Sore itu, kamar kos Tara berantakan. Baju-baju dilipat terburu-buru, masuk ke dalam tas ransel yang sebenarnya terlalu kecil. Tangannya gemetar, kepalanya penuh suara-suara yang menyesakkan.
"Ya Tuhan... gimana ini..." gumamnya, hampir tak terdengar.
El berdiri di ambang pintu, tidak banyak bicara. Hanya menatap Tara yang mondar-mandir seperti ayam kehilangan induk. Kantung belanjaan yang tadi mereka beli tergeletak begitu saja di lantai, belum sempat dibereskan.
Akhirnya Tara berhenti, memegang ranselnya erat-erat. Wajahnya pucat, matanya sembab. Dengan suara bergetar, ia memaksa bicara.
"Kak El... maaf, aku... aku harus minta tolong lagi."
El mengangkat wajah, hanya menunggu.
"Aku... aku nggak punya ongkos pulang. Dan... mungkin butuh buat jaga-jaga biaya di rumah sakit. Aku janji... aku bakal balikin nanti, Kak..."
Kalimat itu patah-patah, seperti ditahan malu. Tara menunduk, menahan perasaan ingin lenyap saja dari dunia.
El tidak banyak tanya. Ia mengeluarkan dompet dari saku jaket, mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu menyelipkan ke genggaman Tara. "Udah, santai aja. Segini cukup nggak?"
Tara mematung, air matanya menetes begitu saja. "Makasih... makasih banget, Kak El. Aku—"
"Udah, jangan dipikirin. Cepet berangkat, biar nggak kemaleman sampai sana."
Stasiun sore itu tampak ramai. Terdengar suara pengumuman bercampur dengan derit roda koper dan langkah kaki yang tergesa. Tara berdiri di peron, menggenggam ranselnya, sementara El menemaninya sampai kereta datang.
"Hati-hati di jalan ya," ucap El pelan.
Tara mengangguk, bibirnya gemetar. "Makasih banyak, Kak. Aku... aku nggak bakal lupain ini."
El hanya menepuk bahu Tara. "Udah, jangan alay deh, buruan masuk gih."
Pintu kereta menutup. Dari balik kaca, Tara melihat El berdiri tegak, tidak bergerak sampai kereta perlahan meninggalkan stasiun.
***