"Dari sebuah doa yang baru saja di panjatkan, ada sebuah benteng ego yang kokoh mendadak goyah tanpa alasan."
***
Musala di restoran Sunda itu tidak terlalu besar, mungkin hanya cukup untuk lima sampai tujuh orang saja. Namun, udara kota Bogor yang sejuk ditambah dengan gemercik air dari kolam yang ada di area dekat musala itu menambah suasana terasa sangat teduh dan menenangkan.
Setelah selesai salat dan melipat mukena katunnya, Bu Yuni memilih duduk selonjoran di sudut karpet, memijat betis dan pinggangnya yang terasa pegal setelah menempuh perjalanan jauh dari Jakarta.
Saat itulah, matanya kembali menangkap sosok wanita muda berhijab dari toilet dan meja nomor delapan tadi.
Wanita itu baru saja menyelesaikan salam terakhirnya. Gerakan salatnya begitu tuma'ninah, tidak terburu-buru, dan juga tenang, seolah dunia di luar sana sedang berhenti berputar. Melihat pemandangan sedamai itu, sudut bibir Bu Yuni otomatis terangkat, mengukir senyum kecil yang lembut.
Selesai salat, wanita itu tidak langsung beranjak, melainkan khusyuk berzikir, menengadahkan tangan untuk berdoa. Selama itu, Bu Yuni tidak pernah sedetik pun mengalihkan pandangannya. Ia terus menatap wanita itu. Semakin lama memperhatikan, hatinya makin merasa tenteram.
Selesai berzikir dan berdoa, wanita itu melepas mukenanya, melipatnya hingga menjadi lipatan kecil khas mukena traveling. Melihat kesempatannya datang, Bu Yuni memberanikan diri bergeser mendekat, lalu duduk tepat di sampingnya.
"Assalamualaikum, Nak."
Wanita itu sempat tertegun sejenak. Tatapan mereka bertemu, sebelum akhirnya seulas senyum menenangkan yang sejak tadi memikat hati Bu Yuni kembali terukir di wajah manis itu.
"Waalaikumussalam, Ibu," balasnya dengan suara rendah yang sopan.
Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan gerakan alami yang begitu santun, wanita itu mencium punggung tangan Bu Yuni. Sederhana, namun gestur itu seketika meninggalkan bekas hangat yang luar biasa di dada Bu Yuni.
Padahal, sebagai wanita paruh baya yang dihormati di lingkungannya, sudah tidak terhitung berapa banyak anak muda yang mencium tangannya. Namun, entah kenapa, sentuhan tangan dari gadis yang baru ditemuinya hari ini rasanya beda. Ada ketulusan yang murni di sana.
Mata Bu Yuni masih enggan beralih. Di dalam benaknya, sebuah keyakinan mendadak meluap.
Rev... Mamah rasa, Mamah sudah menemukan sosok yang kamu butuhkan. batinnya.
Bu Yuni tersenyum hangat. "Kita belum kenalan tadi. Nama Ibu, Yuni."
Wanita itu membalas dengan ramah penuh sopan santun. "Nama saya Devina, Ibu."
"Devina..." ulang Bu Yuni pelan, seolah sedang meresapi tiap suku katanya. "Namanya cantik, sama kayak orangnya."
Devina tertawa kecil. Rona merah tipis mendadak muncul di pipinya yang bersih tanpa riasan tebal, membuatnya kelihatan makin manis saat salah tingkah. "Masya Allah... terima kasih banyak, Ibu."
Bu Yuni menatap Devina sedikit lebih lama, lalu memberanikan diri bertanya lebih jauh. "Nak Devina umur berapa kalau boleh tahu?"