SIKLUS 07.00
"Habiskan makananmu, cepat!" bentak Meyra. Amae makan dengan rakus, menjejalkan makanan ke mulutnya bahkan menyambar jatah Nugia yang tak tersentuh.
"Guh—uhuk! uhuk!" Amae tersedak, mulutnya penuh dengan roti kering sementara porsinya sendiri belum habis.
"Itu akibatnya kalau serakah!" teriak Meyra.
"Jangan buru-buru! Nanti perutmu sakit. Itu baru sirine peringatan," ucap Zilla tenang, meski matanya tampak tajam.
Amae mengunyah dengan panik, matanya terbelalak menatap gelang di pergelangan tangannya. Pendar birunya telah padam. "Cahaya birunya... mati!" rintihnya di sela kunyahan remah-remah roti.
"SUDAH KUBILANG CEPAT!" bentak Meyra, ia sendiri nyaris tersedak saat menelan suapan terakhirnya paksa.
Nugia tetap diam, tatapannya terpaku pada Reyna. Gadis itu memetik rotinya sepotong demi sepotong, tangannya gemetar hebat hingga nyaris tak bisa memegangnya. "Ini," ucap Nugia, menggeser sosisnya ke arah Reyna. Reyna hanya menggeleng, matanya kosong.
Tiba-tiba, kehangatan yang minim di ruang makan itu membeku.
"Waktu habis! Dalam hitungan kesepuluh, kalian harus sudah ada di lapangan apel!" suara Varkas menggelegar dari ambang pintu. Ruangan yang bising itu seketika sunyi senyap, menyisakan Unit 009 yang masih berjuang dengan sisa makanan mereka.
"LARI...!" Teriakan Zilla memecah kebekuan. Ia melesat lebih dulu, diikuti Meyra yang bergerak seperti bayangan. Amae, didorong oleh rasa lapar yang tersisa dan ketakutan murni, menyambar dua potong roti dan sosis Nugia sebelum terbirit-birit mengejar Zilla.
"SATU!" raung Varkas. Angka itu bukan sekadar hitungan; itu adalah vonis.
Reyna terpaku. Teriakan itu terdengar seperti letusan senjata di telinganya, melumpuhkan kakinya. Pandangannya kabur saat melihat punggung ketiga temannya menjauh. Beban yang menyesakkan menekan dadanya—campuran pahit antara pengkhianatan dan perasaan ditinggalkan. Kenapa mereka meninggalkanku?
"DUA!"
Dunia melambat bagi Reyna. Ia terjebak dalam pusaran ketakutan yang melumpuhkan.
"TIGA!"
Tiba-tiba, sebuah kehangatan menyentuhnya, melarutkan teror dingin itu dengan kontak yang tak disangka lembut. Itu adalah tangan Nugia. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik Reyna dari kursi baja dengan kekuatan yang tak terbantahkan.
"EMPAT!"
Rasanya seperti keajaiban persahabatan, sengatan listrik melonjak melalui kaki gadis muda itu. Reyna merasakan beban di tubuhnya lenyap, digantikan oleh dorongan nekat untuk berlari menembus hitungan mundur mematikan yang menggantung di udara.
"LIMA!"
Pada titik tertentu, hitungan Varkas mulai memudar di telinga mereka. Mereka berlari hanya dengan insting, melewati koridor beton dingin hingga lapangan apel yang luas tinggal selangkah lagi.
"SEMBILAN!"
Reyna melihat melalui selapis air mata saat Zilla, Meyra, dan Amae meluncur melewati garis batas, terengah-engah mencari udara. Mereka selamat. Mereka aman. Reyna mengulurkan tangan ke arah mereka, jari-jarinya gemetar di udara seolah mencoba merebut kembali kepingan persahabatan yang ia kira telah hilang.
Namun garis itu terasa seujung dunia jauhnya, dan waktu seakan berhenti tepat di ujung sepatunya.