Bapak Uu memang suami yang baik, ayah yang hebat, dan musisi multi talenta. Namun, sayangnya, ia tak terlalu bertalenta perkara menjaga kesehatan. Bapak bukan pecandu narkoba, apalagi penggemar perempuan muda, dan bukan pula maniak game Winning Eleven seperti aku dan Hilal, Bapak seorang perokok berat, dan pecinta kopi. Rokok Gudang Garam, dan kopi Kapal Api menjadi sajian favoritnya.
Fuuuh! Asap rokok yang pekat dan kelam mengepul dari bibirnya yang mulai menghitam. Bapak Uu duduk di atas kursi kayu dengan santai, sementara Mamah Yati begitu sibuk melayani pembeli dan rombongan tamu yang berdatangan ke Toko Firda. Orang tuaku sungguh lucu, Bapak seorang jurig rokok (perokok aktif), sedangkan Mamah adalah juragan rokok. Di samping beras, minyak tanah, dan Indomie, rokok adalah salah satu benda terlaris di toko. Keuntungan menjual sebungkus rokok memang hanya seribu atau dua ribu perak, tetapi dengan faktor kali, penghasilannya bisa menembus jutaan rupiah setiap bulan. Namun, meskipun menguntungkan bagi keuangan, bahaya bagi kesehatan tak boleh disepelekan.Karenanya, hari ini aku mencoba membujuk Bapak agar berhenti merokok.
Fuuuuh! Aku duduk di sampingnya, meniru gaya ngudud Bapak Uu yang terlihat berwibawa seperti Bung Karno. Kuisap perlahan permen rokok-rokokan itu, seolah diriku perokok handal. Hilal mengikutiku, dia menirukan gaya Bapak yang mengisap dan menyemburkan asap khayalan ke udara. Alisnya terangkat tajam, dan Bapak berkata dengan tegas, "Kasep, ka ditu, menjauhlah. Bapak keur udud. Asap na berbahaya!"
"Kenapa atuh kalau bahaya mah Bapak malah udud setiap hari?" Kata-kataku membuatku terdiam. Katanya bahaya, tapi diisap setiap hari. "Ari Bapak teh masih bisa ningali (melihat)? Baca atuh bungkusnya. Merokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, gangguan kehamilan, dan janin."
Bapak menyimak.
"Pak, rokoknya ganti sama ini saja!" Hilal menyodorkan permen rokok-rokokan yang terbuat dari biang cokelat. Dia tidak tahu bahwasanya mengkonsumsi terlalu banyak gula juga bahaya, bisa menyebabkan seseorang terkena diabetes.
Aku menatap Bapak Uu yang menunduk malu, menatapnya sambil tersenyum tenang. “Bapak mah kocak, nya?”
“Lucu kunaon?” Bapak bertanya mengapa.
Aku menasihatinya, “Bapak teh suka nasehatin Aa sama Ade supaya makan bayam setiap hari supaya tubuhnya sehat dan kuat kayak Popeye, tapi kenapa Bapak malah gak bisa jaga diri sendiri. Bapak malah jadi perokok yang hobi merusak tubuhnya sendiri. Bapak eling?”
"Nanti sakit lo Pak, ngerokok mulu mah!" Hilal menasihatinya. Sambil tersenyum gemas dia berkata, “Mending uangnya ditabung buat beliin kami Playstation. Bener teu, A?”
Aku mengacungkan kedua jempolku. Aku berkata, “Sama beli make up buat si Mamah.”
"Insyaallah gak masalah, Nak. Bapak mah udah kebal sama rokok mah. Ya, semoga nanti ada rejekinya buat beli Playstation sama make up." Bapak mengelak.
Aku menepuk jidat jenongku. “Bapak mungkin kuat ngerokok dua bungkus sehari, tapi kalau Bapak sakit terus meninggal nanti Mamah Yati gak bakalan kuat kehilangan Bapak. Mikir atuh, Pak.”
Bapak hanya terdiam, terpaku mendengar kata-kata kedua anaknya.

Ilustrasi: asap rokok yang berbahaya.
