Sweet Time

Erlanda Simamora
Chapter #9

Bab 8: Asa tidak berhak bahagia

Terbiasa dengan luka, dia sudah mati rasa

...

Dinding kamar seorang perempuan harusnya bersih. Harusnya kamarnya dihiasi dengan foto idola, atau hiasan dinding. Harusnya ada rak berisi buku untuk mendukung pendidikan. Dan terakhir, bukankah dia juga harus merawat wajah dan tubuhnya dengan skincare?

Namun, ruangan berukuran 3*4 itu tampak tak layak. Dinding penuh coretan akan rasa sakit yang tak mampu terucap. Ruangan yang menjadi saksi bisu, betapa buruk hari-hari yang harus dia lalui. Dia meringkuk di sudut ruangan. Tidak lagi ada tangisan.

Kegelapan selalu memeluk erat. Malam-malam yang sunyi. Tidak seorang pun ada di sisinya, menghadapi dunia yang semakin kejam.

Semua lukanya masih membekas. Namun dia tidak berisik.

"Harusnya kamu memberitahu orang tuamu. Orang itu akan terus mengincarmu! Kamu benar-benar bodoh!"

"Jika bukan orang dewasa, siapa yang akan melindungi kamu?"

"Ayolah, kamu tidak bisa terus menyimpannya sendirian, Asa!"

Itu bukan kali terakhir, orang itu datang dan menyentuhnya. Anak yang tidak memiliki tempat mengadu, akhirnya akan selalu menjadi target yang sempurna.

"Menurutmu siapa yang harus ku beritahu masalah ini? Siapa yang akan peduli, bahkan jika aku sudah kehilangan harga diriku? Mereka bahkan tidak akan peduli, jika aku mati!"

"Kamu benar-benar bodoh! Lakukanlah sesukamu! Aku muak berusaha membantu, seseorang yang tidak ingin dibantu!"

Muak!

Itu benar. Tidak akan ada yang tahan bersama seorang perempuan yang bermasalah. Seorang perempuan yang sudah kehilangan harga dirinya.

Dia benar-benar pergi?

Asa semakin yakin kalau dia memang tidak layak. Tidak layak untuk hidup normal, seperti orang-orang. Asa tidak layak memiliki seorang sahabat. Asa tidak berhak untuk berbaur dan disayang lebih banyak orang.

Pada akhirnya Asa sendirian. Bahkan hingga akhir hayatnya, dia akan terus sendirian. Tanpa kenangan manis untuk membuat dia tersenyum.

"Asa!"

Bentakan kasar yang selalu berhasil membuat Asa ingin menghilang sekarang juga. Pintu dibuka dengan kasar.

"Mama," lirihnya.

"Enak banget ya! Sana beresin baju kotor. Jangan lupa belanja juga!"

Beberapa lembar uang kini tergeletak di atas kasurnya yang sudah tidak layak.

"Buruan, Asa!"

Meski tubuhnya sedang sakit, tak ada alasan untuk istirahat. Bagi mereka, Asa itu robot. Robot yang tidak memiliki hati. Robot yang tidak akan lelah dan sakit. Mereka bebas memanfaatkannya sesuka mereka.

Lagi, dia hanya bisa meneguk ludah kasar. Hanya seonggok nasi yang tersedia. Ah benar juga, robot juga tidak butuh makan dan asupan gizi. Hebatnya, Asa masih bisa melakukan semua pekerjaan meski sedang sakit. Dia masih bisa beraktivitas tanpa henti, meski tubuhnya hanya tinggal tulang.

"Asa mau ke mana?"

"Mau ke pasar, Nek."

Dari semua orang, Tuhan mengirimkan satu orang baik untuk Asa. Wanita tua yang selama ini memperhatikan Asa, lebih dari keluarganya sendiri.

"Wajah kamu pucat gitu, kamu sakit?"

Melihat nenek Ayu, Asa selalu ingat pada Widya. Terakhir kali, wanita tua itu masih berkunjung untuk sekadar melepas rindu.

"Asa gak apa-apa, Nek. Nenek hari ini apa kabar? Nenek sehat kan?"

Nenek Ayu tersenyum hangat, mengusap wajah perempuan di hadapannya.

"Nenek baik. Bagaimana dengan kamu, Nak?"

Asa sudah tidak pernah menangis. Seburuk apa pun perlakuan keluarga padanya. Dia tidak lagi mampu meneteskan air mata. Tetapi ini berbeda! Setiap kali nenek Ayu menanyakan kabarnya, Asa tidak mampu menahan air matanya.

Dia seperti dihidupkan kembali.

"Gak apa-apa loh kalau Asa menangis. Kan Asa manusia biasa. Kalau Asa capek, datang ke nenek ya. Nanti nenek buatkan makanan yang enak,"

Lihat selengkapnya