Hari kedua. Perut Dini keroncongan, tapi mereka bahkan tak punya waktu mencari makanan. Tara akhirnya membeli sebungkus nasi dari kantin rumah sakit—isinya hanya nasi putih, sepotong kecil tahu goreng, dan sebutir telur rebus yang dibelah dua.
Mereka sudah tidak di ICU lagi. Pagi tadi dokter menjelaskan, kondisi ibu Tara memang belum siuman, tapi tanda vitalnya cukup stabil sehingga tidak lagi dianggap gawat. Selain itu, biaya ICU yang semakin menumpuk membuat pihak rumah sakit menawarkan pemindahan. Tara akhirnya menandatangani surat persetujuan, meski dengan hati berat.
Kini mereka menempati ruang rawat inap kelas tiga: sebuah kamar besar dengan enam ranjang yang disusun berderet, hanya tiga di antaranya terisi. Bau obat dan keringat bercampur di udara, suara batuk pasien lain terdengar sesekali, berpadu dengan dengung kipas angin tua di sudut ruangan.
Dini duduk di lantai dekat ranjang ibu mereka, membuka bungkus nasi dengan terburu-buru. Ia menyuap lahap, sesekali menoleh ragu ke arah kakaknya.
"Kak Tara nggak makan?" tanyanya pelan, mulutnya masih penuh nasi.
Tara tersenyum samar, menggeleng. "Tadi aku udah makan di kantin, waktu nunggu pesanan. Kamu habisin aja."
Dini tak bertanya lagi, meski jelas ia tahu jawaban itu hanya setengah benar. Tara tetap menatapnya, pura-pura tenang, sementara perutnya ikut berkerut lapar.
***
Sore menjelang, cahaya jingga menyusup lewat jendela yang tirainya setengah tertutup. Dini akhirnya beranjak ke kamar mandi di ujung lorong, membawa handuk kecil yang ia pinjam dari perawat.
Tara duduk di samping ibunya. Tangan ibunya terasa dingin, lemah, seakan tidak ada lagi kekuatan tersisa. Ia menggenggam erat, menunduk, dan suara yang tertahan sejak kemarin akhirnya pecah lirih.
"Ibu... aku harus gimana? Uang nggak ada, kerjaan juga hilang... aku takut nggak bisa jagain kita bertiga. Rasanya aku gagal, Bu..."
Air matanya jatuh ke punggung tangan yang diam membisu itu. Ia menunduk makin dalam, suara lirihnya pecah di sela isak.
"Besok pasti ada lagi biaya obat, biaya dokter, biaya rawat inap. Katanya kalau lama di sini bisa jutaan per hari... aku bahkan nggak tahu harus bayar dengan apa. Tabungan nggak ada, keluarga Ibu nggak ada yang datang. Semuanya hilang entah ke mana saat kita butuh..."
Napasnya sesak. Ia mengeratkan genggamannya, seakan berharap ada jawaban dari tangan itu.
"Maaf, Bu. Aku cuma bisa ngandelin uang pinjeman. Itu pun sebentar lagi habis. Kalau ditanya sama petugas besok, aku harus ngomong apa? Aku harus bilang apa kalau nggak bisa bayar? Aku takut, Bu... takut kita diusir dari sini. Takut lihat adikku juga harus berhenti sekolah gara-gara aku nggak sanggup biayain hidup kita lagi."
Suaranya nyaris hilang, hanya gumaman penuh sesal. "Kalau Ayah masih ada, mungkin nggak kayak gini... Aku udah coba kuat, Bu, tapi rasanya semua pintu yang kucoba buka malah ketutup terus satu demi satu. Aku bener-bener nggak tahu lagi harus nyari uang ke mana..."