Sweet Agony

Sugianes
Chapter #12

BAB 11 - Keju (+ilustrasi Victor)

Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyergap begitu Tara melangkah melewati pintu kaca. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit membuat matanya sejenak silau. Aroma rempah yang samar tercampur dengan wangi anggur dan daging panggang memenuhi udara, asing baginya. Deretan meja berlapis linen putih tertata rapi, setiap sudut berkilau. Suara denting gelas, gesekan pisau dan garpu, serta bisikan obrolan berbahasa asing berbaur menjadi riuh yang sopan, tapi membuat jantung Tara berdegup lebih keras.

Langkahnya terhenti. Beberapa pasang mata menoleh sekilas, lalu berpaling, tapi rasa asing itu sudah menempel. Ransel lusuh di punggungnya terasa berat sekali, seperti menandai bahwa ia tak seharusnya berada di sini. Kemeja kusut yang menempel di tubuhnya seakan memperjelas jurang antara dirinya dan para tamu yang berbalut jas, gaun panjang, dan sepatu mengilap.

Seorang wanita berseragam hitam elegan menghampirinya dari balik meja kecil di dekat pintu. Senyumnya profesional, ramah tapi berjarak. "Selamat malam. Apakah sudah ada reservasi sebelumnya?"

Tara menelan ludah. Lidahnya kelu. "E-eh... saya... saya janjian sama seseorang di sini," ujarnya terbata.

Wanita itu masih tersenyum, tangannya rapi bertumpu di depan. "Boleh saya tahu atas nama siapa reservasinya?"

"Victor..." Tara menjawab cepat, hampir berbisik. "Namanya Victor."

Ada jeda sejenak. Senyum di bibir wanita itu menegang, meski tetap ia pertahankan. "Apakah maksudnya Bapak Victor Halim?" tanyanya pelan, nada suaranya berubah lebih berhati-hati.

Tara terperangah. Ia tidak tahu nama lengkap itu, tapi buru-buru mengangguk. "I-iya... mungkin... iya."

Tatapan wanita itu berubah tipis, menelusuri Tara dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Ransel di punggung, kaos yang lembap, kemeja kusut, sepatu kets penuh debu. Keringat memenuhi pelipis dan lehernya, membuat tampilan kusutnya semakin kentara. Senyum wanita itu masih ada, tapi nadanya mulai terdengar kaku. "Mohon maaf sebelumnya. Apakah sudah benar tempatnya di sini? Atau mungkin bisa dicek kembali, apakah betul janjiannya dengan Bapak Victor Halim di restoran ini?"

Tara buru-buru merogoh ponselnya, tangannya gemetar. Ia membuka layar percakapan. Pesan itu jelas: 20:00 – Restoran Anggrek Imperial. Jangan telat. Ia menoleh gugup, menunjukkan layar ponsel, tapi wanita itu hanya mengangguk singkat, wajahnya tetap penuh keraguan.

Tepat saat itu ponsel Tara bergetar. Sebuah panggilan masuk: Victor.

Dadanya seperti ditusuk. Ia menatap sebentar ke arah dalam ruangan, lalu mengangkat dengan suara bergetar. "H-halo? Maaf... a-aku... ketahan di depan. Mereka nggak percaya."

Hening sejenak, hanya suara pernapasan berat di seberang. Lalu sebuah suara rendah, tenang, dan dingin terdengar. "Kasihkan teleponnya."

Tara menoleh gugup ke arah wanita berseragam itu, lalu menyerahkan ponselnya dengan tangan bergetar. Wanita itu sempat tampak ragu, tapi akhirnya menempelkannya ke telinga. Alisnya berkerut saat mendengarkan, lalu perlahan rautnya berubah. Senyumnya yang kaku menghilang, berganti dengan ekspresi tertekan.

"I-iya, baik, Pak. Maafkan saya. Tentu saja. Kami segera antarkan," katanya terbata, penuh permintaan maaf. Ia buru-buru menutup telepon, mengembalikan ponsel itu ke tangan Tara dengan kedua tangannya.

"Mohon maaf sebesar-besarnya," ujarnya, wajahnya menunduk. "Saya tadi salah sangka. Silakan ikut pelayan kami. Bapak Victor Halim sudah menunggu di meja VIP." Ia segera memberi isyarat pada seorang pelayan pria yang mendekat.

Tara menerima kembali ponselnya, masih bingung. Pipi dan telinganya terasa panas, seluruh tubuhnya ingin menghilang. Tapi pelayan itu sudah berdiri di sampingnya, memberi aba-aba untuk mengikuti.

Dengan langkah kikuk ia berjalan melewati lorong restoran. Lantai marmer berkilau, kursi-kursi berlapis beludru, dinding dengan lukisan besar berbingkai emas—semua terasa terlalu asing, terlalu jauh dari dunianya. Setiap langkah terdengar seperti gema, setiap tatapan yang sempat melirik terasa seperti pisau.

Di ujung lorong, sebuah pintu kayu tinggi terbuka. Sang pelayan menunduk sopan, memberi jalan.

Tara menarik napas panjang. Di dalam, meja bundar besar terhampar, kain putih jatuh menjuntai, lilin tipis menyala di tengah. Dan di kursi paling ujung, seorang pria duduk tenang.

Victor.

Kepalanya sedikit menoleh, tatapannya tajam sekaligus datar, seolah sudah menunggu sejak lama. Ia tidak bergerak, tidak berbicara. Hanya menatap.

Langkah Tara terhenti. Dadanya sesak. Untuk sesaat, waktu seakan membeku—sebelum ia sadar, tidak ada jalan lagi untuk berbalik.

***

Tara melangkah masuk ke ruang VIP dengan hati-hati. Cahaya di dalam lebih redup daripada di ruang utama, hangat dan berkilau dari pantulan lilin tipis yang diletakkan di tengah meja bundar. Beberapa tamu lain duduk berkelompok di meja terpisah, sebagian besar pria paruh baya dengan jas mahal dan jam berkilau, ditemani wanita-wanita bergaun elegan. Tatapan mereka hanya melirik sebentar ke arah Tara, lalu kembali pada obrolan masing-masing. Tidak ada cibiran, tidak ada bisik-bisik. Justru keheningan itu yang membuat jantung Tara makin berdegup: seolah pemandangan seperti dirinya sudah terlalu biasa di mata orang-orang seperti mereka—seorang perempuan muda yang terlihat seakan baru dipungut dari jalan, lalu diantarkan untuk menjadi hiburan bagi orang kaya.

Ia berhenti di kursi tepat di hadapan Victor, tapi tidak langsung duduk. Tubuhnya kaku, tangan kaku memegang tali ransel.

Victor menatapnya lama, wajahnya tenang tanpa ekspresi. Hanya ada satu senyum tipis yang muncul di bibirnya, samar tapi terasa menusuk. "Benar kata temanmu," ucapnya datar, "kamu cantik."

Nada bicaranya datar, tenang, tapi membuat tengkuk Tara merinding. Ia memberi isyarat halus dengan tangannya ke kursi di depan. "Silakan, duduklah."

Tara menelan ludah, lalu melepas ranselnya, meletakkannya di belakang kursi agar tidak mengganggu, dan perlahan duduk. Kursi empuk itu seakan menelan tubuhnya, membuatnya semakin sadar akan betapa asingnya tempat ini.

Lihat selengkapnya