(Hanna)
Waktu menunjukkan pukul 08.21 p.m. Aku dan Igryan baru saja selesai mengunjungi berbagai tempat wisata yang jarang kami datangi sebelumnya. Kencan kali ini membuatku lelah, tetapi aku tidak ada niatan sedikitpun untuk menyelesaikannya atau pulang. Aku masih ingin terus bersama Igryan.
Saat ini kami sedang berjalan di atas trotoar yang lumayan ramai dengan hiruk pikuk orang yang berlalu-lalang. Aku menatap langit. Bulan dan bintang bersinar terang, tetapi terhalang oleh ruwetnya transportasi udara.
“Kau lapar?” tanya Igryan tiba-tiba, membuatku menoleh untuk mengganti objek fokusku. Dan terus saja, aku selalu terpesona pada wajahnya, terutama mata hitamnya yang tajam namun sekarang terasa sangat teduh.
“Ya.”
“Mau makan dimana?” tanyanya.
“Ter...terserah,” jawabku, merasa tidak enak bila harus memutuskan sendiri.
Igryan menatapku aneh. Dia menaikkan sebelah alisnya dan memberi sorot mata seolah kecewa terhadap jawabanku. Sejujurnya aku terpikir untuk mengajak Igryan makan di salah satu restauran paling terkenal di daerah pesisir ibukota. Restauran Gantung namanya. Restauran tersebut berada di tengah-tengah laut, dan melayang sekitar 50 meter di atas permukaan laut, menggantung di antara kaki-kaki langit.
Sayangnya, aku terlewat tidak enak hati bila harus memutuskan sendiri. Terlebih lagi, biaya makan di restauran itu sangat mahal dan aku tidak ingin merepotkan Igryan. Walau aku memiliki uang lebih dari cukup untuk makan di sana dan membayar pesanan kami berdua, tetapi Igryan pasti tidak akan membiarkanku mengeluarkan sepeserpun. Igryan selalu begitu. Setiap kali aku pergi bersamanya, ia akan bersikeras untuk membayar seluruh biaya kencan kami, dan terkadang itu bukan hal yang murah.
“Katakan saja ingin makan dimana.”
Aku menggigit bibir bawahku. Masih menimang-nimang untuk memintanya mengajakku makan di Restauran Gantung atau tidak. Dia sudah banyak mengeluarkan biaya untuk kencan kali ini. Mulai dari trasnportasi, tiket masuk beberapa tempat wisata, dan jajan-jajan kuliner yang tadi banyak kubeli di sepanjang jalan.
Tetapi mengingat uang mungkin bukanlah hal yang dipusingkan bagi Igryan, aku mencoba untuk mengatakannya. Sekaligus sebagai penghormatan karena dirinya bertanya dan menghargai keinginanku. Ah, kurasa dia adalah laki-laki yang sangat baik.
“Restauran Gantung kurasa boleh dicoba malam ini,” ucapku sedikit tidak enak. “Ta...tapi kalau Igryan mau makan di restauran lain, aku ikut...”
“Restauran Gantung yang ada di tengah selat itu? Yang melayang di atas laut?” Igryan menyela ucapanku.
Aku mengangguk ragu-ragu. “I...iya.”
Igryan tersenyum miring, “Seleramu mahal ya.”
Aku terkejut dan menggigit bibir bawahku. Tidak ingin pemuda tampan di depanku ini menilaiku minus atau berpikir aku ini matrealistis. Baik, katakanlah aku sedikit berlebihan Igryan akan mengiraku matre, karena pada dasarnya kami berdua berada di kelas sosial dan ekonomi yang sama.
Aku berasal dari salah satu keluarga konglomerat di Nusakono, Keluarga Heglar. Ayahku merupakan pemimpin Keluarga Heglar dan sekarang bekerja sebagai menteri koordinator. Aku terlahir sebagai putri sulung Keluarga Heglar yang secara posisi politik dan ekonomi sangat kuat, sederajat dengan kekasihku sekarang.
“Kalau Igryan mau makan di tempat lain, aku ikut saja, kok!” aku tersenyum.
Igryan menatapku sebentar, kemudian menarik tanganku. Membuat dadaku berdegup kencang. Selalu saja begini. Setiap pergerakkan Igryan selalu saja mampu memberi reaksi seperti kejutan listrik yang terlewat menyenangkan. Sehingga aku harus pintar-pintar menjaga kestabilan otakku untuk meresponnya dengan baik.
“Sudahlah, ayo!” dia menarikku, mengajakku berjalan ke sebuah gedung yang tampak ramai oleh orang-orang.
Kami masuk ke gedung tersebut. Tampak banyak sekali jejeran lift transparan tersedia di sana. Igryan mengajakku mengantri untuk menaiki salah satu lift tersebut. Lift gantung namanya. Lift ini merupakan alat transportasi yang paling umum digunakan di Nusakono. Cara kerjanya sederhana, hampir seperti lift pada umumnya.
Bedannya, jika lift biasa berfungsi untuk menghubungkan dari satu lantai ke lantai yang lain dalam sebuah gedung, maka lift gantung berfungsi untuk menghubukan dari satu tempat ke tempat lain. Dengan syarat di tempat itu ada gedung untuk pemberhentian lift tersebut.
Lift ini transparan dan bergerak dengan menggantung secara horizontal di bawah kabel yang terpasang sekitar 100 meter di atas permukaan tanah. Hal itu membuat penumpang lift ini merasa seolah-olah dirinya melayang di udara.
“Kita akan naik ini? Kenapa tidak naik taksi saja?” aku mengeluh, takut. Keringat dingin mulai bercucuran di keningku perlahan-lahan.