Udara di Sektor 7 tidak pernah benar-benar hangat; ia selalu terasa membeku, seolah-olah maut telah meresap ke dalam molekul oksigennya.
Barisan para kadet berlabel metal berdiri tegar di bawah bayang-bayang bangunan tua yang tampak seperti peti mati raksasa. Di depan mereka, lobi asrama ternganga lebar layaknya mulut predator yang siap menelan sisa-sisa kemanusiaan mereka.
"Dengar, ampas! Ini adalah asrama kalian. Masuk dan segera berbaris sesuai unit masing-masing!" perintah Varkas. Suaranya yang parau menggema, memantul di dinding beton yang kaku.
Dua daun pintu baja bergeser dengan desis hidrolik yang berat. Satu per satu mereka melangkah masuk dalam irama yang dipaksakan. Unit 001 bergerak lebih dulu dengan langkah robotik, disusul unit-unit berikutnya, hingga tiba giliran Unit 009 yang dipimpin oleh Zilla.
Cahaya neon berkedip malas, menyambut kedatangan mereka. Zilla (015) melangkah paling depan dengan tatapan waspada, memandu kelompok kecilnya menuju pintu masuk Asrama Blok B. Di belakangnya, Amae (021) melangkah dengan lutut yang bergetar hebat. Meyra (012) yang berada tepat di belakang Amae, mendorong bahu bocah lelaki itu dengan kasar.
"Perhatikan langkahmu, goblok!" bentaknya tertahan, suaranya desisan rendah yang penuh emosi. Di belakang mereka, subject 018 dan 009 hanya bisa membisu, menjadi penutup barisan unit mereka yang kini sepenuhnya tertelan oleh bayang-bayang lorong Blok B.
Lorong itu adalah labirin kengerian. Lantai keramik putih tersusun kaku layaknya papan catur raksasa, sementara dinding betonnya dihiasi noda darah menghitam—lukisan bisu tentang nyawa yang pernah tersungkur di sana.
"Aaku ingin pergi dari sini," batin Amae meronta.
Amae membeku. Dinding-dinding itu seolah merapat, menghimpit dadanya hingga sesak.
JEDARR!
Ia tersentak. Sebuah cambukan melayang tepat di hadapannya, membelah udara dan meninggalkan bekas retakan tipis pada lantai keramik putih yang suci.
"Siapa menyuruhmu berhenti?" Suara Varkas lebih buas dari suara cambuk yang baru saja melayang. Zilla dengan cepat menarik tangan Amae yang gemetaran.
"Berdiri berbanjar!" Perintah Varkas.
Para kadet itu berbaris memanjang, diam dan kaku seperti pion catur yang siap dikorbankan di atas lantai catur raksasa itu. Varkas melangkah lambat, sepatu botnya menghantam lantai dengan bunyi yang menggema sombong.
"Aturan pertama: perhatikan lampu di gelang tangan dan di pintu kamar kalian. Cahaya Merah artinya kumpul lorong. Cahaya Biru untuk makan, dan cahaya Hijau adalah satu-satunya waktu kalian untuk mengistirahatkan raga kalian yang tidak berguna itu."
Ia berhenti tepat di depan subject 018 yang nyaris kehilangan napasnya. Varkas membungkuk sedikit. Bayangan tubuh besarnya menelan tubuh kecil gadis itu.
"Aturan kedua: dilarang bersuara..." bisiknya tepat di depan wajah gadis itu.
Subject 009 yang berdiri di ujung barisan bisa merasakan tekanan udara yang berubah. Tangannya yang tersembunyi di samping paha perlahan mengepal. Ada sesuatu yang berdenyut di nadinya.
"Dilarang membawa barang apa pun dari luar! Jika kalian berani melanggar, bersiaplah menghadapi konsekuensi yang akan membuat kalian menyesal telah dilahirkan. Dan aturan terakhir yang paling penting..."
Ia berhenti di depan Amae yang berkeringat. Varkas menyeringai, sebuah senyum predator yang mengerikan. "Satu berbuat, semua kena! Jika ada satu dari kalian yang bertingkah, seluruh unit akan menerima hajarannya. Paham?!"
"PAHAM!" spontan Amae menjawab.
"Siapa yang menyuruhmu untuk berisik?" tanya Varkas seraya mengambil cambuknya.
Suasana hening seketika.
Cambuk itu melayang bagai ular yang bergeliat di udara. Amae tak berdaya, ia hanya bisa berdiri pasrah, menunggu ajak menjemput dengan lututnya gemetaran. Zilla bersama Meyra menahan napas, melirik Amae.
Seketika sebuah bayangan melesat.
JEDARR!