Symphony of the still earth

Aga Cahya Anugrah
Chapter #6

Chapter 6: 1 Newton

“Sersan Varkas, ini tidak sesuai protokol. Sesi selanjutnya adalah uji kekuatan, bukan adu tanding fisik!”


Suara itu berasal dari Instruktur Jean, pria dengan wajah sedatar tembok beton tanpa sedikit pun senyum. Kehadirannya di ambang pintu The Monolith seolah menarik kembali udara yang sempat hilang di ruangan itu.


“Diam! Kau tidak perlu ikut campur, Jean! Aku adalah penanggung jawab di sini!” Varkas menggeram, rahang mesinnya berderit saat ia kembali melangkah mendekati Nugia. Matanya yang merah menyalang penuh kebencian, seolah ingin meremukkan tulang bocah itu hanya dengan tatapan.


“Kau tahu sendiri,” balas Jean, suaranya tetap rendah namun menusuk, “Kolonel Lion tidak akan senang mendengar kau mencoba menghancurkan aset potensial di luar jadwal. Kau mau menjelaskan padanya kenapa satu kadet berbakat mati sebelum uji lapangan?”


Langkah Varkas terhenti seketika. Nama Kolonel Lion seolah menjadi rante yang menjerat lehernya. Ia terdiam sesaat, napasnya memburu menciptakan uap tipis di udara ruangan yang dingin. Tanpa sepatah kata pun, Varkas berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan yang berbau mesiu itu. Rahangnya mengatup begitu keras hingga suara giginya beradu terdengar seperti gesekan logam rongsokan.


Unit 009 akhirnya bisa bernapas lega. Oksigen kembali mengisi paru-paru mereka yang tadi sempat terasa lumpuh. Amae, dengan sisa pusing di kepalanya, langsung menghambur mendekati Nugia.


“Keren sekali, Nugia!” ucap Amae dengan mata berbinar. Di mata Amae, Nugia bukan lagi sekadar teman satu barak, tapi sudah seperti senjata legendaris yang mendadak hidup.


Pujian mulai berbisik dari unit-unit lain yang menyaksikan kejadian mustahil tadi. Namun, di tengah kekaguman itu, Unit Drog hanya berdiri diam. Mereka menatap Nugia dengan mata merah menyala—sebuah tatapan predator yang merasa wilayahnya terusik oleh kehadiran monster baru.


“Sudah, cukup! Atur barisan!” perintah Jean. Suaranya datar namun memiliki otoritas mutlak. “Yang terlambat masuk barisan akan menerima hukuman mengemas seluruh peralatan di The Monolith!”


Seketika, suasana haru itu bubar. Kata 'mengemas' di ruangan seluas itu adalah mimpi buruk fisik. Para kadet berlarian, sepatu bot mereka berdentum di atas lantai besi saat mereka bergegas merapikan barisan per unit, meninggalkan hening yang mencekam di tengah kemegahan The Monolith.


"Sesi selanjutnya: Uji Kekuatan. Ini akan menentukan spesialisasi posisi kalian di unit ke depannya!" Jean menjelaskan dengan nada yang tidak berubah, seolah dia hanyalah mesin yang membacakan instruksi.


Tiba-tiba, lantai logam The Monolith berderit pelan. Dari bawah permukaan beton, muncul deretan manekin mekanis yang didesain menyerupai anatomi manusia sempurna. Kulitnya terbuat dari polimer sintetis yang mampu menyerap benturan, namun dilengkapi dengan sensor tekanan di setiap titik vitalnya.


"Itu adalah alat pengukur kekuatan kinetik dan sinkronisasi energi," lanjut Jean sembari menunjuk manekin-manekin yang berdiri kaku tersebut.


"Setelah sesi ini berakhir, kalian diizinkan untuk istirahat dan makan siang. Dan perlu dicatat..." Jean menjeda kalimatnya, matanya menyapu wajah-wajah pucat para kadet yang sudah kelaparan.


"Unit yang mendapatkan nilai akumulasi tertinggi akan mendapatkan hadiah spesial. Menu kelas atas dari sektor pusat. Maka dari itu, tunjukkan hasil terbaik kalian. Jangan biarkan tenaga kalian menguap sia-sia."


Drog, Subject 001, melangkah maju sebagai pembuka. Ia menarik napas dalam, memusatkan seluruh berat badannya pada tumit, lalu melepaskan satu pukulan lurus yang memecah udara dengan suara desing yang tajam.


BUM!


Tubuh manekin itu tersentak hebat ke belakang hingga engsel bajanya berderit nyaring, beradu dengan lantai logam. Di dahi manekin, sebuah angka digital merah menyala terang: 700 N. Jean hanya mengangguk tipis, ekspresinya tetap datar saat jarinya menari di atas tablet digital, mencatat awal yang solid bagi sang pemimpin Unit 001.


Uji kekuatan terus berlanjut dengan dentuman yang beruntun. Nobo (Subject 004) mencatatkan skor 550 N; ia sempat berhenti sejenak, melirik ke arah Zilla sambil memamerkan otot lengannya yang menegang—sebuah pameran kekuatan yang hanya dibalas tatapan dingin oleh Zilla.


Disusul Ed (Subject 007) yang maju dengan percaya diri tinggi. Ia sempat mengedipkan matanya genit ke arah Meyra, namun Meyra langsung membuang muka dengan ekspresi jijik yang sangat jelas. Seketika, nyali Ed ciut. Bahunya merosot lemas, dan pukulannya kehilangan momentum. Ia menghantam sensor dengan kekuatan 620 N.


Suasana semakin memanas saat Aan (Subject 022), si pemuda misterius, maju. Tanpa banyak bicara, hanya dengan satu sentakan bahu yang sangat presisi, ia berhasil menembus angka 712 N, melampaui skor pemimpinnya sendiri.


Namun, puncak dari Unit 001 ditutup oleh Jack (Subject 041). Dengan tubuhnya yang tegap, ia menghantam manekin hingga sistem hidrolik alat itu mengerang keras.


DISPLAY: 740 N.

Lihat selengkapnya