Sweet Time

Erlanda Simamora
Chapter #11

Bab 10: Sang penyelamat

Dia penyelamat, seperti kakek!

...

Asa punya mimpi. Mimpi yang sangat besar. Asa ingat, seseorang pernah mengatakan untuk meraih mimpi besar, harus ada pengorbanan besar pula.

Asa ingin bebas!

Asa ingin punya kamar yang layak!

Asa ingin bisa mengoleksi banyak novel dan perpustakaan pribadi!

dan yang terpenting, Asa ingin bahagia!

Maka untuk meraih semua itu, Asa harus terbebas dari penjara yang selama ini mengekangnya. Asa tidak punya seseorang yang bisa menjamin bahagia di masa depan. Dia tidak memiliki seseorang yang akan mendukung apa pun keinginannya. Maka, Asa harus memperjuangkan nya sendirian.

Dia membiarkan mereka pergi, satu per satu. Dia paham, kalau tidak ada yang sabar dengan perempuan problematic. Dia juga mengerti kalau tidak ada yang akan mencintai dia, jika masih terjebak dalam rasa sakit. Maka, Asa harus bangkit sendirian. Dia harus menjadi lebih baik, untuk mendapat kehidupan yang layak. Dunia tidak berhenti, bahkan jika Asa menyerah sekarang.

"Asa, kamu baik-baik saja?"

Asa tersentak begitu namanya disebut. Perempuan itu segera menegakkan tubuhnya.

"Setelah jam pelajaran, tolong temui ibu di ruangan ya Asa," pesan Firda, seraya merapikan buku pelajaran.

Asa menghela napas pelan. Perempuan itu bergegas ke toilet. Dia membasuh wajahnya, lantas menatap kantung mata yang semakin tebal.

"Semangat Asa! Mama dan Kakek menjagamu dari jauh!" katanya menyemangati diri sendiri.

Asa menarik sudut bibirnya, berusaha menampilkan senyum terbaik yang dia punya.

Usai merapikan penampilan, perempuan itu lantas bergegas menemui Firda di ruang guru. Asa memang hampir tidak fokus di pelajaran hari ini, beberapa kali dia hampir ketiduran akibat kelelahan.

"Duduk Asa."

Asa sadar kalau dirinya dalam masalah.

"Kamu baik-baik saja?"

Meski tidak beruntung dalam banyak hal, Asa bersyukur bertemu dengan orang-orang baik, seperti wanita yang kini menatapnya penuh rasa cemas.

"Kamu adalah anak yang berprestasi Asa. Semua guru juga mengatakan hal yang sama. Nilai kamu selalu naik, tapi belakangan ini kamu terlihat tidak fokus, dan selalu kelelahan."

"Maaf Bu," gumam Asa menunduk dalam.

"Kamu tau kan, untuk dapat beasiswa penuh, nilai kamu gak boleh menurun sedikit pun."

"Asa tau Bu."

Lihat selengkapnya