SIKLUS 10.00
Varkas merasa terpojok. Kesempatan emas untuk menghancurkan mental Nugia—Subjek 009—menguap begitu saja tepat di depan matanya. Kehadiran Scarlett adalah penghalang yang tak tergoyahkan, sebuah perisai yang memaksa niat busuknya tetap tertahan di ujung lidah.
Namun, keberuntungan adalah nyonya yang plin-plan. Suasana seketika berubah saat pendatang baru membawa aroma otoritas yang menandakan berakhirnya perlindungan Scarlett atas Unit 009.
Derap sepatu bot militer yang ritmis bergema di sepanjang koridor barak Sektor 7 yang pengap. Seorang wanita melangkah masuk, topi lorengnya miring dengan sempurna di atas rambut pirang yang dikuncir kuda. Kehadirannya menuntut keheningan seketika; para prajurit senior langsung berdiri tegak, melakukan hormat militer yang kaku.
"Lady... sudah waktunya Anda kembali. Jika Lord Vier mendapati Anda berada di sini lebih lama lagi, kita semua akan berada dalam masalah besar," ucapnya tegas, melepas kacamata hitamnya untuk memperlihatkan mata yang setajam pisau bedah.
Varkas, yang tadinya angkuh, mendadak melakukan hormat paling sempurna yang pernah ia lakukan. Barak seolah membeku; deru lengan mekanis Varkas seolah terbungkam oleh aura murni wanita itu.
"Valky, kau adalah seorang Jenderal. Mengapa kau begitu patuh pada aturan tikus-tikus ini?" protes Scarlett, suaranya mengandung nada kekecewaan.
"Justru karena aku seorang Jenderal, aku tahu batasanku. Ini Sektor 7, wilayah eksekusi mereka. Aku tidak memiliki wewenang di sini, Lady," jawab Jenderal Valky. Di usia dua puluh lima tahun, kecantikannya menyaingi Scarlett, namun kecantikan itu memiliki tepian sedingin baja yang diasah.
"Baiklah," gumam Scarlett, meskipun matanya masih memancarkan pemberontakan.
Kedua wanita itu berjalan pergi, membelah kerumunan prajurit pria yang tak bisa menahan diri untuk tidak melirik. Pemandangan itu adalah sebuah anomali di tengah kekumuhan barak: seorang bangsawan berusia tiga puluh dua tahun dengan rambut seperti bara api yang menyala, berjalan di samping seorang Jenderal pirang muda yang memancarkan disiplin militer. Di tengah senjata-senjata berkarat dan latihan yang brutal, mereka adalah kontras yang mematikan sekaligus indah.
"Kau memberikan begitu banyak perhatian pada mereka, namun kau justru mengabaikan dia, Lady... Aku benar-benar tidak paham jalan pikiranmu," tanya Valky saat mereka menjauh dari Unit 009.
"Aku punya alasan sendiri, Valky. Kau tidak akan mengerti," jawab Scarlett dingin.
"Dia selalu menanyakan kabarmu, mengharapkan kehadiranmu. Namun kau bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Kau lebih memilih menghabiskan waktumu dengan bocah-bocah Sektor 7 ini?" desak Valky.
"Cukup, Jenderal!" bentak Scarlett, suaranya bergetar oleh kemarahan yang tertahan. "Kau sudah terlalu berani mencampuri urusan pribadiku!"
Valky terdiam, namun sebuah senyum tipis yang sulit diartikan muncul di bibirnya. Di belakang mereka, pintu baja barak yang berat tertutup dengan dentuman keras, memutus perlindungan Scarlett dari Unit 009.
Setelah gema itu hilang, Varkas berbalik. Pendar merah dari sensor matanya berputar liar, memindai anggota Unit 009 yang gemetar. "Perpisahan yang mengharukan," desisnya sembari mengepalkan tangan. Suara gesekan logamnya terdengar seperti rongsokan yang beradu di telinga Meyra.
Varkas menggiring mereka menuju lift baja raksasa. Saat pintu tertutup dengan dentuman yang memekakkan telinga, Unit 009 terjebak dalam ruang sempit bersama Varkas dan unit-unit lainnya.
Setiap pendar lampu indikator menandakan penurunan mereka. Satu lantai... dua... Udara terasa semakin tipis dan dingin. Semakin dalam mereka turun, tekanan atmosfer Peterumman seolah mencoba meremukkan paru-paru mereka. Akhirnya, di lantai kelima, lift berhenti dengan sentakan keras.
Pintu terbuka, menyingkap koridor beton yang redup dan lembap.
"Saatnya penentuan," desis Varkas, melangkah keluar lebih dulu. Suaranya memantul di dinding seperti batu dingin. "Hari ini, kita akan melihat siapa di antara kalian yang akan menjadi Sniper jarak jauh, petarung garis depan, atau Assassin elit."
Ia berhenti di depan pintu baja berat, menoleh ke belakang dengan mata predator. "Dan bagi mereka yang terbukti tidak berbakat... siapkan mental kalian. Laboratorium pusat selalu membutuhkan wadah baru untuk eksperimen Batu Mana. Kalian jauh lebih berguna sebagai bahan bakar jika tidak bisa menjadi senjata. Ha-ha-ha!"
Varkas menyeringai, menikmati keheningan yang mencekik sebelum menggiring mereka ke jantung gudang senjata bawah tanah.
Bip! Kartu akses diterima.
Hidrolik mendesis, dan pintu baja mengerang terbuka. Cahaya putih dingin menyambar wajah-wajah pucat para kadet.
Di depan mereka terbentang aula raksasa yang seolah menembus tak terhingga. Ribuan lampu menyala satu per satu, menyingkap deretan instrumen kematian yang berjejer di dinding. Mereka terpesona sekaligus ngeri; ini bukan sekadar gudang, ini adalah pabrik pemanen jiwa.
Dari senapan jarak jauh hingga bilah plasma yang bergetar dengan energi murni, setiap alat penghancur ada di sana. Unit 001, unit peringkat teratas, bergerak lebih dulu. Ini adalah uji insting predator; mereka bebas memilih senjata apa pun yang sinkron dengan aliran energi internal mereka.