Tara menatap Victor dengan kening sedikit berkerut. "Tawaran...?" ulangnya, suaranya hampir seperti bisikan. Padahal, di dalam hati ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini—cerita El tentang pria kaya dan "hubungan khusus" di luar nalar anak kos sudah sempat terngiang-ngiang di kepalanya.
Victor meletakkan garpu perlahan, lalu menatap Tara dengan tenang. "Ya. Tawaran. Aku tidak ingin berputar-putar. Kamu pintar, aku tahu kamu pasti sudah mengerti sedikit banyak tentang tawaran yang akan kuberikan padamu."
Tara menggigit bibirnya. "Kalau... kalau maksud Bapak—eh, maaf, Victor... ini seperti yang Elvira pernah bilang... maka..."
Victor tersenyum tipis. "Benar. Orang-orang menyebutnya seperti itu. Aku menyebutnya... kesepakatan. Saling menguntungkan. Aku tidak suka kata-kata yang membuat satu pihak seolah lebih rendah dari yang lain."
Pelayan datang tepat saat itu, membawa dua mangkuk kecil berisi crème brûlée. Permukaannya berkilau keemasan, lapisan karamel yang baru saja disiram api, masih meninggalkan aroma gula gosong yang samar. Tara menunduk sopan, membiarkan mangkuk itu diletakkan di depannya, lalu pelayan beringsut pergi, menyisakan wangi manis yang lembut memenuhi udara.
Victor menunggu sampai langkah pelayan menjauh sebelum kembali berbicara. "Aturannya sederhana. Aku ingin kamu menemaniku. Tidak setiap hari, tentunya. Aku tahu kamu kuliah, kamu punya dunia sendiri. Tapi ketika aku butuh ditemani—makan malam, perjalanan singkat, atau sekadar berbincang—aku ingin kamu ada."
Tara menatap dessert di depannya, tapi hatinya berdebar tak menentu. "Lalu... sebagai gantinya?"
"Sebagai gantinya, aku pastikan hidupmu akan jadi lebih mudah." Victor menyatukan ujung jari-jarinya di atas meja, tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Tara. "Biaya kuliahmu akan aku tanggung penuh. Uang kos, kebutuhan sehari-hari, bahkan jika keluargamu perlu sesuatu yang mendesak, aku bisa membantu. Dan di luar itu, aku akan memberi allowance bulanan. Jumlahnya cukup untuk membuatmu tidak perlu lagi pusing soal uang."
Tara menelan ludah, lidahnya kering. "Allowance? Maksudnya... uang jajan gitu ya?"
Victor tertawa kecil. "Katakan saja begitu. Uang yang bebas untuk kamu gunakan. Aku tidak akan mengatur apakah untuk buku, pakaian, ponsel, atau sekadar membeli kopi favoritmu."
Keheningan sebentar. Hanya bunyi sendok Tara yang tanpa sadar menggores piring. Ia kemudian mengangkat pandangan. "Kalau aku terima... apa ada hal-hal yang nggak boleh aku lakuin?"