Jika Dia sudah berkenan, maka tidak ada yang bisa menghalangi jalan-Nya.
...
Gagal, bahkan sebelum berusaha lebih jauh. Dia baru saja hendak memulai, tetapi sudah kalah. Kaki Asa selayaknya jelly yang tak mampu lagi menahan beban tubuhnya. Dia ambruk di antara kertas yang berserakan di atas lantai. Rahasia yang dia simpan dan usahakan, berakhir menjadi sampah yang tidak berguna.
Waktu pendaftaran SNMPTN jalur beasiswa hampir tiba. Asa sudah menyiapkan semua berkas yang dibutuhkan. Dia mengusahakan semuanya sendirian. Tidak sedikit pun dia meminta bantuan dari kedua orang tuanya.
Asa adalah pengecualian untuk semua keberuntungan yang tercipta.
"Aku harus diskusi dulu sama Mama dan Papa, untuk tau mana jurusan yang paling berpeluang di masa depan,"
"Aku gak khawatir soal kuliah. Kata Mama kalau gak lulus negeri, aku bisa kuliah di Universitas swasta,"
Mereka beruntung bukan? Mereka bisa mendapatkan apa pun dengan mudah. Sementata Asa? Bahkan setelah berusaha, ia tetap kalah.
Setelah perpustakaan terbakar, Asa menjadikan gudang sekolah tempat persembunyian dari dunia. Setidaknya ruangan penuh barang bekas itu, masih lebih baik dibanding rumah.
"Tebakanku benar ternyata,"
Asa mendongak, menatap pemilik sepasang sepatu yang kini berdiri tepat di hadapannya. Asa mengusap jejak air matanya, menyisakan senyum palsu.
"Dari semua tempat, kenapa harus gudang?"
"Ini satu-satu tempat yang dijauhi semua orang,"
Aksara selalu menjadi pengecualian. Seseorang yang selalu berhasil menemukan tempat persembunyian Asa. Dia meraih karton bekas, lantas duduk di sebelah Asa beralaskan karton tersebut.
"Apakah dunia semenyeramkan itu, sampai kamu ingin bersembunyi?"
Asa menghela napas. Dia sungguh tidak ingin terlihat lemah, di hadapan Aksara.
"Tidak peduli semenyeramkan apa pun, dunia akan terus berjalan, meninggalkan siapa pun yang tidak mampu,"
Asa menoleh, untuk lebih menyadari kalau hidupnya menyedihkan, bahkan di hadapan seseorang yang sangat ingin dia buat bangga.
"Benar sekali. Dunia akan terus berjalan bahkan tanpa kita. Lalu untuk apa kita terus memikirkan tentang dunia?"
Hening. Asa menunduk dalam, menahan sesak di dadanya.
"Bagaimana persiapan kamu?"
"Aku gak akan kuliah untuk sementara waktu, Kak. Aku akan kerja, mengumpulkan pundi-pundi dan melanjutkan kuliah setelahnya. Toh, belajar tidak mengenal usia kan?"
Asa menyerah untuk terus menentang dunia. Dia harus menerima bahwa keberuntungan tidak berpihak padanya.
"Kamu mengalah begitu saja?"