"Menolak masa depan tidak akan menghentikan takdir untuk berjalan."
***
Jakarta pagi ini lumayan cerah. Tapi sayang, atmosfer di lantai teratas gedung perkantoran itu justru sebaliknya.
Hening. Dan dingin.
Revan, pria berusia tiga puluh tiga tahun itu baru saja mengaitkan pengunci jam tangan kromnya. Matanya tak lepas dari dasbor laporan kuartal di layar iPad. Menatap angka-angka logis yang biasanya terlihat biasa saja.
Tok tok...
Ketukan di pintu kaca buram itu memutus fokusnya. Tak perlu menunggu izin, pintu itu terbuka, menampilkan sesosok pria dengan setelan kemeja navy yang pas di badan.
Erik.
Sebagai Chief of Staff sekaligus sahabat karib sejak zaman kuliah, Erik punya hak istimewa untuk keluar-masuk ruangan ini tanpa aturan yang kaku. Sebagai info saja, di kantor ini, cuma ada dua orang yang punya akses seperti "jalan tol" seperti itu. Erik, dan Laurent-sang personal assistant yang juga berstatus sebagai kekasih Revan.
"Semua deck buat meeting udah siap di-share ke tim ya, Rev," ujar Erik santai. Ia melangkah mendekat, lalu meletakkan satu iPad kerja berisi jadwal harian ke atas meja.
Revan cuma mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar di hadapannya. "Oke, thanks."
Ia menjeda kegiatannya sejenak. Tatapannya beralih dari layar ke Erik di hadapannya. "Eh iya. Btw, data tim finance udah aman?"
"Aman. Semua datanya di spreadsheet udah gue kurasi bareng sama anak-anak, kemarin," jawab Erik, nadanya terdengar lebih santai dibanding sebelumnya.
Revan mengangguk lagi, bersiap kembali ke pekerjaannya. Namun, gerakan tangannya tertahan. Erik baru saja menggeser sebuah map fisik berwarna putih netral, tepat di samping iPad-nya.
Pemandangan yang sangat aneh. Meja kerja Revan biasanya bersih dari kertas.
"Satu lagi," kata Erik pendek.
Kening Revan berkerut. Matanya bergantian menatap map putih itu dan wajah Erik. "Ini apaan?"
"Dokumen penting lain yang wajib lo lihat."
Revan meraih map putih tersebut. "Iya, dokumen apaan?" tanyanya gemas.
"CV."
"CV?" ulang Revan, alisnya bertaut, tanganya perlahan membuka map itu. "Buat posisi apa? Perasaan kita lagi freeze hiring."
"Posisi calon bini lo."
Gerakan tangannya seketika membeku. Revan menatap Erik datar, memastikan sahabatnya itu tidak sedang melawak di jam kerja.
"Tante Yuni minta gue buat sortir beberapa CV cewek yang beliau kirim," sambung Erik dengan tanggap sebelum Revan sempat mengamuk. "Beliau juga minta gue buat pastiin lo lihat dan pilih salah satu dari mereka."
"Ck." Revan berdecak kesal sembari melempar pelan map putih itu ke atas meja kerjanya. Ia menghela napas lelah, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya.
Erik menarik kursi di depan meja Revan, lalu duduk dengan santai. Menatap sahabatnya itu lekat. "Lo yakin mau taaruf?"
"Ya enggaklah," jawab Revan cepat. Nadanya meninggi satu oktav.
"Nyokap lo bilang kalau lo udah setuju."
"Gue enggak pernah bilang setuju."
"Tapi lo juga enggak nolak?"
"Gue udah nolak!"