi bungkus kecil di pangkuannya, lalu melirik El sekilas. "Kak El udah makan?" tanyanya pelan. "Makan bareng, yuk... tapi cuma ada sebungkus sih." Ia tertawa kecil, canggung.
"Tumben-tumbenan beli nasi bungkus," celetuk El, matanya menatap piring di pangkuan Tara. "Jarang-jarang makan nasi, sekalinya beli malah nawarin."
Tara membuka bungkusnya, aroma ayam goreng menguar. "Murah loh kak, beli deket kampus," balasnya santai. "Sepuluh ribuan bisa makan ayam. Bosen juga makan mie instan mulu."
El mendengus kecil, setengah tertawa, lalu menarik dalam-dalam asap rokoknya. "Udah dibilang berkali-kali jangan manggil gue 'kakak', lo ngeyel banget sih."
Tara tersenyum tipis, menunduk. "Nggak papa... rasanya cocok aja manggil 'Kak El'. Kayak... aku punya keluarga di sini. Jadi nggak kerasa sendirian."
El terdiam sejenak, pandangannya melunak tanpa ia sadari. Asap rokok perlahan keluar dari bibirnya, buyar di udara. "Eh... kerja di kafe betah nggak?" tanyanya akhirnya, pelan.
Tara mengangguk pelan. "Betah, tapi capek banget sih. Kaki kayak mau copot pas pulang ke kos."
"Namanya juga kerja," gumam El. "Nanti juga biasa."
Hening sesaat. Tara menyuap nasi beberapa kali, lalu memberanikan diri.
"Kak El... boleh nanya sesuatu yang agak sensitif nggak?"
Alis El terangkat, ia melirik Tara dari sudut matanya. "Boleh. Tapi kalo gue males jawab, lo jangan maksa, ya."
Tara mengangguk cepat. Ia memainkan nasi dengan sendoknya, ragu sejenak sebelum bicara. "Waktu itu Kak El sempat bilang soal... Victor. Katanya dia nyari temen cewek buat nemenin dia dan dibayar. Maksudnya... jadi sugar baby gitu, ya?"
El mengangguk pelan. "Hu-uh. Terus?"
Tara menelan ludah. "Terus... Kak El bisa kenal sama Victor, apa karena... dulu Kak El pernah jadi sugar baby-nya Victor?"
"Enggak," jawab El singkat.
Tara melipat bungkus makannya yang sudah hampir habis, menatap lantai. "Terus berarti Victor...?"
"Iya," El menjawab ringan, menyungging senyum tipis. "Dia klien gue. Dan klien yang paling royal sih."
Tara menoleh cepat, tak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Dia pernah nawarin gue jadi sugar baby," lanjut El, bahunya terangkat santai. "Tapi gue ogah. Gue nggak suka terikat, dikekang. Kalo mau make badan gue, ya tinggal bayar, kelar. Gue nggak suka diatur ini-itu, dilarang ini-itu."
Ia tertawa pendek, tawa yang dingin tapi bukan getir.