"Kecantikan yang sesungguhnya tidak selalu mencuri perhatian. Kadang, ia hadir lewat tutur kata yang lembut dan sikap yang menenangkan."
***
Aroma gurih santan, ayam goreng dan bumbu rempah khas makanan sunda langsung menyenggol indra penciuman, membuat perut yang lapar kian keroncongan saat kaki baru saja menginjak area Restoran Sunda di daerah Bogor, Jawa Barat.
Siang ini, tempat itu penuh sesak. Suara dentingan sendok yang beradu dengan piring makan, ditambah tawa keluarga dan percakapan pengunjung yang datang, membuat tempat itu bising, tapi hidup.
Di salah satu meja panjang dekat kolam ikan, Ibu Yuni tersenyum sedikit kikuk pada teman pengajiannya. Di balik penampilannya yang rapi dengan gamis premium, wanita paruh baya itu sebenarnya sedang menahan sesuatu yang sedari tadi mengganggu perutnya.
"Ibu-ibu, maaf ya, saya izin ke toilet sebentar," pamit Bu Yuni sambil menekan pelan perut bagian bawahnya.
Ibu-ibu lain yang sedang sibuk memilih menu menoleh. "Iya, Ibu, silakan," balas salah satu dari mereka, disusul anggukan kecil dan senyum ramah dari yang lainnya.
Bu Yuni melangkah cepat menuju area toilet di sudut rumah makan. Sepanjang perjalanan tadi, ia memang sudah menahan rasa ingin buang air kecil, Maklum, jaraknya lumayan jauh dan jalanan Bogor siang ini agak tersendat.
Sialnya, area toilet pun penuh. Bu Yuni terpaksa ikut mengantre. Tangan kanannya refleks memegangi perut, wajahnya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
"Duh, kebelet banget lagi," gumamnya gelisah, berdiri salah tingkah. Matanya celingukan, mencari apakah ada toilet lainnya di sudut lain.
Ceklek.
Setelah beberapa puluh detik yang menyiksa, akhirnya pintu toilet di depannya terbuka. Bu Yuni tidak langsung masuk karena di depannya ada seorang wanita muda berhijab yang sudah mengantre lebih dulu. Namun, alih-alih masuk, wanita muda itu justru menoleh dan mempersilakan Bu Yuni.
"Silakan, Ibu, duluan saja," ujarnya lembut.
Bu Yuni tertegun sesaat, Butuh beberapa detik baginya untuk mencerna kebaikan yang tiba-tiba itu. "Eh, enggak apa-apa, Adek duluan saja. Kan Adek yang antre lebih dulu," tolak Bu Yuni sungkan, khas orang tua.
Wanita muda itu tersenyum hangat.
"Ibu duluan saja, saya masih bisa tahan, kok." Suaranya terdengar begitu tulus. Entah kenapa langsung memberikan rasa nyaman yang instan bagi Bu Yuni.
"Beneran enggak apa-apa Ibu duluan?"