"Ketika permintaan dari seseorang yang spesial dan juga berharga... berubah menjadi sebuah perintah."
***
Tok tok tok...
Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu kamar.
"Rev."
Revan yang sedang melakukan panggilan video mendadak terdiam saat mendengar suara seseorang yang paling ia hormati. Tatapannya perlahan beralih dari layar ponsel ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat.
"Ada apa, Rev?" Suara dari seberang sana membuatnya tersadar.
Revan kembali menatap layar kecil di tangannya.
"Kenapa?" tanya gadis itu pelan.
"Mamah panggil aku. Kayaknya ada sesuatu," jawab Revan.
"Nanti aku telepon lagi ya."
"Hm... oke."
Revan tersenyum kecil, tatapannya melembut. "Love you."
Gadis itu ikut tersenyum. "Love you more."
Bip. Sambungan terputus.
Revan meletakkan ponselnya di atas sofa bed kecil yang berada di samping jendela. Setelah itu ia bangkit dan berjalan santai menuju pintu.
Ceklek.
Pintu terbuka. Dan benar saja, sang mamah sudah berdiri di sana. Tatapan mereka bertemu. Masih sama hangatnya seperti biasa, hanya saja malam ini ada sedikit keseriusan yang sulit Revan artikan.
Revan tersenyum kecil, berusaha tetap terlihat santai. "Iya, Mah?"
"Lagi sibuk?"
Revan menggeleng pelan. "Enggak kok. I lagi santai aja. Kenapa?"
"Mamah mau bicara."
Nada suara itu terdengar tenang, namun sanggup membuat Revan terdiam. Senyum tipis di bibirnya perlahan memudar, digantikan rasa bingung dan entah kenapa... membuat perasaannya sedikit tidak nyaman.
"Mamah boleh masuk?" tanya sang mamah, menghargai privasi anak sulungnya itu.
Revan mengangguk ringan, lalu mempersilakan mamanya melangkah masuk terlebih dahulu.
Langkah kaki wanita itu pelan, dan tenang, matanya menyapu setiap sudut kamar yang rapi sebelum akhirnya memutuskan duduk di sofa bed kecil dekat jendela.
Setelah menutup pintu, Revan berjalan mendekat dan ikut duduk di samping sang mamah-tepat di sebelah ponsel miliknya yang sebelumnya ia letakkan.
"Ada apa, Mah?"
Sang mamah tidak langsung menjawab. Beliau memandangi putra sulungnya itu dengan sorot mata hangat, namun sarat akan harap.
"Mamah mau kamu menikah, Rev."
Deg.
Jantung Revan rasanya berhenti berdetak detik itu juga. Napasnya tercekat di tenggorokan. Satu kata sederhana yang sama sekali tidak pernah ia duga akan ia dengar malam ini.
Menikah.