Sweet Agony

Sugianes
Chapter #11

BAB 10 - Langkah Pertama

Suasana dapur kos siang itu tampak ramai, beberapa penghuninya berkumpul untuk makan bersama. Wajan bekas menggoreng telur masih tergeletak di atas kompor, minyaknya sudah tampak menghitam. Dina sedang mengaduk nasi di rice cooker sambil menahan tutupnya yang macet.

"Ya ampun, ini rice cooker makin lama makin ngaco. Tutupnya nggak bisa rapet lagi," gerutunya sambil menghentak-hentakkan sendok nasi.

Tami duduk di samping, sibuk meracik sambal di cobek kecil. "Udah hampir tutup usia kayaknya. Tapi yang penting kan masih bisa dipake buat masak nasi." Ia menjilat ujung jarinya yang kena cabai, lalu meringis. "Hahh... kayaknya kepedesan sih ini, nggak papa ya, guys."

Siska berdiri di dekat meja, memecahkan bongkahan es batu dengan pisau dapur. Potongan-potongan es itu lalu ia masukkan ke dalam teko plastik besar yang sudah berisi teh manis dingin. Setelah penuh, ia letakkan teko itu di tengah meja tanpa banyak bicara, tangannya sibuk merapikan gelas-gelas plastik di sekitarnya.

Tami mencolek kerupuk ke sambal yang baru ia ulek tadi, lalu menyuapkannya ke mulut sambil mengunyah renyah. "El, Tara ke mana sih? Kok nggak kelihatan beberapa hari ini?" Nada suaranya ringan, tapi matanya melirik penasaran ke arah El.

Dina mendengus, berusaha menutup rice cooker yang macet. "Ih, ini rice cooker ngeselin banget sumpah. Tapi iya deh, jangan-jangan Tara pulang kampung? Masa iya nggak kuliah?"

El duduk di pojok meja dengan sebatang rokok terselip di jarinya. Asapnya mengepul tipis ke arah jendela buram yang dipenuhi noda minyak. Layar ponselnya masih menyala—pesan dari Tara baru saja masuk. Ia membaca cepat: Tara setuju akan bertemu Victor malam ini untuk mengucapkan terima kasih. El menarik napas dalam, lalu mengangkat bahu, suaranya tetap datar.

"Dia balik ke kampung. Nyokapnya sakit parah."

"Sakit apa?" tanya Siska pelan, suaranya agak serak. Biasanya ia jarang ikut campur, tapi kali ini matanya menoleh penuh rasa ingin tahu.

El menepuk-nepuk abu rokok ke piring kosong. "Entah. Katanya sih koma."

Hening sesaat melingkupi dapur. Suara kipas angin tua yang berdengung makin terdengar jelas. Dina mendesah pelan, lalu bergumam, "Ya ampun... semoga lekas sembuh, deh," sambil tangannya sibuk menata nasi ke piring.

Tami berhenti mengunyah, menatap El dengan mata melebar. "Serius, El? Kok bisa separah itu?" Lalu ia kembali menggigit kerupuk keras-keras, suaranya pecah di udara.

El mengusap wajahnya sebentar, lalu menjawab tanpa benar-benar menatap siapa pun, "Iya... gara-gara strok, katanya." Suaranya terdengar datar, seakan diucapkan sambil melamun. Matanya kosong, pikiran jauh melayang.

Di dada El ada sesuatu yang menekan, rasa tidak nyaman yang muncul begitu saja. Ia tahu, memberi tahu Victor soal kesulitan Tara bisa jadi jalan keluar—tapi juga bisa jadi jebakan. Ada bisikan tipis di kepalanya: apa benar yang sudah ia lakukan betul-betul membantu, atau justru menyeret Tara ke kehidupan yang sudah terlalu lama ia jalani sendiri? El menghela napas dalam, lalu menenggak air putih dari gelas kaca di sampingnya.

Pintu dapur berderit. Vanya muncul dengan rambut masih basah habis keramas, wajahnya ceria, sampai matanya menangkap El di pojok meja. Seketika ekspresinya berubah. Senyumnya lenyap, berganti dengan raut masam.

"Eh, Vanya, makan bareng yuk, ada telor dadar sama sambal enak nih," seru Tami sambil menggigit patah kerupuk di tangannya.

Vanya diam saja, hanya meraih piring dan sendok dari rak dengan gerakan cepat dan kaku. Ia tak menoleh, tak menjawab, langsung berbalik keluar lagi.

Lihat selengkapnya