Taaruf: Why?

Analisaa
Chapter #5

Kendali yang Mulai Retak

"Sehebat apa pun seseorang mengendalikan hidupnya, ia tetap akan kehilangan kemudi saat takdir dan doa Ibu mulai mengambil alih masa depannya."

***

​Sore itu, ruang rapat utama di lantai lima belas terasa pengap oleh formalitas. Layar proyektor besar di ujung meja menampilkan grafik angka digital yang rumit. Di luar dinding kaca, langit Jakarta tampak abu-abu kusam, samar tertutup oleh polusi dan kepulan asap dari jajaran kendaraan yang merayap di bawah sana.

​Suara mesin pendingin ruangan berpadu dengan suara salah satu direksi regional yang sedang memaparkan laporan kuartal via Zoom, membuat situasi di ruangan itu terasa monoton dan kaku.

​Namun, di kursi utama meja persegi panjang itu, Revan justru seperti kehilangan setengah fokusnya.

​Jemari tangannya yang kokoh memegang sebuah bolpoin mewah berwarna hitam, mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca tanpa ritme yang jelas.

​Tuk ...

​Tuk ...

Tuk ...

​Suara itu terdengar tipis dan berulang. Mungkin untuk sebagian orang yang fokusnya mudah terpecah, suara itu malah terasa menjengkelkan.

​Pandangan Revan memang lurus menatap layar besar di depannya. Namun sayangnya, fokus pria itu sudah terpecah ke mana-mana.​Kalimat demi kalimat yang Erik lontarkan di ruangannya beberapa jam yang lalu, kini kembali terputar di kepalanya secara terus-menerus seperti kaset yang talinya tersangkut.

​"Mau dibawa ke mana hubungan enam tahun kalian?"

​"Tante Yuni minta gue buat sortir beberapa CV cewek yang dia kirim dan pastiin lo pilih salah satunya."

​"Umur kalian udah matang. Tahun ini lo tiga puluh tiga tahun, Laurent tiga puluh. Gue yakin nyokap lo dan orang tua Laurent juga mau kalian nikah."

​"Lo pikir pacaran lama bakal menjamin kehidupan pernikahan kalian aman? Enggak, Rev."

​Belum lagi bayangan wajah ibunya yang terus-menerus menuntutnya untuk segera taaruf dan menikah.

​Revan menghela napas pendek. Dadanya mendadak terasa sesak, seolah pendingin ruangan di sana mendadak mati. Ia mengangkat tangan kirinya, memijat pangkal hidung yang mulai berdenyut pening, mencoba mengusir semua kalimat tentang pernikahan yang berseliweran di kepalanya.

Sial, seumur-umur memimpin perusahaan digital ini, Revan dikenal taktis, perfeksionis, dan dingin. Ini kali pertama dalam hidupnya dia mendadak blank di tengah rapat krusial.

​"...bagian operasional Jogja mencatat kenaikan efisiensi lima belas persen, Pak Revan. Mohon arahannya, apakah pengajuan tambahan anggaran kuartal berikutnya bisa disetujui?" Suara manajer regional dari speaker terdengar menggantung, menunggu keputusan dari sang pemegang kuasa tertinggi.

​Revan terdiam. Matanya menatap grafik di layar, namun otaknya tidak mampu mencerna pertanyaan itu dengan baik karena tidak menyimak kalimat-kalimat sebelumnya. Keheningan singkat itu seketika mengundang tatapan bingung dari semua orang yang hadir di sana. Termasuk Erik yang duduk di samping kanannya dan Laurent yang berada di sisi kirinya.

​"Rev," bisik Erik pelan, menyenggol kaki Revan di bawah meja.

​Revan masih diam.

Lihat selengkapnya