Ohok! Dahakku begitu dahsyat, terus batuk berulang-ulang, berisik seperti burung pelatuk yang sedang mematuk. Napasku tersengal, jalanku terseok-seok, dadaku terasa pedih seperti ditonjok berulang kali dari dalam. Ternyata, aku malah mengidap bronchitis akibat menjadi perokok pasif. Di awal tahun 2000-an, selain musim penculikan, penyakit kurang duit dan masalah paru-paru memang menjadi salah satu momok. Aku bukan satu-satunya. Teman sekelasku, Saiful Anwar dan sepupuku, Rian, juga sempat terserang penyakit menyebalkan ini. Ganas, tak peduli kamu aki-aki, artis bahenol, dan bocah ingus sekalipun, selama bergaul dekat perokok pasti bisa tertular. Gara-gara menjadi perokok pasif, setiap sebulan sekali aku harus check up ke dokter dan meminum puyer yang sepahit tahi kuda. Selama enam bulan penuh, obat harus diminum setiap hari, tak boleh terlewat. Jika terlewat sehari saja, perawatan dimulai dari nol. Untungnya, usaha Keluarga Pandawa cukup maju, uang bukanlah masalah jika dibanding kesehatanku. Karena merasa bersalah, setiap sebulan sekali, Bapak Uu mengantarku check up ke dokter anak di kota Tasikmalaya. Setiap pergi ke kota, Bapak selalu menemaniku berburu mainan baru. Mainan-mainan bisu yang kubeli jadi pasukan penghibur kesepian. Ada untungnya juga, aku jadi sering liburan, dan bertemu sepupu-sepupuku di Jalan Jiwa Besar.
Kala itu, rintik-rintik hujan yang sendu jatuh tak tahu diri. Di bawah guyuran hujan, aku dan Bapak berlindung di dekat stasiun angkot. Bapak termenung, bola mata cokelatnya menangkap pemandangan menyedihkan. Seorang bocah jalanan berbaju lusuh mendatanginya, tangan kurusnya memeluk keresek besar, mulut mungilnya terus meracau, menawarkan sekantong kresek yang sebenarnya tak kuperlukan. Dia tersenyum bahagia, Bapak Uu merogoh saku celananya, dikeluarkanlah dompet kulitnya, dengan ikhlas dia membeli satu kantong keresek jumbo dari seorang bocah kurus kering yang basah kuyup. Uniknya, hal itu terus berlangsung selama enam bulan. Setiap datang ke kota, Bapak selalu membeli produk dari bocah-bocah jalanan.
"Kunaon Bapak teh meser kresek wae? Kan Bapak teh teu butuh, di warung oge seeur!" Aku penasaran dengan tingkah Bapak yang terus membeli kresek padahal di warung juga banyak.
Kumis hitamnya mengambang indah. "Bukan Bapak nu butuh, tapi mereka.”
“Preet!” Aku menjulurkan lidahku.
Dulu, aku tak memahami labirin pikiran Bapak Uu, tetapi seiring berjalannya waktu aku memahaminya pelan-pelan. Aku memperhatikannya, setiap hari bocah jalalan ini berjumpa dengan banyak tukang mainan, tapi jarang sekali kulihat mereka membelinya. Setiap kali mendapatkan uang, kulihat mereka selalu tertawa riang, menari di bawah rintikan hujan, menikmati serpihan uang receh yang tak seberapa. Uang itu mereka belikan nasi Padang dengan nasi ekstra, dan ayam goreng. Mereka menikmatinya secara bersamaan. Aku merasa iba sekaligus geli. Karena ketika aku makan, jangankan disentuh orang lain, dipegang ibu sendiri pun bisa membuat selera makanku menurun. Apik rujit istilahnya. Sekarang aku mengerti mengapa Bapak bisa sebaik itu. Bagi bocah jalanan, membeli sekilo beras jauh lebih penting daripada membeli mainan baru yang hanya disimpan di lemari kayu. Itu pun, jika mereka punya lemari. Bagiku uang hanyalah sebuah alat untuk membeli mainan baru, sedangkan bagi bocah jalanan, uang adalah alat untuk menyambung kehidupan.

lustrasi: kehidupanku pas sakit.
Panggil aku sang kolektor mainan. Mulai dari Lego China, Power Ranger Hijau, dan Action figure Saint Seiya, semuanya terpampang rapi di dalam lemari mainanku. Ketika sedang pengobatan, aku memiliki banyak mainan baru, tetapi lucunya hanya memiliki sedikit orang untuk diajak bermain. Bapak tahu itu. Sesal berkecamuk di dadanya. Karenanya dengan susah payah dia menciptakan kamar mainan supaya aku tetap bisa bermain puas di dalam rumah. Sebuah kamar kosong bekas almarhum Nenek Fatimah (ibu angkat Bapak) di renovasi menjadi kamar mainan. Dinding-dinding kumuh, ditutup dengan terpal berwarna jingga. Setelahnya, dimasukanlah mainan-mainan saktiku satu persatu ke sana.
