Dia punya nama, Asa artinya harapan!
...
Asa berhutang nyawa pada seseorang. Seseorang yang tanpa takut menyelamatkan hidupnya. Untuk pertama kali, Asa memiliki semangat untuk hidup lebih lama. Dia ingin merasakan banyak hal yang dahulu tidak pernah dia dapatkan. Semangat juangnya meningkat lagi.
Dia tidak sendirian, saat berpikir dia sendiri. Ada seseorang yang dikirim untuk menyelamatkannya.
Orang itu, Aksara Lastreva.
Ya, namanya Aksara, nama yang kemudian menempati sisi kosong di hati Asa.
"Selamanya mama akan ada di hati Asa, kemudian kakek, lalu nenek. Emm.."
"Masih ada sisi yang kosong, siapa yang nanti akan menempatinya Asa?"
"Mungkin seseorang yang akan menyelamatkan hidup Asa, seperti Kakek."
Bahkan hingga akhir, Papa tidak pernah memiliki tempat di hati Asa. Tempat yang harusnya jadi milik cinta pertama anak perempuannya, justru menjadi bagian yang memiliki luka terdalam.
Sekarang, setelah semua masa lalu yang buruk, Asa memiliki harapan untuk masa depan. Lewat Aksara, semesta ingin Asa tahu kalau perjuangannya gak akan sia-sia.
Bahkan semesta pun seakan mendukung Asa untuk bangkit dan bangkit lagi. Tanpa perlu dicari, orang itu muncul dengan sendirinya. Senyumnya yang menawan, membuat Asa terkesima untuk beberapa detik.
"Katanya kalau menatap orang lebih dari 5 detik, bisa buat jatuh cinta loh,"
Untuk kedua kalinya, suara serak itu kembali menyapa indra pendengarannya. Berbeda dengan hari itu, kali ini Asa seakan tidak berkedip sama sekali.
"Mungkin sudah lebih dari 10 detik kamu menatapku seperti itu. Aku justru takut, bola mata coklat itu akan menggelinding keluar. Tempat ini akan jadi horor jika itu sungguh terjadi," oceh laki-laki ituitu bersama tawanya yang mengalun merdu.
Asa tidak tahu kalau dia juga sangat ramah dan mudah tersenyum. Demi Tuhan, Asa semakin tidak mampu berpaling.
"Americano 2 shoot, no ice terus coklat klasik dingin,"
"Ah iya, aku akan siapkan pesanannya segera,"
"Santai aja, aku gak lagi buru-buru kok. Nanti tolong di antar ke meja yang di ujung ya,"
Asa menyentuh dadanya begitu laki-laki itu berlalu.
"Kamu menyukainya?"
"Eh,"
Deli terkekeh melihat ekpresi tegang di wajah Asa. Belum lagi wajahnya yang sudah semerah tomat.
"Kalau kamu mau tau, aku punya beberapa informasi tentang dia,"
Asa bergerak secepat kilat, hingga Deli terkejut dengan kehadiran rekan kerjanya itu.
"Kamu benaran tertarik ya?" Delu terkekeh, semburat merah justru hadir di wajah Asa.
"Namanya Aksara Lastreva, dia 4 tahun di atas kamu. Kalau gak salah sekarang dia lagi menyusun skripsi deh, makanya jadi sering datang ke sekolah kamu. Objek penelitiannya ada di sana soalnya,"
"Dia kuliah di mana?" Asa ingin tahu lebih banyak tentang penyelamatnya, agar kelak dia bisa membalas laki-laki itu.
"Coba tebak? Entah hanya kebetulan atau bukan, dia kuliah di Universitas impian kamu, Asa. Mungkin red string teori berlaku pada kalian?"
Asa menyimpan pesanan Aksara. Pandangannya kembali tertuju pada laki-laki yang sibuk dengan laptopnya di sudut ruangan. Cara Tuhan itu cukup unik ya? Bagaimana bisa seseorang yang sangat jauh, dikirimkan hanya untuk menyelamatkan Asa. Dari banyaknya murid, guru bahkan staf di sekolah, Asa justru diselamatkan oleh seseorang yang tidak ada kaitannya dengan sekolah. Seseorang yang hanya sedang melakukan penelitian.