Symphony of the still earth

Aga Cahya Anugrah
Chapter #8

Teror 650 Newton: Aturan di Balik Pintu

SIKLUS 12.00: KEHANGATAN RUANG MAKAN


Keempatnya memejamkan mata secara bersamaan saat potongan kecil cokelat itu menyentuh lidah mereka. Untuk sesaat, kebisingan Sektor 7 yang menyesakkan seolah lenyap, digantikan oleh ledakan rasa manis yang sudah lama tidak mereka rasakan.


"Ada apa dengan kalian? Apa itu beracun?" tanya Nugia datar. Dia menatap teman-temannya dengan bingung, tangannya masih mencengkeram garpu dalam posisi bertahan.


Meyra menarik napas panjang, wajahnya tampak jauh lebih rileks. "Ini bukan racun, Nugia. Ini namanya kebahagiaan. Rasanya sangat enak, aku merasa ingin menangis," jawab Meyra tanpa membuka mata, membiarkan cokelat itu meleleh perlahan di mulutnya.


"Sial... aku merasa jiwaku yang terbang saat maraton tadi baru saja kembali ke tubuhku," gumam Amae, pipinya menggembung karena cokelat. "Kalau seperti ini setiap hari, aku tidak keberatan dipukuli sampai pingsan oleh manekin-manekin Jean."


Zilla hanya memberikan anggukan kecil, menikmati porsinya dengan lebih elegan, meski matanya yang tajam melunak sesaat. Sementara itu, Reyna memeluk baki logamnya seolah takut cokelat itu akan terbang jika tidak dijaga.


Nugia menatap potongan cokelat di bakinya sendiri. Dia memasukkannya ke dalam mulut, mengunyah tiga kali, dan menelan. "Manis. Tapi tidak membuatku ingin menangis? Juga tidak memberiku kekuatan ekstra seperti sosis itu," komentarnya polos.


"Robot!" goda Meyra dengan tawa pendek—tawa langka yang akhirnya pecah di meja Unit 009.


Seketika, hari-hari yang dipenuhi debu, bau keringat, dan deru rantai mesin memudar dari pikiran mereka. Waktu seolah berputar lebih cepat saat perut mereka kenyang. Siklus 13.00, yang diisi dengan simulasi pertempuran jarak dekat, terlewati dengan sisa energi dari glukosa tersebut. Akhirnya, lonceng besar Sektor 7 berdentang lima kali.


SIKLUS 18.00: KEMBALI KE ASRAMA


Cahaya bulan berdarah tidak pernah pudar di dinding tinggi PETERUMMAN, menyisakan langit merah yang tampak mematikan. Unit 009 berjalan berdampingan menuju blok asrama. Meski kaki mereka terasa seberat timah yang menyeret beton dan kegelapan abadi mulai mencekam, semangat mereka jauh lebih kuat dibandingkan saat siklus pembukaan.


Pintu asrama berayun lebar, menyambut mereka dengan udara dalam ruangan yang stabil. Sebelum masuk, Jean membagikan kartu akses kamar mereka. Zilla, sebagai pemimpin Unit 009, melangkah maju untuk mengambil kartu atas nama teman-temannya.


"Bubarkan!" perintah Jean. "Untuk Unit 009, kalian akan menerima paket makan malam dan hadiah kecil dariku! Selamat atas perjuangan dan hasil terbaik kalian!"


Mereka tersenyum, saling melirik. Bagi mereka, itu adalah kata-kata terindah yang pernah mereka dengar di dunia yang kaku ini. Keempatnya berdiri di sana, memperhatikan punggung Jean hingga bayangan instruktur itu benar-benar menghilang di ujung lorong.


Di dalam asrama, langkah kaki mereka bergema lembut di koridor yang sunyi. Resonansi itu meresap ke dalam tulang mereka yang sangat butuh istirahat.


"Sejak latihan striking, aku tidak melihat Varkas. Kalian sadar?" tanya Meyra, memecah kesunyian.


"Syukurlah," jawab Zilla datar. "Sparring Siklus 13.00 kita terselamatkan karena dia tidak ada. Setidaknya dia tidak punya kesempatan untuk mengerjai unit kita hari ini."


"Sudahlah, buka saja pintunya. Aku lemas!" keluh Amae, yang hampir tertidur sambil berjalan.

Lihat selengkapnya