Bagaimana rasanya disayang sama Ibu?
. ...
"Ibu, kurasa aku akan mati, perutku sangat sakit."
"Kamu ini nakal sekali. Ibu kan sudah bilang gak perlu berangkat sekolah. Ibu akan membuatkan surat sakit, jadi tidak perlu takut."
Di balik gorden, Asa hanya bisa diam, mendengar dialog layaknya ibu dan anak. Dialog yang sangat ingin dia alami, bukan hanya saksikan.
Asa menyentuh perutnya yang masih terasa keram. Pinggangnya juga seperti patah. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Asa bahkan masih ingat, betapa bingungnya dia. Noda merah menempel di celana yang dia gunakan. Namun, tidak seorang pun menjelaskan apa yang terjadi padanya. Dia bahkan sempat berpikir akan berakhir, begitu menyadari cairan kental masih saja mengalir tanpa henti.
"Ibu bawakan kiranti untukmu. Minumlah, perutmu akan segera membaik. Setelah ini Ibu akan minta izin untuk membawamu pulang."
Asa menarik sedikit tirai pembatas. Hingga dia bisa melihat interaksi ibu dan anak itu dengan bebas. Seorang ibu yang memegang peran besar dalam hidup anak perempuannya.
"Tidak apa-apa. Selama ibu di sini, semua akan baik-baik saja."
Wanita paruh baya itu mengusap rambut putrinya perlahan. Menutup tubuh teman seusia Asa itu dengan selimut. Spontan, Asa menutup tirai begitu wanita itu menyadarinya. Asa meremas seragam sekolahnya, menunduk dalam. Tidak sanggup menghadapi wanita paruh baya yang kini berdiri di samping bed nya.
"Perut kamu juga sakit ya?"
Asa mengangkat wajahnya. Senyum hangat menyambutnya. Kasih sayang seorang ibu yang sangat Asa rindukan, tergambar di orang itu.
"Sebelum ke sini, Ibu tadi belikan dua botol kiranti. Minumlah, ini akan membuatmu lebih baik."
"Itu apa?" cicit Asa.
Wanita itu tersenyum hangat. Sembari membuka tutup botol, dia menjelaskan secara singkat minuman pereda nyeri saat kedatangan tamu, juga fungsi lainnya bagi wanita.
"Minumlah, kamu akan membaik setelahnya."
Asa menerima botol yang wanita itu sodorkan. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang memperhatikan rasa sakit yang dia rasakan.