Symphony of the still earth

Aga Cahya Anugrah
Chapter #3

Chapter 3 Hukum Rimba: Satu Gagal, Semua Jatuh

SIKLUS 04.00 Sektor 7 : Asrama Blok B


Lampu merah menyala, membelah kedamaian asrama yang semu dengan pendaran yang merusak jiwa. Suara sirene frekuensi tinggi menggema, merogoh paksa kesadaran para kadet yang masih setengah sadar, menyeret tubuh-tubuh ringkih mereka kembali ke realita yang pahit. Tidak ada transisi lembut antara mimpi dan jaga; yang ada hanyalah sentakan adrenalin yang memuakkan.


"BANGUN, AMPAS! SAATNYA KUMPUL LORONG!"


Dalam sekejap, labirin beton itu dipenuhi barisan kadet berseragam taktis hitam yang tampak lesu. Segala perlengkapan seragam dicek oleh Varkas sebelum menuju penyiksaan yang nyata. Setiap kancing yang miring atau lipatan yang tidak rapi dihadiahi hantaman kecil dari gagang cambuknya yang dingin.


Sepuluh unit itu digiring menuju lapangan beton luas yang dikelilingi pagar kawat berduri. Kawat itu mendesis, memercikkan aliran listrik tegangan tinggi yang seolah-olah sedang menertawakan nasib mereka.


Di tengah lapangan, Varkas berdiri tegak. Lengan mekaniknya berderit setiap kali ia mengepalkan tinju—suara hidrolik yang berat, kasar, dan tajam. Pekikan logam itu seakan merobek udara, mengingatkan mereka bahwa di bawah bendera PETERUMMAN, manusia hanyalah sekrup kecil yang bisa diganti kapan saja.


"Hari ini, kalian akan belajar satu hukum mutlak: Hanya yang tercepat yang berhak atas fasilitas!" raung Varkas. Matanya yang sedingin es menyapu barisan anak-anak yang gemetar, uap napas mereka membeku di udara. "Lari! Sepuluh putaran! Jika satu saja dari kalian berhenti, regunya akan dihukum!"


Latihan lari dimulai. Sepatu bot menghantam beton dalam irama yang kacau.


Putaran ketiga. Napas mereka mulai berubah menjadi kabut tipis yang menyakitkan saat melewati tenggorokan. Di saat unit lain berjuang menjaga napas agar paru-paru mereka tidak pecah oleh udara dingin, Unit 001 menunjukkan dominasi mereka. Mereka berlari dengan sinkronisasi yang mengerikan, seolah-olah sistem saraf mereka telah terhubung menjadi satu kesatuan predator. Dengan keunggulan fisik yang mencolok, mereka melesat, memotong barisan hingga unggul dua putaran.


Putaran kelima. Keringat yang bercampur suhu dingin mulai membeku di pelipis, namun Unit 001 justru semakin melesat bagai bayangan maut. Drog (001) melirik ke arah Varkas. Sebuah anggukan kecil dari sang instruktur menjadi lampu hijau. Drog memberi aba-aba pada unitnya—004, 007, 022, dan 041. Target mereka jelas: menghancurkan Unit 009.


Putaran ketujuh. Kelelahan mulai menjadi racun. Unit 001 bergerak mengepung Unit 009, mempersempit ruang gerak mereka hingga setiap langkah menjadi pertaruhan. Zilla menyadari bahaya itu. "Semuanya, waspada! Jaga jarak!" teriaknya dengan napas yang mulai putus-putus.


Tiba-tiba, Nobo (004) mendekati Zilla dengan seringai menjijikkan. "Hai, Cantik! Aku Nobo. Kalau kau lelah, biarkan aku menggendongmu!" Zilla tidak membalas, ia melaju meninggalkan bocah itu; di mata Zilla, Nobo tampak jauh lebih menyerupai babi hutan daripada seorang manusia.


Ed (007) memepet barisan Meyra. "Halo, Nona Cilik... rambut pendekmu manis sekali," bisiknya. Namun, Meyra langsung memotong jalurnya. Ia membalas dengan tatapan yang begitu dingin dan kejam, seolah-olah ia sedang membedah isi kepala Ed dengan pisau bedah. Ed tersentak, nyalinya menciut seketika. Sementara itu, Jack (041) mendekati Reyna (018) dengan senyum kaku yang terlihat seperti kerusakan sistem, menakuti gadis pemalu itu.


Puncaknya terjadi pada Amae. Sebagai yang paling rapuh, ia menjadi mangsa empuk. Drog sengaja mengubah arah larinya, bahu tegapnya menghantam tubuh Amae dengan kekuatan penuh.


BRAKK!


Amae terbanting. Suara hantaman tubuhnya pada beton menggema, tulangnya merintih saat kulit lututnya terparut permukaan lapangan yang kasar. "Kenapa harus aku? Aku benci tempat ini!" batinnya berteriak dengan mata berkaca-kaca.


"Amae..." gumam Meyra. Langkahnya sempat goyah, nyaris berhenti. Namun, aturan di Sektor 7 adalah hukum rimba; berhenti berarti menyeret seluruh unit ke dalam kehancuran. Meyra mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih, lalu justru mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa perih di dadanya.


Zilla di depan berusaha tetap tenang. Ia tidak berpaling sedikit pun, seolah semua kejadian di belakangnya bisa ia pahami hanya lewat suara gesekan sepatu dan rintihan. Bagi Zilla, melihat ke belakang adalah pengakuan akan kelemahan.

Lihat selengkapnya