“THUNDERBOLT STRIKE: AMAE!!!” teriakan melengking Nugia membelah udara.
Dalam sepersekian detik, tinju mungil itu melesat maju. Pukulan itu mendarat dengan kecepatan yang melampaui logika manusia.
BOOM!
Itu bukan sekadar suara hantaman; itu adalah dentuman sonik yang mengirimkan gelombang kejut, membuat angin bersiul di sela-sela rambut Jean. Instruktur veteran itu terpaku. Napasnya tertahan saat matanya terkunci pada digit yang berkedip di layar digital manekin—angka yang begitu langka, hingga terasa seperti mitos.
DISPLAY: 00 N
Dalam tiga puluh tahun masa dinasnya, Jean hanya pernah menyaksikan angka itu tiga kali. Pertama, dari seorang pria bermata sedingin es yang kini menjabat sebagai Kapten. Kedua, dari seorang gadis kuncir kuda pirang yang telah naik pangkat menjadi Jenderal. Dan ketiga, dari seorang pemuda bermata tajam yang baru saja naik ke takhta Jenderal yang sama.
Setelah lebih dari satu dekade, angka "00" itu telah kembali.
Bulu kuduk Jean berdiri. Gelak tawa mengejek dari Unit 001, yang bergema beberapa detik lalu, lenyap dari indranya. Dalam penglihatannya, sosok kecil Nugia mulai tumpang tindih dengan bayangan ketiga sosok legendaris tersebut. Jean menyadari bahwa ia tidak sedang melihat seorang kadet; ia sedang menyaksikan kelahiran seorang monster.
"Yah, ampun! Mesinnya rusak," ucap Nugia dengan wajah polos tanpa dosa, sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Padahal aku pikir aku sudah memukulnya dengan sekuat tenaga!"
“Beraninya kau kembali ke sini dengan wajah tanpa ekspresi itu!” desis Meyra. Tanpa peringatan, ia mendaratkan "pukulan cinta" ganda ke kepala kedua bocah di unitnya.
THUMP! CRACK!
Amae dan Nugia mengerang serentak, menggosok tengkorak mereka—respons alami ketika tulang bertemu dengan buku jari Meyra yang sekeras besi.
“Kalian semua tidak berguna!” Meyra melangkah maju, sepatu tempurnya menghentak lantai logam dengan kekuatan yang membuat Reyna dan Amae meringis, merasakan tanah bergetar di bawah amarahnya.
Ia berhenti di depan manekin, mengatur napas, mencari momentum. Namun, bukannya fokus, sebuah mimpi buruk muncul: bayangan Jack, meluncur di udara dengan wajah kakunya, mencoba menciumnya. Meyra menggelengkan kepalanya dengan kasar untuk mengusir pikiran menjijikkan itu.
Lalu muncul Ed—bocah berotot yang sombong—muncul di benaknya, merentangkan tangan untuk memeluknya. Alis Meyra berkerut dalam. Ia menarik napas tajam dan tersengal hingga bayangan itu lenyap.
Titik puncaknya datang ketika Nobo—si bodoh berkulit gelap yang buruk rupa itu—mendekat dengan bibir mengerucut. Bendungan kesabaran Meyra jebol. Amarahnya tersulut. Manekin baja itu seolah gemetar ketakutan saat ia melayangkan pukulan yang didorong oleh kemuakan murni.
"MENJAUH DARIKU, KAU MONYET BERBIBIR ANEH!!!"
BAM!
Dentuman memekakkan telinga itu bergema di setiap sudut The Monolith.