
Ilustrasi: Keluarga Pandawa sunatan di Istana Awan.
Salah satu syarat mutlak menjadi laki-laki Muslim adalah syahadat, solat, dan sunat. Dari ketiganya, yang terakhir adalah yang paling menakutkan bagiku. Namun, setelah dijanjikan akan dibelikan hadiah berupa Playstation. Demi benda ajaib itu, kami merelakan sebagian kecil kulit titit untuk disunat Di sebuah rumah khitan di Tasikmalaya, perjalanan baru kami menuju kedewasaan telah dimulai. Hilal yang pemberani, menjadi yang pertama masuk ke ruang operasi. Di ruang tunggu, suasana terasa tegang. Sanak keluarga dari keluarga Mamah Yati berkumpul semua. Bapak Uu duduk di sebelahku. Tenang. Sepupuku Hendrik mencoba bercanda denganku, tapi isi pikiranku yang berlarian ke segala arah, tak mampu menangkap apapun, selain suara jarum jam yang seolah menertawakan keteganganku. Aku gelisah, tak bisa diam, seolah burung kecil yang terjebak di dalam sangkar kecemasan. Jantungku berdetak cepat, setiap ketukannya terasa keras di dada, kencang laksana genderang perang. Mamah Yati pergi keluar, mengajak si bungsu jalan-jalan. Jantungku berdetak seperti genderang perang, gigiku bergemeretak kuat, keringat dingin mengalir membasahi pipiku. Menegangkan, rasanya seperti seorang prajurit kecil yang dipaksa ikut ke medan pertempuran. This is Sparta!
Melihat anaknya gelisah, Bapak Uu menepuk dengkulku yang gemetar, mencoba menenangkan dengan senyum manisnya. "Tenang aja gak bakalan sakit kok."
"Aku memandangnya dengan ragu. Masa?"
"Iya, cuma kayak digigit semut."
“Alhamduli—”
“Kayak digigit semut peluru!” Hendrik memotong.
Astaga, detik itu juga aku terlempar kembali ke dalam pusaran kecemasan. Tanganku mulai berkeringat lagi, tubuhku mulai cemas. Gila, gigitan semut peluru rasanya seperti dihantam kapak besar, rasa sakitnya tajam, jletot, dan bisa terasa sampai 24 jam.
Dia berbisik ke daun telingaku, "Yeh, kamu mah untung, sunatnya pake pisau bedah, Endik sama A Yana mah dulu disunatnya juga dibacok pakai golok. Tanpa anestesi. Sakit, bukan main." Wajah garangnya terlihat begitu riang. Hendrik begitu bangga dengan sunat story miliknya. Hendrik bercerita tentang perjuangan gagahnya ketika berhasil bertahan hidup setelah melalui pengalaman kelam di program sunatan massal.
Glek. Kisah kelamnya terdengar seperti kisah penjagalan yang menakutkan. Tak terbayang bila aku ikutan sunatan massal terus dapat antrean paling bontot. Bila dokternya kelelahan, takutnya senjata nuklirku malah terbelah dua karena kurang konsentrasi. Akh! That sick! Nyerinya tak terkira. Setelah dengar kisahnya, ingin rasanya aku berlari sekencang The Flash, melarikan diri ke Antartika, lalu menyewa seorang body double tuk menggantikan misi sunatanku. Setelah perannya selesai, kan kugantikan kembali posisinya, lalu mengambil hadiah Playstation yang dijanjikan Bapak untukku. Happy ending.
"Pak, Ultraman disunat, teu?" Kulontarkan pertanyaan nyeleneh untuk menenangkan jiwaku yang resah.
"Tentu saja."
"Pffft." Hendrik menahan tawa.
Seandainya Ultraman disunat, sepertinya itu bakal jadi acara sunat akbar yang menghebohkan jagad raya. Mengingat belum ada dokter sunat seukuran buto ijo, mungkin Ultraman bakalan menyunat dirinya sendiri dengan jurus tembakan laser andalannya. Meski segede gaban, faktanya mereka hanya bisa bertahan 3 menit di planet Bumi. Setelah disunat, Ultraman akan terbang keluar angkasa, kemudian berpose dengan gagah di antara kerlipan bintang-bintang.
"Kalau Ranger Merah?" Pertanyaanku semakin aneh.
Bapak mengiyakan.
"Kalau Fir'aun, Pak?" Semakin nyeleneh.
Bapak mengangguk.
“Kalau Undertaker, Mang?” Pertanyaan Hendrik lebih nyeleneh, Bapak Uu langsung speechless. Mantri mana yang berani nyunat The Undertaker? Pegulat tinggi, kekar, bertato yang bisa membuat The Rock yang sangar, langsung tepar seperti lemper. Seandainya Undertaker berniat disunat, mungkin yang bakal jadi mantri sunatnya adalah Triple H, Brock Lesnar atau Kane, adik kesayangannya.
“Berikutnya!” Mantri sunat mulai memanggil namaku. Hilal keluar dari ruang bedah tanpa rasa gundah. Dia tersenyum dengan sumringah sambil berjalan dengan tegap, seolah tak terjadi apa-apa. Dagunya naik ke atas, menatapku dengan ekspresi menyenangkan. Ternyata, disunat tak terlihat semenakutkan adegan yang terekam di CCTV.
“Maknyos! Gak sakit, kok.” Hilal menjentikan jarinya. “Aman, A. Rasanya kayak di gigit semut."
“Semut peluru, kah?”
“Bukan, kayak digigit semut cacingan.”
Alhamdulilah, kata-katanya menenangkan. Aku masuk ke dalam ruang khitan, lalu menghampiri mantri yang sudah siap dengan gunting sunatnya. Kita memulainya dengan Bismillah, lalu keluar ruangan dengan ucapan Alhamdulilah. Selepas disunat, aku bertanya Bapak, kapan dan di mana acara hajatan akan dilaksanakan. Menurutnya, acara hajatan akan dilaksanakan di Istana Awan, rumah nenek Didah. Tujuannya, supaya keluarga besar Bapak yang tinggal di Bandung, Anak-anak Surya, serta keluarga besar Mubarok bisa turut hadir untuk memeriahkan acara.

Ilustrasi: (depan: Alwinn, Diman, Akmal, Hilal, Dafa, Ulan, Yanti. Belakang: Neng Dina, Hendrik, A Iwan, Mah Bibi, Emak, Dini, dan April.)
Welcome to Pesinggahan Besar.
Keluarga Pandawa beristirahat di rumah kedua milik Mamah Yati: Pesinggahan Besar. Aku menamainya Pesinggahan Besar karena letak rumahnya yang terletak di ujung sungai. Yang mana sering kalisungai itu menghadirkan aroma pesing yang gak nahan. Kata besarnya berasal dari nama jalannya: Jalan Jiwa Besar. Sama dengan penghuninya yang berjiwa besar. Hari itu, keluarga besar Emak Anah yang tinggal di Paseh, kumpul semua, mereka merayakan terkelupas kulit sunatku dengan khidmat. Satu persatu, sanak saudara mulai memberi uang cecepan pada dua bocah yang tertidur lemas di atas ranjangnya. Dari uang cecepan, aku meminta Bapak membebelikan dua buah tamiya: satu untukku, dan satu untuk Hilal. Selain mentraktir mainan, Bapak Uu mentraktir keluarga Mamah makan Bakso Mas Godeg: sebuah kedai bakso Solo yang termasyhur karena sensasi bakso uratnya yang kenyal dan berdaging.
