Dia korban, tetapi dia yang dikutuk
...
"Kamu kenapa gak bisa disentuh? Yang benar saja? Siapa yang akan tertarik dengan tubuh datar itu?"
Penghinaan luar biasa hebat. Namun, bibir Asa tidak mampu menyangkal atau membantah hinaan itu. Dia tidak mampu membela dirinya sendiri.
Jantung Asa berdegub kencang. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, kenangan buruk itu tetap tinggal. Membayangi setiap langkah yang dia ambil. Seakan mata menjijikan itu terus mengawasinya. Dia bahkan tidak lagi sanggup menegakkan kepalanya. Bahunya tidak lagi tegap dan semua dimulai dari hari itu.
Tidak seorang pun akan paham. Tepatnya mereka tidak akan pernah paham, sebelum mengalaminya sendiri. Mereka akan terus menghakimi, melontarkan hinaan tanpa henti.
"Tidak akan tergoda?" gumamnya pelan.
Jika mereka tidak tergoda, bukankah harusnya kejadian hari itu tidak pernah terjadi?
Tangan Asa menyentuh dadanya. Rasa sesak itu kembali. Perkataan mereka. Tatapan mereka. Perlakuan mereka. Semua terekam dengan jelas.
Lututnya lemas. Tidak mampu menahan massa tubuhnya.
Dia dibawa kembali pada hari-hari buruk setelah kakek pergi.
"Asa hanya ingin main sebentar aja kok, Ma," lirih Asa menunduk dalam.
Sebuah rotan siap memberi Asa pelajaran yang tidak akan pernah bisa dia lupakan. Tidak akan, meski luka yang ditimbulkan oleh benda itu akan menghilang seiring berjalannya waktu.
"Siapa yang menyuruh kamu bermain? Kamu lupa siapa yang memberi kamu makan?"
Satu hal lagi yang sangat Asa sesali adalah sosok papa yang sangat tidak berguna. Lingga tidak bertanggung jawab bahkan pada keluarga barunya. Pada akhirnya, Asa harus menanggung akibat ulah Lingga.
Beban di bahu Asa, semakin hari semakin berat. Dia hanya bisa keluar rumah untuk sekolah. Selebihnya, Asa habiskan dengan mengurus rumah, atau mendekam di dalam persembunyiannya.
Dunia Asa benar-benar menjadi buruk. Tidak ada lagi tawa seperti dahulu. Dia bahkan tidak tahu bagaimana kabar nenek sekarang. Rasanya Asa ingin kabur dan tinggal bersama nenek saja.
Dia hanya harus bertahan sebentar lagi. Sampai dia bisa menghafal jalan dan alamat nenek. Dia akan segera kabur, begitu memiliki tujuan.
Blasss...
Asa hanya bisa memejamkan mata erat. Menahan bibirnya untuk merintih, begitu rotan, dengan kasar mengenai kulitnya. Asa tidak lagi mampu meneteskan air mata. Seolah air mata ikut kering.
"Kamu harus tetap di rumah! Kamu harus menjaga adikmu! Kamu hanya boleh keluar untuk sekolah! Apa kamu sudah melupakan itu, Asa?"
"Tidak, Ma," ujarnya lemah.
Tenaganya terserap keluar. Luka yang sebelumnya bahkan belum sembuh. Dan kini, dia beroleh luka baru.
"Keluar! Tunggu sampai papa kamu pulang, baru kamu boleh masuk kamar!"
Asa berjalan tertatih. Kakinya benar-benar terasa perih. Namun, masih dipaksakan untuk berjalan keluar.
Entah sudah berapa lama Asa menunggu dalam diam. Dia hanya bisa berdiri, menatap rumah minimalis, yang lebih mirip penjara untuknya. Rumah? Ya itu hanya rumah, tetapi bukan tempat yang nyaman.
Asa sudah kehilangan rumah sejak kakek dan mama pergi.
"Asa lelah. Kakek, Mama, apa kalian akan memelukku sekarang?"