Gelap.
Suara frekuensi tinggi berdenging tajam, menyakiti telinganya bagai ribuan jarum perak yang menusuk.
Kesadarannya terseret ke dalam pusaran hitam di mana suara-suara orang yang ia cintai perlahan berubah menjadi statis yang bising, dan bayangan orang yang ia cintai perlahan menjadi asing sebelum akhirnya senyap total.
Dunia terasa seperti gumpalan asap hitam yang dingin.
Saat dia membuka mata, hal pertama yang ia rasakan bukanlah oksigen, melainkan aroma tajam antiseptik dan ozon yang menusuk hidung, membuat sesak. Ia berada di sebuah ruangan dengan dinding baja seperti ruangan medis kelas 1, diterangi oleh lampu neon putih yang berkedip menyakitkan mata. Cahaya terang tiba-tiba menghantam retinanya, merobek paksa kegelapan yang baru saja ia huni.
Ia mencoba duduk, namun kepalanya berdenyut hebat. Ada sensasi "kosong" yang mengerikan di dalam benaknya. Seolah-olah sebuah perpustakaan besar di dalam kepalanya baru saja dibakar habis, menyisakan abu yang tak bermakna. Nama, wajah, suara—semuanya hilang.
"Hei... kau masih bernapas?" Suara itu bagai melodi yang mengalun, menghancurkan segala sensasi yang ada di kepalanya.
Ia menoleh.
Di ranjang sebelah, seorang anak laki-laki berambut acak-acakan sedang duduk sambil memegangi kepalanya. Di tangannya terdapat label metal bertuliskan Subject 021.
"Kepalaku rasanya seperti dihantam palu," rintihnya. Ia menatap subjek bergelang 009 dengan pandangan bingung. "Siapa aku? Siapa kau? Kenapa kita ada di dalam sini?"
Ia tidak menjawab. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar. Di sana, gelang metal futuristik tertulis kode Subject 009.
Tiba-tiba, pintu baja ruangan itu bergeser terbuka dengan desis hidrolik. Dua orang gadis masuk dengan langkah yang berbeda. Gadis pertama, berkulit putih, rambut hitam pendek, berlabel Subject 012, berjalan dengan wajah masam dan tangan mengepal. Sementara gadis kedua berambut perak, berkulit sawo matang, Subject 015, berjalan di belakangnya dengan langkah yang jauh lebih pelan dan mata yang terus waspada memantau setiap sudut ruangan.
"Berhenti mengeluh, 021. Suaramu membuat kepalaku makin sakit," ketus Subject 012. Meski ingatannya hilang, sifat keras kepalanya seolah mendarah daging. Ia duduk di kursi logam dan menendang kaki meja dengan kesal. "Apa pun yang mereka lakukan pada kita, aku tidak suka tempat ini. Aku ingin keluar."
Subject 015 bersandar di dinding, melipat tangannya di depan dada. "Keluar? Lewat mana, Subject 012? Kau lihat penjaga di luar? Mereka punya senjata yang bisa melubangi perutmu sebelum kau sempat menyentuh pintu," ucapnya dengan nada skeptis yang dingin. "Dengar, dari apa yang kudengar di lorong tadi, kita di sini bukan untuk menginap. Kita ini percobaan."
"Percobaan apa?!" tantang Subject 012, matanya berkilat marah.
"Sirkuit Mana," jawab gadis rambut perak (015) itu pendek. "Anak yang punya energi alami seperti kita akan dilatih. Tapi bagi mereka yang 'kosong'... kulihat mereka dibawa ke lab bawah tanah. Mereka menanamkan pecahan batu sihir langsung ke dalam daging manusia. Aku melihat satu anak berteriak sampai paru-parunya pecah karena tubuhnya tidak kuat menahan radiasi batu itu."
Ruangan itu mendadak senyap. Ketakutan menyelinap seperti kabut di antara mereka.
"A-Apa kalian mengingat nama kalian?" 021 (Amae) bertanya heran, memecah atmosfer seketika.
"Aku merasa aku mengingat sebuah nama... Meyra," jawab gadis berambut hitam pendek (012) itu. Nada suaranya masih ketus, tapi ada getaran ragu di sana.
"Aku juga. Rasanya asing, tapi mungkin namaku Zilla," sahut gadis berambut perak (015) yang sejak tadi waspada di dekat dinding.
"A-aku merasa familiar dengan kalian... panggil aku Amae, mungkin," balas 021 pelan.
Ketiganya terdiam, lalu secara serentak menoleh ke arah ranjang di tengah. Ke arah sosok yang sedari tadi hanya diam menatap telapak tangannya sendiri.