(Hanna)
Kereta berbentuk kapsul obat yang kunaiki bergerak cepat di rel yang melintang di atas pusat Ibukota Nusakono. Dari jendela kereta yang tembus pandang, aku dapat menyaksikan suasana ramai ibukota di sore hari. Banyak kendaraan berlalu lalang, baik di darat, maupun yang berseliweran di udara.
Sekilas, mataku menatap ke arah langit ibukota yang warnanya berangur-angsur memerah. Tercetak sedikit gradasi antara warna jingga keemasan dan merah cerah di beberapa bagian langit yang membuatku tersenyum hangat. Aku memperbaiki posisi dudukku. Memangkukan dagu kepada telapak tanganku, dan terus menatap ke arah luar jendela, guna menikmati senja yang sedang cantik-cantiknya.
“Jangan melihat ke arah jendela terus, Hanna. Kamu bisa pusing,” suara berat dari arah depanku terdengar. Aku menoleh dan menemukan sosok pemuda favoritku yang tengah duduk di hadapanku sembari melipatkan tangannya di depan dada. Dia adalah Igryan Uzaka, kekasihku.
“Memangnya kenapa? Pemandangannya menyenangkan,” balasku sembari kembali memakukan pandang ke luar jendela.
Igryan terdengar mendesahkan nafas, namun aku memilih mengabaikannya. Menatapi langit senja yang cahayanya menderu banyak dari balik kaca jendela kereta ternyata lebih menyenangkan. Aku membayangkan sebuah kencan yang sederhana seperti berjalan bergandengan bersama Igryan, menyurusi hiruk pikuk ibukota di bawah lembayung mungkin adalah hal romantis. Sayangnya, menurut perkiraanku, aku dan Igryan mungkin baru akan memulai kencan ketika matahari telah tenggelam, karena kami baru saja berangkat untuk kencan ketika senja akan berakhir.
Igryan adalah orang yang cukup sibuk. Dia merupakan seorang statter unggulan berpangkat jyen. Artinya, dia jarang sekali memiliki waktu luang. Sebenarnya, aku tidak ingin egois untuk memaksanya menghabiskan waktu luangnya untukku, tetapi pemuda 21 tahun itu bersikeras. Dia bilang jarang sekali ada kesempatan untuk pergi bersamaku, jadi dia tidak akan menyia-nyiakannya.
“Igryan, kali ini tugasmu sudah benar-benar selesai?” tanyaku tanpa menatapnya.
“Hn. Sudah.” Dia menjawab singkat, dan sering begitu.
Aku mendesah lega begitu mendengar jawabannya. Teringat di kepalaku ketika beberapa kali kencan kami gagal di tengah jalan karena Igryan mendadak dapat panggilan bertugas. Jadi, aku sangat senang hari ini ketika dia akan bersamaku sebebas yang kami mau.
“Hanna, dari tadi aku memanggilmu!”
Aku menoleh kaget dan mendapati wajah tampan Igryan persis berada di depanku. Netra hitamnya yang tajam menatapiku intens dan itu membuat jantungku berdegup kencang.
“Heh,” dia menaikkan sebelah bibirnya. “Wajahmu memerah.”
Dengan tangan gemetaran dan susah payah, kusentuh pipiku. Aku dapat merasakan hawa yang kian memanas bersamaan dengan degup jantungku yang mulai tidak beraturan. Refleks, kudorong Igryan sekuat tenaga sehingga tanpa kusadari membuat punggung tegapnya membentur sandaran kursi penumpang.
“Akh...” Igryan meringis sebentar lalu cepat-cepat melempar senyum yang sulit kuartikan.
Aku bangkit dari dudukku, mendekatinya dengan wajah cemas, memastikan apa dia baik-baik saja. Bodoh memang, karena tentu seorang statter yang kehebatannya diakui Nusakono dan internasional seperti Igryan tidak akan mengalami hal serius hanya karena dorongan orang sepertiku.
“Ma...maaf Igryan. Kamu baik-baik saja?”
Igryan tersenyum dan itu adalah momen yang langka. Aku bahkan perlu beberapa detik untuk bisa benar-benar menetralkan diriku, memastikan senyuman Igryan yang barusan itu bukan ilusi.
“Kamu memang cocok ya jadi seorang jyen,” ucapnya. Dia memandangku biasa, tidak seperti orang yang tampak kagum. Atau mungkin bentuk matanya yang memang tajam itu tidak bisa menyiratkan banyak ekspresi seperti kekaguman dan lainnya.
“Aku belum jadi jyen, Igryan. Besok setelah pelantikan, baru aku akan jadi jyen,” sahutku sembari kembali mendudukkan diri.
“Apa bedanya? Tetap saja kamu akan menjadi jyen. Hebat bukan? Banggalah pada dirimu sendiri!”
Aku meringis. Mengingat sebenarnya memang hal yang normal bagi statter di usiaku untuk menjadi seorang jyen. Umurku 19 tahun dan memang rata-rata seorang statter diangkat menjadi jyen adalah kisaran antara 18-20 tahun.
Di sistem pendidikan statter, seorang anak bisa masuk akademi kestatteran adalah ketika mereka berumur enam tahun. Sama seperti umur masuk sekolah dasar. Di akademi kestatteran, mereka akan belajar secara teori dan praktek dasar bagaimana menjadi seorang statter. Kurikulum kestatteran menetapkan lama waktu belajar enam tahun di akademi kestatteran. Jadi bila murid-murid akademi lulus tepat waktu, mereka akan menjadi statter berpangkat gyo di usia 12 tahun.
Gyo sendiri adalah pangkat paling rendah dari statter. Umumnya diisi oleh anak-anak berumur 12-14 tahun. Tugas dari gyo sangat mudah. Mereka tidak dihadapkan langsung pada medan pertempuran dan belum boleh menggunakan senjata. Gyo bertugas hanya sebatas menjaga ketertiban dan ketentraman suatu daerah. Misal, membantu mengatur lalu lintas, menangkap pelaku pencurian yang masih tergolong ringan, membantu mencari sesuatu yang hilang, dan lainnya.